Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 73


__ADS_3

Ditengah perjalanan Vano merasa tidak asing dengan jalanan yang mereka lewati, tempat itu sangat sering ia lalui dulu.


"Apa kita menuju kediaman Ferrero abi?" Tanya Vano menatap sekeliling jalanan.


"Menurut mu?"


"Keturunan Ferrero hanya Fania abi jadi tidak mungkin, lebih baik kita ke istana Horowitz agar tidak memakan banyak waktu" jawab Vano resah.


"Lihat!!" Vino memberikan ponselnya dan menunjukkan pesan antara keluarga Horowitz dengan dirinya.


Vano melihat berlian yang sama persis di dalam pesan itu, artinya keluarga Horowitz tidak kehilangan asetnya.


"Ti,, tidak mungkin. Tuan David hanya memiliki satu anak dan itu adalah Fania" gumam Vano memutar otak untuk berpikir.


"Kita akan tau setelah masuk kedalam, ayo keluar" ucap Vino lalu membuka pintu mobil.


Ketiganya disambut hangat oleh para pelayan, rumah itu terlihat sedikit sepi karena hanya pelayan yang berlalu lalang.


"Silahkan tuan" kata para pelayan.


Ketiganya duduk di sofa yang telah disiapkan, Vano merasa asing dengan dekorasi rumah yang tidak memiliki warna sama sekali, dulu cat rumah itu sedikit berwarna.


Apa selera tante Bela seperti ini? Bukan seperti selera umi. Batin Vano

__ADS_1


"Apa tuan Ferrero ada disini?" Tanya Vino.


"Ada tuan saya akan memanggil tuan Ferrero sebentar" jawab pelayan dengan ramah lalu meninggalkan ketiganya.


Beberapa saat kemudian David dan Bela turun dari kamarnya, mereka terkejut dengan kedatangan tamu sekaligus rekan kerjanya itu. Rasanya sudah sangat lama mereka tidak datang semenjak pindahnya keluarga Ferrero keluar negeri.


"Selamat datang tuan Salvatrucha saya senang bisa mendapat tamu spesial hari ini" sapa David tersenyum ramah.


"Silahkan duduk" saut Bela.


Semua duduk ditempat masing-masing, Bela merasa aneh dengan kedatangan secara tiba-tiba tamu spesial hari ini.


"Apa anda butuh bantuan saya tuan Salvatrucha?" Tanya David masih dengan senyumnya.


"Abi,,,,"


Vino memberikan tatapan membunuh pada Vano agar tetap diam dan tidak mencari masalah.


Bela dan David saling menatap satu sama lain, keduanya terkejut dengan keinginan mendadak Vano.


"Ah sayang sekali Fania sedang melanjutkan pendidikan diluar negeri" saut Bela.


"Tidak masalah, bisakah anda memberikan nomor ponselnya?" Tanya Vino lagi.

__ADS_1


Apa rencana mu Abi, apa kau ingin menjodohkan ku dengan Fania? Aku tidak mau aahh sialan jangan jangan dia menjebak ku. Batin Vano


Lagi lagi Bela dan David saling memberi tatapan, keduanya tidak tau harus menjawab apa.


"Tuan nyonya? Kenapa anda diam?" Tanya Vino seakan akan mendesak keduanya untuk menjawab.


"Putri kami benar benar tidak bisa diganggu tuan, maafkan kami karena Fania harus extra dalam melanjutkan pendidikan" jawab David.


"Benarkah? Baiklah Vano tidak akan menghubungi nya" kata Vino dengan seringai liciknya.


David dan Bela menghela nafas pelan agar oksigen masuk dengan tenang.


"Tapi Vano akan datang ke tempat Fania belajar hari ini juga!!" Imbuh Vano.


David dan Bela membulatkan mata sempurna, mereka gelagapan tidak tau bagaimana harus mengendalikan Vino dan Vano.


Aah sepertinya aku mengerti arah pembicaraan ini. Batin Vano


"Baik Abi Vano akan pergi sekarang" saut Vano datar.


"Jangan!!" Ucap David dan Bela bersamaan.


"Kenapa? Ahh ya aku lupa bertanya satu hal. Bukankah kita memiliki aset bersama? Ini aset milik ku dan ini aset milik Horowitz lalu dimana milik mu tuan Ferrero?" Tanya Vino sembari mengeluarkan berlian miliknya berserta foto milik Horowitz.

__ADS_1


__ADS_2