Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 25


__ADS_3

Hingga larut malam Vallen tidak kembali kerumah, Vano sudah menyusuri jalan beberapa kilometer namun gadis yang dicarinya tetap saja tidak ada.


Vano berharap Vallen sedang berjalan-jalan mencari jalan pulang tapi sepertinya tidak mungkin karena CCTV yang terhubung dengan ponselnya tidak menangkap apapun.


"Dia tidak mengenal siapapun disini, kemana dia" gumam Vano menggigit jarinya melihat kearah jalanan dengan wajah khawatir, Ethan pun memperhatikan itu sedari tadi.


"Apa kita kembali saja? Kita akan melanjutkannya besok" ucap Ethan dengan sangat hati-hati agar tidak menyinggung bos-nya.


Tidak ada jawaban, itu artinya lanjutkan mencari Vallen hingga Ethan kesal mengelilingi kota berkali kali namun hasilnya nihil.


Tring,,,tring,,, tring


Vano mendapat panggilan dari Vira namun tidak terlalu ia perhatikan sehingga Ethan lah yang mengambil ponsel didepannya.


"Halo bunda" sapa Ethan mendekatkan ponselnya didekat telinga.


"Ethan? Kenapa kau yang mengangkat ponselnya nak? Vano dimana?" Tanya Vira lembut.


"Sebentar bunda" Ethan langsung memberikan ponsel itu pada Vano.


"Halo, Vano kau mendengar umi?" Tanya Vira memastikan.


"Iya umi ada apa" jawab Vano datar.


"Kau dimana? Umi cari tidak ada dirumah"


"Umi sudah pulang? Kenapa tidak memberitahu Vano?" Tanya Vano dengan nada ketus.


Vira sendiri heran mendengar suara putranya yang sedang tidak baik saat ini, pasti ada yang tidak beres selama ia pergi.


"Ayo pulang sayang, umi tunggu dirumah dan ajak Vallen" ucap Vira mengalihkan pembicaraan.


"Vallen tidak ada dirumah umi, Vano sudah menyuruhnya keluar!!" Ujar Vano tanpa senyum sedikitpun.


"Baiklah, pulang secepatnya ya sayang. Umi tunggu" kata Vira tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan putranya selama itu masih didalam batas wajar.

__ADS_1


Vano membuang ponselnya sembarangan lalu memerintahkan Ethan untuk kembali, mungkin pencarian Vano akan dilanjutkan esok hari entahlah.


Karena Vira baru saja pulang Vano memutuskan untuk pulang kerumah orangtuanya walaupun jaraknya hanya sejengkal tetap saja itu sesuatu hal yang langka.


"Assalamualaikum" ucap Vano lalu duduk di sofa dengan ekspresi yang tidak bisa di ungkapkan.


"Waalaikumussalam"


Vira dan Vino saling menatap melihat putranya sedang tidak mood berbicara, Vino memang tidak pernah akur dengan Vano tapi untuk urusan sikap dan lainnya Vino mengerti seratus persen jika putranya sedang ada masalah.


"Vira bisa ambilkan teh?" Ujat Vino lembut.


Vira mengangguk lalu pergi membuatkan teh untuk anak dan suaminya, sedangkan dua orang dengan wajah datar itu saling menatap tanpa ekspresi.


"Kenapa dia bisa pergi?" Tanya Vino membuka percakapan.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan, orang kejam memang tidak pantas tinggal dirumah ku" jawab Vano mengalihkan pandangannya.


"Cih jika memang suka kenapa harus dibuang" ucap Vino tersenyum sinis.


"Sudahlah aku dan kau sebenarnya satu orang yang terbelah menjadi dua, aku tau apa yang pikirkan. Kau menyukainya sejak awal tapi karena ada perbedaan kau berusaha untuk menjauh darinya. Benar??" Tebak Vino, sebenarnya ia tidak perlu menebak karena memang itu benar.


"Tidak!!" Bantah Vano tegas.


"Vano dengar, jika kau menyukainya tuntun dia, perkenalkan dia dengan dirimu tapi bukan mengajak ataupun memaksa. Lihat umi mu, dia tidak pernah mengajak Abi kejalan nya tapi dia memperkenalkan abi dengan dunianya. Sampai disini kau paham?" Tutur Vino terlihat serius memberikan wejangan untuk putranya.


"Dia seorang pembunuh, aku tidak mungkin menyukainya" bantah Vano lagi.


"Seperti yang kau ketahui itu bukan keinginannya" ucap Vino.


"Dan jangan terlalu lama biarkan dia diluar, ada banyak musuh yang sedang mengincarnya apalagi Vallen adalah pembunuh handal dan kau akan menyesal jika bosnya sudah menemukan Vallen lalu membawanya kembali untuk melakukan pembantaian tanpa batas" gertakan Vino berhasil membuat Vano bungkam.


Apa yang selama ini dipikirkan olehnya ternyata dipikirkan juga oleh Vino, walaupun Vino terkesan cuek bebek tentang putranya tapi sebenarnya Vino selalu mengontrol Vano dari jarak jauh.


"Ku dengar ada yang sedang membahas perempuan disini" saut Vira dari arah samping membawa teh.

__ADS_1


"Sudahlah, umi Vano pulang" ucap Vano berdiri lalu membuka kain penutup wajah uminya dan mencium kening, pipi kiri dan kanan Vira.


"Pulang pulang saja tidak perlu mencium!!" ujar Vino melempar bantal kearah Vano.


"Cih" Vano berlalu tanpa perduli gerutuan abinya yang mencium Vira.


"Hati hati sayang!!" Ucap Vira sedikit berteriak.


"Tidak perlu mengatakan itu, rumah mu dengan rumah ku jaraknya bisa di ukur dengan penggaris!!"


Vano kembali kerumahnya untuk melakukan pencarian dari rumah, entah itu melalui informasi cctv yang ia ambil dari beberapa toko.


"Daripada mencari Vallen bagaimana jika kita membantai mafia lainnya?" Ucap Ethan memberi solusi agar wajah Vano berubah sumringah.


"Ku dengar kau mengambil kasus yang sama dengan kasus Vallen" ujar Vano tertarik dengan ucapan anak buahnya.


"Aku sangat amat penasaran, kenapa? Karena Vallen kedua sudah muncul" kata Ethan memijit dagunya.


"Vallen kembali kesana?" Tanya Vano sampai berdiri karena terkejut.


"Bukan, tapi dunia gelap sedang heboh dengan pengganti Vallen yang kemampuannya hampir sama dengan Vallen" jawab Ethan ikut terkejut dengan reaksi Vano.


"Apalagi ini!" Gumam Vano kembali berpikir keras untuk memecahkan misteri dibalik kehidupan Vallen.


"Jika kau ingin mengambil kasus ini aku akan memberitahu pengawal"


"Baiklah, ayo!!"


"Eeehh bukan malam ini tapi besok siang" kata Ethan menghalangi Vano yang ingin beraksi.


"Ck lalu apa yang akan ku kerjakan malam ini hah!!" Vano kesal belum bisa menghilangkan wajah Vallen seharian ini.


"Tidur bos memangnya apalagi, ini sudah jam 03.00" ucap Ethan.


Vano baru sadar ternyata dia sudah terbiasa menemani Vallen tidak tidur semalaman hanya untuk bertanya jawab hal hal konyol sekaligus memberi pengetahuan untuk gadis itu tentang kehidupan bumi yang layak.

__ADS_1


🌿🌿


__ADS_2