
Keesokan harinya Vano dan Farel bersiap siap menuju suatu tempat yang mereka curigai sebagai tempat persembunyian tuan Richard dan putrinya.
Berdasarkan hasil pencarian Ethan memang ada data penerbangan Rifka dan tuan Richard keluar negeri namun data data yang ia cari disekitar kota kosong.
"Bagaimana persiapan nya?" Tanya Vano.
"Senjata ada dibagasi, penembak jitu sudah berada di lokasi" jawab Ethan memberikan dua pistol untuk Vano.
"Bagus dimana Farel kenapa belum kembali"
"Mmm sebaiknya kau jangan mengganggu dulu karena" Ethan ragu melanjutkan kalimatnya.
"Bagaimana bisa kita mengambil kasus ini bertiga, aku bukan takut dengan tuan Richard tapi tanggung jawab nya dimana" ucap Vano kesal.
"Masalahnya Farel sedang,,,,"
"Urusan sepenting apapun tidak boleh ia tinggalkan begitu saja"
"Farel baru mendapat kebahagiaan sebagai seorang suami, kau ingin mengganggunya? Jika kau berada diposisi Farel pasti akan marah juga" ujar Ethan.
"Ma,,, maksudmu?"
"Pikir saja sendiri" jawab Ethan mendahului Vano keluar rumah.
"Hey aku belum pamit dengan istriku!!" Teriak Vano.
"Aku juga" kata Ethan kembali masuk menuju kamarnya dan Sarah.
Sedangkan Vano berjalan ke kamar Vallen, dia khawatir dengan kondisi istrinya yang sedikit aneh beberapa hari belakangan ini.
Tok,,,tok,,,tok
"Sayang buka pintunya" ucap Vano.
__ADS_1
Ceklek
Vallen keluar dengan pakaian tidur seperti biasa, tatapan gadis itu tidak secerah biasanya kali ini mungkin dia masih marah Vano terlalu menggampangkan soal waktu.
"Sudah shalat?" Tanya Vano lembut sembari mencium punggung tangan Vallen.
Vallen mengangguk datar walau Vano melakukan adegan romantis.
"Maaf sayang tadi malam aku pulang terlambat, janji nanti malam tepat waktu" kata Vano penuh penyesalan.
"Tidak percaya" Vallen melepas genggaman Vano dari tangannya.
"Janji sayang tidak akan lagi, maaf ya ya ya ya" Vano memasang wajah puppy eyes nya didepan Vallen, entah sejak kapan pria itu pintar menggunakan ekspresi haram ini.
"Hmm baiklah tapi sebelum pergi aku ingin meminta sesuatu yang harus kau kabulkan"
"Apa sayang katakan" ucap Vano antusias.
"Aku ingin makan manusia boleh?"
"Aku ingin menggigit mu"
Vano memegang kening istrinya siapa tau ada gejala kanibal dalam diri Vallen.
"Tidak mau ya sudah" Vallen bergerak menutup pintu namun dihalangi oleh Vano.
"Eeehh mau kemana aku belum selesai, gigit saja tidak masalah tapi kenapa? Kau lapar?" Tanya Vano.
Vallen tidak ingin meladeni pertanyaan Vano, dia langsung menggigit jari tengah suaminya sekuat tenaga.
"Ya Allah ya Rabb!!" Vano sampai memukul tembok melihat tangannya hampir berdarah.
"Sudah selesai" kata Vallen santai.
__ADS_1
"Ssshh sudahkan? Sudah puas?" Tanya Vano meringis meniup jari jarinya.
"Belum, Abi, om Andre, om, Faris, umi, mama 1 mama 2 belum dapat bagian" jawab Vallen tercengir kuda.
"Hahh?? Me,,, mereka juga" kata Vano heran.
"Aku marah" Vallen memutar tubuhnya masuk kedalam kamar.
"Eehh ya ya baiklah gigit saja sesukamu jika mereka marah katakan saja aku yang suruh" ujar Vano masih meniup tangannya.
"Terimakasih sayangku nanti saat pulang belikan sapi ya" kata Vallen mencium pipi suaminya lalu berlari lari kecil menuju rumah utama.
"Sapinya yang hidup atau yang mati?" Tanya Vano sedikit berteriak.
"Terserah" jawab Vallen.
"Vallen gigit om Andre dulu sebagai bahan percobaan"
"Siap bos"
"Ya Allah begini sekali memiliki istri beda spesies" gumam Vano menatap jari tengahnya.
Beberapa menit berlalu Vano dan Ethan kembali berkumpul di ruang tengah, keduanya keluar menuju mobil lalu pergi meninggalkan rumah.
Tepat didepan gerbang Ethan memperhatikan rumah utama dan apa yang terjadi? Vallen sedang kejar kejaran dengan Vino, Faris dan Andre yang sedang berolahraga diluar.
"Mereka kenapa?" Tanya Ethan heran.
"Sedang bermain kejar-kejaran" jawab Vano datar.
Ethan mengangkat bahu karena tidak tahu menahu soal itu lalu menjalankan mobil ketempat tujuan.
Sekitar dua jam ketiganya sampai ditempat yang mereka curigai adalah tempat persembunyian tuan Richard dan Rifka.
__ADS_1
Kali ini Farel ikut karena diperjalanan tadi dia meminta untuk dijemput oleh Ethan jadi ketiganya bisa saling melindungi jika serangan datang.