
Yaah beberapa hari ini Vallen sudah benar benar pulih dan infus nya pun sudah dilepaskan dua hari yang lalu, tapi yang jadi masalah utamanya adalah Vano. Dia tidak mengizinkan Vallen pergi dari rumah utama Vino Salvatrucha.
"Apa apaan ini, tidak bisa kembalikan pakaian mu!!" Titah Vano kesal sembari melempar tas yang dipegang oleh pelayan.
"Vano tidak boleh seperti itu, Vallen harus pulang ke rumah orangtuanya. Dulu Vallen tinggal disini karena tidak memiliki keluarga" saut Vira mencoba membujuk putranya.
Semua sudah kesal melihat Vano terus mempertahankan Vallen untuk tetap dirumahnya.
"Lagipula kalian belum menikah kan" sambung Vira.
"Ya sudah menikah saja sekarang" jawab Vano dengan gampangnya bercampur wajah frustasi.
"Heuh?? Tidak semudah itu ferguso" saut Vino kesal.
"Kenapa abi? Farel saja bisa menikah dalam waktu satu malam kenapa Vano tidak bisa" jawab Vano tetap mempertahankan Vallen.
"Iisshh lagi lagi disangkut pautkan dengan ku" saut Farel.
"Kau ingin pergi?" Tanya Vano menatap Vallen.
Vallen menunduk lalu mengiyakan pertanyaan Vano, ini semakin membuatnya kesal.
"Pergi sana!!" Ucap Vano lalu mengambil koper dan tas yang tadi ia lempar dan memberikan nya pada Vallen dengan sedikit kasar.
"Jangan kembali!!" Imbuh Vano dan pergi ke kamarnya.
Braakk!!!
Semua memejamkan mata mendengar suara bantingan pintu yang cukup keras.
"Pa ma boleh Vallen pergi sebentar? Lima menit saja" pinta Vallen pada Bela dan David.
Keduanya mengangguk begitu juga Vira dan Vino yang memberi izin.
"Apa putramu selalu masuk kamar jika sudah marah?" Tanya David datar.
__ADS_1
"Siapa bilang! Itu hanya topeng agar tidak berbuat kasar" jawab Vino tidak ingin melihat keluarganya lemah.
David mengangkat bahu lalu duduk disofa menunggu putrinya kembali. Disisi lain Vallen sudah masuk kedalam kamar, terlihat Vano sedang tidur dengan menutup seluruh tubuh menggunakan selimut tebal.
"Va,,,Vano" panggil Vallen ragu.
Tidak ada jawaban, hening sekali hingga membuat bulu kuduk Vallen berdiri.
"Va,,, Vano" panggil Vallen kali ini dengan nada lembut.
Vano membuka selimutnya dan menatap datar keatas, pria itu persis seperti anak kecil yang sedang kesal karena kalah berdebat.
"Mm k,,,kau"
"Tidak boleh pulaaangg" rengek Vano seperti bocah.
"Heuh??" Vallen terkejut melihat sisi kekanakan Vano yang seperti itu.
"Vano kita tetap bisa bertemu bukan kenapa kau seperti ini"
Vallen duduk dibawah ranjang Vano lalu melipat kedua tangannya persis dipinggir kasur.
"Kau tau dari dulu aku merasa sangat kesepian, tidak ada manusia yang ingin mendengar jeritan ku tapi setelah bertemu dengan mu aku merasa dunia itu indah bahkan sangat indah"
Huuhh
"Tapi tetap saja rasa sepi itu selalu menggerogoti diri ku, aku merasa ada yang kurang dalam hidup ini dan setelah aku bertemu dengan mama papa ternyata mereka obat dari penyakit ku yang satu ini" tutur Vallen dengan sangat pelan.
"Apa kasih sayang dari umi dan abi belum cukup? Kasih sayang dari ku belum cukup?" Tanya Vano sinis.
"Hey tentu saja cukup tapi ini tidak bisa disamakan, kasih sayang orang tua itu terasa spesial umi, abi, papa, mama memiliki tempat masing masing di hati ku" jawab Vallen.
"Lalu aku dimana?" Tanya Vano.
"Disini" jawab Vallen menunjuk jantungnya.
__ADS_1
Vano menghadap ke arah lain menyembunyikan senyum yang tidak bisa ia kontrol untuk keluar, terasa seperti ABG tapi kuadrat orang jatuh cinta memang seperti itu.
"Dirumah mu tidak boleh keluar tanpa seizin ku, jika tidak diberi makan oleh mereka beritahu aku, agar aku langsung mengadopsi mu" ucap Vano memberikan sinyal sinyal izin untuk Vallen meninggalkan rumahnya.
"Iisshhh tapi bagaimana jika aku rindu" imbuh Vano kembali frustasi dan memanyunkan bibirnya.
"Kita akan bertemu setiap hari" ujar Vallen.
"Janji?"
"Iya janji" jawab Vallen asal Vano senang.
"Baik, pergilah hati hati" kata Vano pasrah.
Vallen berdiri dari duduknya karena merasa sudah mendapat izin tanpa ada masalah.
"Kau tidak ingin mengantar ku?" Tanya Vallen.
"Tidak, aku takut berubah pikiran pergilah, nanti malam aku akan kerumah mu" jawab Vano.
Vallen mengangkat bahu membiarkan Vano berbicara semaunya.
"Coba lihat tangan mu" kata Vallen.
"Untuk apa?"
"Lihat saja"
Vano mengulurkan tangannya lalu Vallen dengan senang hati mengambil tangan Vano dan mencium punggung tangan pria itu.
Astaghfirullah Astaghfirullah Astaghfirullah hamba kuat ya Allah. Batin Vano
"Assalamu'alaikum" ucap Vallen yang kembali membuat Vano merasa jantungan dengan sejuta pesonanya.
"Wa,,,,wa,,,waa tolong tutup pintunya" ujar Vano sambil memegang dada.
__ADS_1
Waalaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh. Batin Vano