Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 116


__ADS_3

Tiga hari kemudian, kondisi rumah utama dan kedua Salvatrucha aman dan tentram apalagi dengan rencana Vano yang akan melamar Vallen besok ini, segala persiapan telah ia lakukan termasuk rela tidak bertemu dengan kekasihnya beberapa hari ini.


Jika keadaan rumah Salvatrucha aman sentosa berbeda dengan kediaman putra, Ethan disana sudah sangat jenuh pasalnya kakek putra ini sangat sulit di kelabui, Ethan telah menyerang dengan beberapa cara namun tetap saja gagal.


"Sudah diberikan sianida belum saja kapok, sudah ku jebak dengan lubang besar tetap lolos, sudah ku buatkan kuburan belum mati mati" gumam Ethan kesana kemari.


"Jika kakek menyebalkan ini benar benar sakit aku pasti merawatnya dengan baik tapi masalahnya dia hanya pura pura, cctv tidak aktif tentu saja dia semakin semena mena pada ku tapi jika aktif pasti aku akan kerepotan beradu akting dengan nya" imbuh Ethan memegang dagunya memperhatikan putra yang sedang santai menonton televisi.


Muak terus-menerus berada di rumah itu Ethan akhirnya mengambil jalan pintas, dia keluar menuju mobil untuk mengambil sesuatu dan kembali masuk kedalam.


"Selamat pagi kakek" sapa Ethan tersenyum manis mengambil remote lalu mematikan televisi.


"Hey bocah jangan ganggu aku, pergi sana!" Ucap putra ketus.


"Kakek jangan seperti itu, mari kita duduk lalu bernegosiasi" kata Ethan meletakkan tas jinjing ditangannya.


"Bernegosiasi soal apa? Kau ingin mengancam ku?" Tanya putra sinis.


"Tidak tidak kakek terlalu berpikir negatif tentang cucu mu, begini kek bagaimana jika kau membiarkan ku keluar dari rumah ini"

__ADS_1


"Cihh tidak akan!!" Jawab putra.


"Mm aku akan membawakan pelayan pelayan cantik dan seksi jika kau membiarkan ku keluar" kata Ethan dengan tatapan nakal.


"Kau pikir aku akan tergoda? Jangan mimpi" putra tetap pada pendiriannya.


"Akan kuberikan uang dan saham?"


"Aset ku sudah diserahkan pada ayah mu, artinya aku tidak butuh itu!!" Jawab putra ketus.


"Aiiihhh jalan pintas saja!!" Ucap Ethan kesal membuka tasnya lalu mengeluarkan bom beserta remote control.


"Hey bocah kau gila!!!" Teriak putra.


"Cihh memangnya kau berani?" Tanya putra tersenyum sinis.


"Lebih baik aku mati daripada menghadapi mu terus, aku menyesal tidak memilih menikah dengan Sarah daripada menemani mu disini!!!" Teriak Ethan frustasi lalu mengaktifkan tombol aktif bom.


"Ka,,,kau aiiihh bocah nakal ini kau pikir nyawa ada berapa seenaknya mengaktifkan bom!!" Teriak putra panik bukan main melihat waktu meledak bom di meja terhitung mundul dari tiga menit.

__ADS_1


"Sudahlah mari kita nikmati hidup ini kek" ucap Ethan dengan santainya merebahkan tubuh di sofa sambil memejamkan mata.


"Cucu kurang ajar!! Cepat jinakkan bom ini!!"


"Tidak sebelum kau mengizinkan ku keluar dari rumah ini" ucap Ethan tersenyum tipis.


"Ba,,, baiklah baiklah tapi jinakkan bom ini terlebih dahulu!!"


Ethan tersenyum lebar lalu mengangkat tubuhnya dan mulai menjinakkan bom, hatinya seperti berbunga bunga akan keluar dari neraka itu.


"Sudah!!" Teriak Ethan tertawa renyah.


Pagi pagi putra harus senam jantung karena kelakuan cucunya yang satu ini, mungkin sepanjang sejarah hanya dia yang berani melakukan hal nekat itu.


"Sudah puas? Keluar sekarang!!" Ucap putra masih memegang dadanya.


"Dengan senang hati"


Cup!!

__ADS_1


Ethan mencium pipi kakek nya sebelum meninggalkan ruangan membawa alat alatnya.


"Dulu ayah mu mengancam ku akan membuatkan bom sekarang anaknya yang mengabulkan, ahh menyebalkan semoga aku sudah mati ketika cicit ku sudah ada, dia pasti lebih mengerikan dari Andre dan Ethan" gumam putra menatap kepergian Ethan.


__ADS_2