Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 151


__ADS_3

Setelah beberapa drama selesai ketiga pasutri sudah berkumpul diruang keluarga, pintu tertutup rapat dan didalam sudah ada Vino, Faris, serta Andre yang sudah berdiri tegak dengan membawa kertas.


"Abi kalian sebenarnya ingin berbicara apa?" Tanya Vano datar.


"Baiklah berhubung semua sudah berkumpul kami bertiga akan mengadakan kuliah untuk kalian dan ini berlaku untuk semua" tutur Vino.


Para pasangan saling menatap satu sama lain, mereka belum menangkap ucapan Vino.


"Pertama tama untuk pasangan Ethan dan Sarah selamat karena berhasil melewati ujian pernikahan diawal awal, kedua selamat pada kalian semua telah merasakan nikmatnya malam pertama" tutur Faris.


Zea dan Farel saling menatap kembali dengan senyum tipis, keduanya tampak canggung setelah Faris berbicara mengenai malam pertama.


"Itu saja? Menyesal aku datang kemari" saut Vano.


"Eits bukan hanya itu, berhubung istri kalian masing masing masih sangat muda kami memiliki beberapa peraturan yang harus dipatuhi, Andre bacakan!!" Titah Vino.


"Baiklah peraturan pertama istri kalian tidak boleh hamil sebelum usia 20 tahun ke atas karena resiko hamil muda cukup tinggi, kedua saat bertengkar tidak boleh mengungkit cerai atau kabur, ketiga para istri boleh memarahi suami jika pulang diatas jam 10 malam, keempat suami harus memenuhi seluruh kebutuhan istri dan begitu sebaliknya, kelima hanya itu sekian" tutur Andre panjang lebar.


"Ada pertanyaan?"


"Bagaimana jika keterusan hamil?" Tanya Vano.


"Yaa usahakan jangan" jawab Vino.


"Tapi,,,, kau sudah meminum obat?" Tanya Vano berbisik pada istrinya.


"Aku tidak sakit" jawab Vallen santai.


"Aduuh mampus" Vano menepuk keningnya, dia lupa masalah itu dan tidak pernah membeli obat penunda kehamilan.


"Memangnya kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Vallen dengan polosnya.


"Diam sayang, nanti akan dijelaskan" jawab Vano frustasi memegang kepalanya.


"Bagaimana jika tidak pernah merasakan malam pertama?" Tanya Farel datar.


Semua mata mengarah pada Farel karena pertanyaan konyolnya.

__ADS_1


"Pertanyaan konyol macam apa itu" jawab Andre ketus.


"Serius ayah ini bukan lelucon" ucap Farel kesal karena tidak ada yang percaya.


"Sudahlah abaikan pertanyaan konyol manusia ini, ada yang ingin kalian sampaikan lagi?" Tanya Faris menatap tiga pasangan secara bergantian.


"Aku tidak tau kalian peduli atau tidak tapi beberapa hari kedepan aku akan pergi dengan Sarah kerumah nya dipinggir kota" jawab Ethan.


"Tidak!! Atas izin siapa kau boleh pergi, diam disini!!" Sanggah Vano langsung menolak mentah-mentah.


"Hanya beberapa hari Vano tidak lama"


"Pergilah aku bersyukur kalian tetap bersama, aku tidak menyesal telah membuat surat pernikahan untuk kalian" saut Vallen tersenyum manis.


"Terimakasih!" Jawab Ethan ikut tersenyum.


Sebentar!! Ethan memudarkan senyumnya setelah mencerna makna ucapan Vallen.


"Jadi kau dalang dibalik semua ini? Kemari aku akan membuat perhitungan dengan mu" ujar Ethan kesal setengah mati.


"Hey tunggu urusan kita belum selesai Vallen!!!" Teriak Ethan ikut menggenggam lengan Sarah untuk mengejar Vano keluar.


"Masalah lagii ya Allah kapan keluarga ini tenang, yang satu belum malam pertama yang satu mengejar pelaku yang menikahinya, anak ku menantu ku tidak ada yang benar semua" gerutu Andre.


Ketiganya menyusul Ethan, pasti akan terjadi peperangan besar diluar sehingga mereka harus turun tangan lagi.


Namun untuk Zea dan Farel keduanya hanya diam menatap satu persatu orang yang keluar dari ruang keluarga.


"Mm kita tidak ikut?" Tanya Zea.


"Pergilah jika kau ingin" jawab Farel.


"Kakak bagaimana?"


"Aku sedang memeriksa berkas berkas kantor jadi pergilah kau pasti bosan jika disini terus" jawab Farel mengelus rambut Zea.


"Baiklah Zea tinggal sebentar ya kak"

__ADS_1


Cup


Zea meninggalkan ciuman di pipi suaminya sebelum benar-benar menghilang dari pintu, Farel hanya menanggapi dengan senyum manis lalu melanjutkan pekerjaannya.


Ceklek


Faris terlihat masuk kedalam ruang keluarga kembali dan duduk didekat putranya.


"Butuh sesuatu pa?" Tanya Farel tanpa menatap papanya.


"Kau benar benar belum menyentuh istrimu?" Tanya Faris tanpa basa-basi.


"Tidak tega pa, masih kecil mungil seperti itu" jawab Farel.


"Jangan bohong, diusia mu yang sudah matang seperti ini pasti sangat sulit"


Farel menghentikan tangannya bermain ponsel lalu menatap Faris.


"Farel tidak mau memaksa pa, kapan Zea siap baru Farel lakukan" ujar Farel.


"Seperti nya Zea juga tidak keberatan"


"Iya Zea tidak keberatan tapi mentalnya yang belum siap, Farel tidak ingin merusak segalanya pa, mental batin dan fisik nya belum matang sama sekali"


"Kenapa kau tidak melatihnya? Misalnya dengan berciuman?"


"Lihat bibir ku? Hampir luka karena melakukan itu setiap hari" jawab Farel tersenyum tipis.


"Lalu bagaimana reaksinya?"


"Yaa setidaknya Zea terbiasa dengan itu, dia mengerti jika aku diam itu tandanya aku butuh asupan"


"Kau hebat! Bisa menunggu nya siap itu bukan hal yang mudah, pernikahan kalian hampir berjalan setengah tahun dan kau tidur berdua setiap hari" ujar Faris


"Aku memang hebat jangan diragukan lagi" jawab Farel dengan bangganya.


"Cih!!" Faris langsung meninggalkan Farel yang sudah hampir sebelas dua belas dengan Vano, selalu memuji diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2