Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 203


__ADS_3

Malamnya Vano memanggil Ethan ke ruang tengah untuk membicarakan soal Vallen lagi.


"Vallen tinggal tidak jauh dari sini, kau tau? Dia adalah wanita karir yang memiliki banyak prestasi saat ini, dia sedang dibicarakan banyak media karena kepintaran otaknya memutar dana perusahaan yang sempat jatuh akibat robohnya pertahanan di negara kita waktu itu dan sekarang Vallen menjadi pembisnis sekaligus motivator, selain wajahnya yang cantik dan membuat banyak orang terpesona Vallen ternyata memiliki usaha kosmetik yang besar dan terkenal disini" tutur Ethan panjang lebar membacakan hasil kutipannya di media media.


"Status sekarang?" Tanya Vano.


"Mm menurut informasi yang ku baca Vallen sepertinya tidak memiliki pendamping karena dia menutup rapat permasalahan itu" jawab Ethan.


"Tempat tinggalnya?"


"Tidak bisa ku jelaskan tapi aku tau jalannya"


"Besok pagi kita akan kesana" ucap Vano.


"Kau yakin? Bagaimana jika dia,,,"


"Aku lelah diabaikan Ethan, setidaknya biarkan aku berjuang untuk mendapatkan dirinya kembali, dia tidak mau akan ku paksa sampai dia mau" ucap Vano.


"Kau,,, jangan berbuat aneh-aneh!"


Ethan sepertinya tau rencana busuk Vano untuk menjemput Vallen kembali. Dia bisa melihat itu dari seringai tipis pria itu.


Didalam kamar lain Excel menerima pesan dari Vero, keduanya langsung memanggil Vero melakukan panggilan video diponsel mereka.


"Hay" sapa Excel.


Vero hanya menanggapi dengan senyum tipis, jika dilihat dari baground kamarnya Vero kemungkinan anak orang kaya.


"Kau sudah kembali ke rumah mu?" Tanya Tristan.


"Yaa semua ini karena orang yang menabrak ku didepan pintu jadi pengawal menangkap ku" jawab Vero pasrah.


"Oh, apa kau disiksa dirumah mu sampai sampai kau kabur?" Tanya Excel.


"Tidak"


"Lalu?"


"Entahlah"


"Sedang apa?" Tanya Tristan.

__ADS_1


"Buta? Tidak lihat sedang duduk" jawab Vero ketus.


Excel dan Tristan saling menatap dengan tatapan bodoh, kenapa kecerdasan mereka tiba-tiba berkurang ketika berbicara dengan Vero.


"Besok kau sibuk? Ayo pergi bermain" ajak Excel.


"Sepertinya didepan rumah ku penuh pengawal aku tidak jamin bisa keluar" ucap Vero.


"Mau ku bantu?"


"Aku bisa menanganinya sendiri, tunggu didepan hotel kalian saja" jawab Vero datar.


"Kak sedang menghubungi siapa?"


Vero langsung memiringkan layar komputernya.


"Dengan guru privat, keluarlah jangan mengganggu" ucap Vero.


"Baiklah"


Vero kembali memutar komputernya agar Excel dan Tristan melihat dirinya.


"Siapa?" Tanya Tristan.


Tristan sudah menusuk buku sedari tadi karena jawaban dingin dan singkat Vero padanya.


"Apa kami mengganggu?" Tanya Excel.


"Tidak tadi seseorang tidak sengaja lewat didepan kamar"


"Baiklah,,,,"


"Excel tidur kenapa masih bangun" ucap Vano masuk kedalam kamar Excel dan Tristan.


"Sedang berbicara dengan siapa? Ibu?" Tanya Vano.


"Bukan pa ini teman baru Excel dan Tristan, kami baru saja bertemu"


"Oo iya? Boleh papa berkenalan dengan teman baru mu?" Vano mendekat keduanya.


"Tentu saja" Excel memberikan ponselnya pada Vano.

__ADS_1


"Hay" sapa Vano.


Vero tersenyum tipis seperti yang ia lakukan tadi pada Excel dan Tristan.


"Siapa namamu?" Tanya Vano.


"Vero"


"Ah ya Vero perkenalkan aku adalah papanya Excel" ucap Vano berusaha seramah mungkin.


Vero kembali tersenyum tipis sembari mengangguk, Vano sampai bingung mencari topik pembicaraan seperti apa.


"Apa kalian teman baik?" Tanya Vano basa basi.


"Tidak juga" jawab Vero datar.


"Lalu?"


"Kasihan saja melihat mereka tidak ada teman bermain"


Setidaknya Vero bisa berbohong sedikit saja untuk menghibur orang tua dari teman barunya tapi sangat mustahil.


"Vero are you still awake?"


"I'm going to sleep grandma"


"I went inside okay?"


"no need"


"Okay good night honey nice dream"


"Thank you, good night grandma"


Vano terdiam selama mendengar percakapan dua orang itu.


"Siapa?" Tanya Vano padahal dia sudah tau.


"Nenek ku" jawab Vero.


"Baiklah ini sudah malam sebaiknya kalian lanjutkan besok selamat malam"

__ADS_1


Vero mengangguk datar menatap Vano, dia hafal betul wajah Vano adalah orang yang menabraknya tadi tapi Vano mungkin tidak tau karena Vero menggunakan pakaian serba tertutup dan wajahnya tidak terlihat sama sekali.


__ADS_2