
Di lain tempat Vero sudah menunggu didepan hotel, dia berjalan mondar-mandir melihat jam tangannya.
"Hay haah,,,, haaah" Excel tersengal sengal keluar dari hotel.
"Setau ku dihotel tidak ada maling kenapa kalian berlari lari" ucap Vero.
"Kurang satu detik setengah, kalian ingin kemana akan ku ajak kesana" imbuh Vero lagi.
"Kami baru pertama kali kemari dan mungkin kami tidak tau sesuatu yang spesial disini"
"Ikut aku"
Vero mengajak dua temannya ke suatu tempat dengan berjalan kaki sembari menikmati pemandangan kota, raganya memang masih seperti anak anak tapi sikapnya tidak mencerminkan itu.
Sepanjang perjalanan Vero menjaga dua anak itu agar tidak berlari lari menabrak pejalan kaki.
"Disini?" Tanya Excel setelah melihat lokasi liburan mereka.
"Ya"
Vero duduk dikursi, dia mengajak dua anak itu ke taman bermain dan cukup ramai dikunjungi orang orang.
"Wow! Baru pertama kali aku ke tempat seperti ini" ucap Tristan.
"Kurasa kalian anak orang kaya mustahil kalian tidak pernah melihat tempat seperti ini" kata Vero dengan senyum sinisnya.
"Itu benar kami hanya bermain disekitar rumah kecuali saat papa libur dia hanya mengajak kami keliling kota" saut Excel.
"Waktu kalian tersisa 30 menit, bermain sepuasnya" kaya Vero mengalihkan pembicaraan.
"30 menit?"
"Kalian tidak ingin ke lokasi lain?"
"Aah ya baiklah, ayo"
"Kalian saja"
"Kau tidak ikut?"
Vero menggelengkan kepala dan memperbaiki Lisa duduknya.
"Kau yakin?"
"28 menit lagi"
Tanpa banyak bicara Excel dan Tristan berlari memasuki area permainan, mereka menaiki beberapa wahana yang ada disana.
"Dasar anak anak tidak berguna" gumam Vero melihat kekonyolan kedua anak itu.
Sedangkan didalam area Excel tertawa girang bermain prosotan sampai Tristan khawatir melihatnya.
"Hey hati hati jangan sampai keluar jalur"
"Aku hebat dalam hal ini jadi kau tenang saja" jawab Excel lalu meluncur kembali.
Dia melakukan hal yang sama hingga beberapa kali.
__ADS_1
"Aaww!!!"
Seperti ramalan Tristan, Excel terpeleset dan keluar dari jalurnya sehingga menyebabkan beberapa bagian tubuhnya terluka, Vero dengan cepat masuk kedalam.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Tristan.
"Aahh jangan dipegang sakit"
"Ceroboh!" Vero langsung menghujamkan pengawalnya untuk datang.
"Aku ditaman bermain, waktu kalian 5 menit untuk menangkap ku" ucap Vero.
"Dimana yang sakit?" Tanya Tristan khawatir.
"Aakkhh sepertinya tangan ku tergelincir" jawab Excel meringis kesakitan.
"Tuan muda ayo ikut kami pulang"
"Baiklah asal kalian membawanya kerumah sakit terlebih dahulu"
"Tapi,,,"
"Iya atau kalian akan mendapat masalah dirumah"
Tentu mereka takut dengan gertakan Vero karena setiap ucapannya tidak pernah ia ingkari.
"Baiklah tuan muda"
Akhirnya Vero, Excel, dan Tristan pergi kerumah sakit terlebih dahulu untuk memeriksa lengannya.
"Tidak perlu" Excel takut papanya akan marah besar dengan kejadian yang satu ini.
Sampai dirumah sakit pengawal membantu Excel hingga masuk kedalam ruang perawatan sedangkan Tristan dan Excel menunggu diluar.
"Om,,,"
"Kalian dimana" suara dingin Vano berhasil membuat tubuh Tristan beku.
"E,,, Excel om"
Vero merebut ponsel milik Tristan dan menggantikan nya berbicara.
"Halo tuan putra anda berada dirumah sakit, dia terjatuh di area permainan" ucap Vero.
"Apa?"
"Aku akan mengirim lokasinya segera"
Vero memutuskan sambungan lalu mengirim lokasi rumah sakit.
Beberapa menit berlalu Excel belum keluar, hanya ada suara teriakan dari dalam. Vano dan Ethan pun sampai ditempat, mereka langsung mendekati Tristan dan Vero.
"Excel dimana?" Tanya Vano dengan wajah khawatir.
"Masih didalam om" jawab Tristan menunduk.
"Kau,,, hey setiap kali aku melihat mu putra ku selalu mendapat masalah, kenapa kau selalu mengajak putra ku keluar dari hotel, kalian kira tidak bahaya keluar sendiri tanpa pengawasan orang tua?" Vano meluapkan kekesalannya pada Vero.
__ADS_1
"Kau juga Tristan, kalian masih kecil masih saja membantah dan kau Vero memangnya orangtua mu tidak marah jika kau keluar dari rumah? Apa mereka tidak mendidik mu untuk masalah yang satu ini?"
"Cukup!!" Vero turun dari kursi tunggu.
"Tuan anda tidak tau tentang diri saya jadi jangan pernah membahas seluk beluk keluarga saya sedikitpun!! Anda tidak ingin saya berteman dengan putra anda? Baik saya tidak akan menghubungi nya lagi, permisi"
Vero meninggalkan rumah sakit, entah datang darimana rasa sakit hati itu jika ada yang menanyakan privasi hidupnya.
"Om apa itu tidak keterlaluan?"
"Huusstt!!" Ethan melarang Tristan bertanya ketika Vano sedang emosional seperti ini, dia terlalu khawatir dengan keadaan Excel didalam.
Ceklek
"Dokter bagaimana keadaan anak saya?"
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tuan putra anda baik baik saja hanya terkilir sedikit" jawab dokter.
Vano langsung masuk kedalam dan melihat keadaan Excel.
"Sayang kau baik-baik saja? Dimana yang sakit?" Tanya Vano khawatir.
"Tidak ada yang sakit pa, ini hanya luka kecil" jawab Excel dengan senyum manis.
Excel melihat sekitar dan Vero tidak ada, seingatnya Vero ikut menunggunya tadi.
"Vero dimana pa?"
"Sudah pergi" jawab Vano.
"Kenapa pa Vero yang,,,"
"Sudah sayang jangan pikirkan yang lain lain sekarang ayo kembali ke hotel dan papa akan merawat mu disana"
"Tapi pa,,,"
"Excel!!"
"Baik pa" Excel menuruti keinginan Vano kali ini.
"Ethan bawa Excel dan Tristan ke mobil aku akan membayar tagihan"
Ethan mengangguk lalu menggantikan posisi Vano sedangkan dia sendiri pergi ketempat pembayaran obat dan segala macamnya.
"Atas nama Excel Horowitz"
"Maaf tuan pembayaran sudah dilakukan satu jam yang lalu"
"Siapa yang membayar?" Tanya Vano heran.
"Disini tertera nama Vero"
Vano beku sejenak dan dengan segera keluar menuju lobi rumah sakit. Langkahnya terhenti ketika melihat Bela dan David masuk kedalam sebuah ruangan.
Vano menghubungi Ethan agar ia pulang terlebih dahulu dan akan menyusul nanti setelah itu Vano mengikuti David dan Bela.
Sayang dia tidak bisa masuk karena ada pembicaraan penting yang harus David dan Bela bicarakan didalam. Terpaksa Vano menunggu sampai mereka selesai.
__ADS_1