
Vano baru berani masuk setelah duduk beberapa jam diluar menunggu Ethan tertidur pulas, didalam Vano melihat Ethan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Vano berjalan mendekati Ethan dan memperbaiki posisi selimutnya, namun saat kepala pria itu mulai terlihat Ethan belum tertidur, dia masih meringkuk memeluk ujung selimutnya.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Vano.
"Kakak ku dimana?" Tanya Ethan balik.
"Aku disini,,,,"
"Bukan kakak ku perempuan"
"Siapa? Katakan padaku, aku akan mencarinya" ucap Vano.
"Vano aku ingin pulang" Ethan mengalihkan pembicaraan secara tiba-tiba.
"Kau baru sadar dari koma mana bisa seperti itu"
"Aku baik baik saja, aku perlu menjelaskan sesuatu pada mu dan Farel"
"Iya jelaskan saja tapi nanti setelah kau sembuh"
"Aku sudah sembuh Vano, pembunuh itu bukan orang sembarangan dia bisa datang kapan pun dia mau" desak Ethan.
"Persetan dengan pembunuh, sudah sembuh kata mu? Berani kau bertemu dengan banyak orang? Hey Ethan bersabarlah"
"Aku tidak ingin berbicara dengan mu!!" Ujar Ethan ketus lalu memutar tubuhnya membelakangi Vano.
"Jangan seperti anak kecil ini untuk kebaikan mu sendiri"
"Ya intinya aku tidak ingin disini"
Haaahhh!!!
Keras kepalanya tidak akan pernah berubah, Vano dan Ethan sama sama pria yang tidak kenal kata mengalah satu sama lain jadi saat mereka berdebat pun tidak akan ada solusi jika salah satunya tidak mengalah.
"Baiklah kali ini aku setuju" Vano menyerah.
Ethan tersenyum tipis karena akan terbebas dari tusukan tusukan jarum ditubuhnya.
"Tapi kau dipindah alihkan kerumah, jangan harap selang selang ini akan terlepas dari tubuh mu" ucap Vano datar lalu menutup wajah pria itu dengan selimut.
Vano meninggalkan Ethan ke kamar mandi, dia harus banyak-banyak bersabar menghadapi tingkah Ethan.
"Hey!! Aku kesakitan dengan jarum jarum ini, tidak kasihan padaku?!" Teriak Ethan dari luar.
Vano tersenyum tipis mendengar teriakan itu,mau sampai berbusa pun berteriak jika Vano mengatakan belum ya artinya belum boleh jadi Ethan juga tidak berani melanggar.
***
Keesokan paginya tanpa diduga-duga Ethan terbangun tepat selesai Vano shalat subuh, dia tidak ingin ada orang yang mengetahuinya pergi dari rumah sakit.
"Ayo pulang" ajak Ethan.
"Kau sudah bangun" Vano melanjutkan melipat sajadah.
"Iya sekarang ayo pulang"
"Diluar masih gelap Ethan jangan bercanda"
"Aku tidak bercanda jika kau tidak mau aku akan pulang sendiri"
"Ck Ethan Ethan sesabar apa aku menjagamu awas saja jika kau sembuh" gerutu Vano.
"Pencet tombol disamping mu untuk memanggil dokter intan"
__ADS_1
Ethan mengangguk lalu memencet tombol, beberapa saat kemudian dokter intan datang beserta suster yang merawatnya untuk membantu Ethan.
Sekitar 30 menit semua sudah siap, Ethan sudah dimasukkan kedalam mobil, dia tidak ingin masuk kedalam ambulance karena terakhir kali masuk kesana auranya sangat dingin dan mengerikan.
Sampai dirumah jam enam pagi, Vano membantu Ethan keluar dari mobil. Genggaman pria itu sangat kuat dilengan Vano ketika melihat para pengawal.
"Mereka tidak akan melukai mu tenang saja"
Walaupun ucapan Vano dapat dipercaya Ethan tetap saja belum terbiasa dengan banyaknya orang berkeliaran.
Didepan rumah keduanya disambut hangat oleh tiga keluarga sekaligus.
"Selamat datang kembali sayang" ucap Zoya.
Ethan mundur kebelakang dan bersembunyi di bahu Vano.
"Dia ibu mu kenapa takut"
"A,,,aku"
Vino memberikan isyarat agar Vano segera memasukkan Ethan kedalam rumah sebelum banyak orang melihatnya.
"Ayo masuk dan ingat mereka semua tidak berbahaya, hilangkan pikiran mu tentang pembunuh didalam rumah ini karena mereka orang baik" ujar Vano.
Ethan mengangguk pelan sembari memberikan tangannya pada Zoya, dia berusaha sekuat mungkin melawan ketakutannya dan merubah pola pikirnya akibat ingatan kelam yang sudah kembali.
Dipertengahan kamar Ethan menghentikan langkah melihat jalan ke kamarnya.
"Kenapa kamar yang ini" ucap Ethan datar.
"Kamar mu memang disini kan"
"Bukan ini bukan kamar ku, kamar ku yang itu" Ethan menunjuk kamar Sarah yang selama ini ia tempati.
"Yakin memang nya kenapa"
"Tidak tidak sayang ayo pergi ke kamar mu" saut Zoya.
Keduanya kembali memapah Ethan menuju kamar Sarah.
Tok,,,tok,,,tok
Mereka harus mengetuk pintu karena Sarah tidak diberitahu akan kepulangan Ethan.
Ceklek
"Iya ibu kena,,,pa" Sarah melongo melihat suaminya didepan mata padahal tadi malam pria itu masih dikekang banyak selang ditubuhnya.
"Ethan"
"Disini?" Tanya Vano memastikan lagi.
Ethan mengangguk meyakinkan Vano bahwa dia tidak takut dengan Sarah dan bersedia satu kamar dengannya.
"Baiklah Tante ayo pergi"
Vano menggandeng Zoya pergi untuk membicarakan kondisi Ethan diruang keluarga sedangkan Ethan masih tetap berdiri didepan pintu.
"Mm ayo masuk" ucap Sarah sedikit canggung.
Ethan mengulurkan tangannya meminta untuk dipapah oleh istrinya.
"Mm?"
Terlalu lama, Ethan langsung merangkul Sarah lalu menutup pintu.
__ADS_1
Sarah membantu Ethan memperbaiki posisi tidurnya dengan hati hati.
"Kau butuh sesuatu? Akan ku ambilkan" ucap Sarah.
"Kemari" Ethan menepuk kasur disampingnya.
"Aku tidak takut dengan mu, kemari"
Sarah menghela nafas lega lalu duduk disamping Ethan. Pria itu bersandar dibahu Sarah sembari memejamkan mata.
"Maaf ya"
"Untuk?"
"Maaf tadi malam aku membentak mu, aku tidak bisa mengontrol diri aku salah" jawab Ethan.
"Tidak masalah aku mengerti kondisi mu seperti apa"
"Aku boleh mengeluh?"
Sarah mengelus kepala suaminya agar pria itu terasa tenang, Ethan menggenggam satu tangan istrinya.
"Setelah aku mengatakan semuanya pada Vano dan mulai berperang melawan pembunuh itu, kau siap menerima kenyataan jika aku tidak selamat?"
"Aku akan menemanimu melawan nya, jangan merasa sendirian banyak orang yang akan melindungi mu" jawab Sarah.
Aku berjanji akan membunuh orang itu Sarah, dia telah membunuh kedua orang tua kita. Batin Ethan
"Aku ingin tidur sehari penuh"
"Baiklah aku tidak akan menggangu mu" Sarah segera menjauhkan dirinya dari Ethan.
"Aku tidak berani tidur sendiri, temani aku setiap tertidur dan saat aku bangun pastikan kau masih ada didekat ku"
Sarah tersenyum mendengar perkataan Ethan yang lemah lembut padanya, entahlah apa perubahan pria itu namun ingatan nya membuat sikapnya sedikit berubah bagi Sarah.
"Rifka disini?" Tanya Ethan.
Sarah memudarkan senyumnya yang sudah merekah tadi.
"Jangan seperti itu, Rifka adik ku Sarah" ucap Ethan melihat ekspresi istrinya.
"Adik mu? Bagaimana bisa dia,,,"
"Suami mu yang tampan ini ingin tidur Sarah bertanya nanti saja ya"
"Ahh ya baiklah, aku akan membantu mu" Sarah membantu Ethan membaringkan tubuhnya lalu ia ikut tidur disamping.
"Aaahhh sudah berapa hari ya"
"Apanya?" Tanya Sarah.
Ethan mengetuk bibirnya dengan ujung telunjuk.
"Setelah kau sembuh"
"Ck aku ingin sekarang"
"Ethan ada saatnya, istirahat dulu"
Ethan cukup bingung dengan dirinya sendiri kenapa dirinya sensitif sekali, apa itu sikap aslinya dulu pikir Ethan.
Sarah mendekati Ethan lalu memeluknya dari belakang sebagai obat awal.
"Aku bingung sebenarnya siapa yang lebih dewasa disini" gumam Sarah.
__ADS_1