
Kepala Vallen terasa berputar putar didepan Vano, sakit yang Vallen rasakan saat ini tidak sebanding dengan apa yang dirasakan Vano. Pasalnya seluruh tubuh Vallen bergetar hebat karena gadis itu tidak menuruti perintah alat untuk membunuh targetnya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Vano memegang kepala Vallen.
Vallen menepis tangan Vano agar tidak menyentuhnya karena dimatanya Vano tetaplah target utama dari misinya selama ini.
Vano memegang dadanya sebentar sebelum kembali memegang lengan Vallen namun hasilnya tetap sama Vallen menepis lengannya berkali kali.
"Bunuh dia!!" Itulah perintah dari alat yang digunakan Vallen saat ini.
"Aarrgghh!!!!" Vallen tidak kuasa menahan sakit di kepalanya dan langsung mendekati Vano lalu mencekiknya.
"Va,,, Vallen sadar!" Ucap Vano memegang tangan Vallen.
Vallen semakin menguatkan cekikannya hingga nafas Vano tercekat.
"Va,,, Vallen a,,,aku yakin kau bisa berjuanglah!" Kata Vano langsung meraih pinggang Vallen agar mendekat padanya.
"Maaf telah menyentuh mu terlalu berlebihan dan maaf jika kau merasakan sakit" ujar Vano lalu mencabut alat dibelakang kepala Vallen dengan tangan kirinya untuk mengehentikan kendali yang terus saja memerintah Vallen.
Perlahan cekikan tangan Vallen melemah, tidak ada lagi perintah yang menyakitinya, hanya tersisa perih dan sakit yang mengganggu syaraf syaraf otaknya.
Vano kembali melepas gelangnya perlahan sebelum Vallen terjatuh ke lantai dan pingsan, untung saja kepalanya sempat ditangkap oleh Vano.
"Kau kuat aku yakin itu!!" Ucap Vano ingin sekali mencium kening Vallen namun ia masih tau betul batasannya.
"Vano kau berdarah!!" Ujar Farel dari samping.
"Bantu Ethan menghabisi pria itu" kata Vano
"Tapi kau,,,,,"
__ADS_1
"Aku baik baik saja!! Pergi sekarang!" Teriak Vano menatap Farel dengan tajam.
Farel akhirnya mengalah dan berlari membantu Ethan untuk melumpuhkan Pian, disisi lain Vano pergi mengambil kain kedalam salah satu kamar lalu menutup tubuh Vallen agar tidak langsung menyentuh kulitnya, Vano sangat benci dengan orang yang memberikan Vallen pakaian serba terbuka saat melakukan aksi pembunuhan.
"Bertahanlah!" Ucap Vano lalu mengangkat Vallen sekuat tenaga menuruni anak tangga.
Sekuat kuatnya manusia jika kekurangan darah juga pasti akan lemah, begitu juga dengan apa yang dirasakan Vano, kakinya mulai tidak memiliki tenaga untuk berdiri tapi ia tetap berusaha membawa Vallen keluar dari rumah yang sudah penuh dengan korban.
Darah didada Vano terus mengalir tanpa henti, matanya mulai sayu tapi ia tidak ingin membuat tangannya lemah lalu melepaskan Vallen.
"Aaahhh!!!" Vano berteriak sekuat tenaga didepan pintu berharap ada yang mendengarnya.
Brugghh!!!!
Akhirnya Vano terjatuh bersama Vallen, tangannya tidak cukup kuat untuk menopang beban tubuh gadis itu. Dengan tangan gemetar nya Vano masih sempat memeriksa kepala Vallen yang terlihat berdarah.
"Jangan tidur terlalu lama" ucap Vano mengelus kepala Vallen lalu ikut tertidur disamping gadis itu.
Mata Vano benar benar sudah tidak kuat menahan rasa kantuk, rasanya mata itu ingin sekali tertidur untuk selamanya.
Tak berselang lama Vino dan Vira datang ke kediaman Ferrero, Vino menatap sekeliling yang sudah kacau
dan ketika mereka melajukan mobil masuk kedalam rumah David, Vano sudah tergeletak tepat didepan mobilnya.
"Vanoo!!!!" Teriak Vira menutup mulut melihat putra semata wayangnya tak berdaya.
Buughh!!
Keduanya langsung keluar, Vira tidak pernah melihat putranya selemah ini begitu juga Vino, kali ini Vino cukup khawatir dengan keadaan putranya yang penuh dengan darah.
"Sayang bangun!!" Kata Vira mengguncang tubuh Vano namun tidak ada respon.
__ADS_1
"Sayang sebaiknya kita bawa mereka kerumah sakit" ucap Vino berusaha tidak panik agar Vira berhenti menangis.
"Baiklah cepat bawa Vano ke mobil" ujar Vira sembari menutup dada putranya untuk menghentikan pendarahan.
Vino mengangguk cepat lalu mengangkat Vano terlebih dahulu baru setelah itu Vallen, dan tentu saja atas persetujuan Vira.
Mereka langsung membawa Vano dan Vallen kerumah, setelah dipikir pikir lebih jauh Vino memutuskan untuk membawa Vano dan Vallen kerumah utama karena Vallen sudah terlalu banyak kasus.
"Dokter bagaimana keadaan mereka?" Tanya Vira langsung berdiri dari sofa.
"Tidak cukup baik nyonya, pertama keadaan tuan Vano masih kritis karena kekurangan banyak darah dan kedua keadaan nona Vallen cukup mengkhawatirkan karena otaknya sudah terinfeksi alat pengendali" jawab dokter intan.
Vira lemas, tubuhnya tersungkur diatas sofa, dia tidak tau harus bagaimana.
"Hey semua ini pasti ada jalan jangan putus asa seperti ini" ucap Vino menguatkan istrinya.
"Dokter apa yang harus kita lakukan?" Tanya Vino menatap dokter intan.
"Pertama untuk tuan Vano kita harus melakukan transfusi darah agar kondisinya cepat stabil"
"Kedua untuk nona Vallen kita harus melakukan operasi untuk memperbaiki syaraf syaraf otaknya tapi,,,,," dokter intan agak ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Tapi apa dokter?" Tanya Vira.
"Resikonya cukup tinggi untuk operasi kali ini karena jika gagal nona Vallen akan,,,,," lagi lagi dokter intan ragu akan kalimat selanjutnya.
"Akan apa?" Saut Vino.
"Jika operasinya gagal nona akan mengalami gangguan otak dan menyebabkan orang menjadi tidak stabil atau gila" Tutur dokter intan.
Vira kembali masuk kedalam pelukan suaminya, cukup dengan mendengar keadaan putra putrinya Vira sudah lemas dan menangis dalam.
__ADS_1
"baiklah begini saja aku akan mendonorkan darah untuk putra ku dan untuk operasi Vallen itu bukan hak kami melainkan hak kedua orangtuanya" ucap Vino mengambil keputusan.
Jika saja Vano ada disana dan mendengar mereka pasti vano adalah satu orang yang paling menentang untuk operasi itu.