
Plakk!!!
Untuk pertama kali Vira menampar putranya dengan tangan nya sendiri, sekujur tubuhnya bergetar melihat pipi Vano memerah.
"Jangan pernah membawa Tuhan untuk menyembunyikan kesalahan mu!!" Ucap Vira menatap nanar putranya.
Vano merasakan perih yang teramat dalam dipipinya, baru kali ini Vano melihat Vira menangis karena dirinya dan itu sangat menyakitkan.
"Sayang ada apa?" Tanya Vino menghampiri Vira dan Vano.
"Tanyakan pada putramu sendiri!!" Jawab Vira lalu meninggalkan keduanya.
Vino menatap kepergian Vira, terlihat jelas mata itu memancarkan kekecewaan setelah memasuki kamar Vano. Kini tatapan Vino beralih pada putranya, tidak ada senyum ataupun lelucon dari Vino saat melihat Vano untuk saat ini.
"Umi!!" Vano ingin mengejar Vira namun dihalangi oleh abinya.
"Ck abi lepaskan aku tidak ingin umi salah paham!" Vano berusaha melepas diri.
"Abi aku mohon aku tidak ingin bercanda kali ini"
Vino melihat putranya berkaca kaca, seumur hidupnya baru kali ini Vano memasang ekspresi itu. Vino melepaskan tangannya membiarkan Vano pergi.
Vano mengejar Vira kebawah untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
"Umi" panggil Vano.
__ADS_1
Vira mengambil pedang yang terpajang diruang tamu lalu menyerang putranya dengan air mata yang terus mengalir. Vano tidak ingin melawan namun dia menghindar agar tidak terkena sayatan.
Vino, Faris, Andre, Farel, dan Ethan menyaksikan pertandingan itu dengan wajah cemas pasalnya Vira tidak main main saat mengayunkan pedang kearah putranya.
"Umi Vano bisa jelaskan,,,,"
Vano tidak melanjutkan kalimatnya saat ujung pedang mengarah didepan matanya, dengan berat hati Vano harus menepis pedang itu dengan kakinya hingga terjatuh kebawah.
Tidak berhenti sampai disana Vira menggunakan pisau yang ada ditangan kanannya untuk menyerang Vano, serangan Vira tidak main-main sama sekali, sedikit saja Vano lengah maka lehernya akan habis terkena sayatan.
"Umi hentikan!!" Vano menaikkan suaranya agar Vira berhenti menyerang.
"Jangan anggap aku orang tua mu, aku tidak ingin punya anak pembohong!!" Ucap Vira menghentikan serangannya lalu membuang pisau dan berjalan keluar rumah.
"Umi!" Vano berlari menutup pintu utama lalu bersimpuh didepan Vira.
Vira menatap kearah lain agar tidak melihat air mata putranya.
"Umi Vano tetap anak umi,,,,"
Vira melangkah mundur agar kakinya lepas dari tangan Vano, Vira benci melihat putranya untuk saat ini. Bukan hanya karena dia melihat Vano sedang dipeluk oleh gadis itu namun Vano tidak jujur padanya.
"Umi katakan apa yang harus Vano lakukan agar umi memaafkan Vano, Vano tidak bisa didiamkan seperti ini" Vano berdiri menggunakan lututnya memeluk pinggang Vira.
"Nikahi gadis yang kau sentuh!" Ucap Vira dengan suara dingin.
__ADS_1
Vano terdiam, ucapan itu seperti petir ditelinga nya. Vano belum bisa memastikan apakah dia salah dengar atau memang umi nya mengatakan itu.
"Vano tidak pernah menyentuh nya umi tidak pernah!!"
"Tante, Vano memang,,,,"
"Tante tidak menerima penjelasan mu, disini kalian berdua salah karena membohongi ku!!" Tatapan tajam Vira beralih pada Farel dan Ethan.
Keduanya tidak berani melawan karena memang Vira melihat apa yang mereka lihat namun dari sisi yang berbeda.
"Dan kau jangan pernah datangi rumah ku lagi" Vira melepas paksa kedua tangan Vano yang sedang memeluknya.
Vano berdiri mengejar Vira lalu mengunci pintu dan membuang kuncinya kearah manapun.
"Umi pernikahan itu hanya satu kali,,,,"
"Maka lakukan, kesempatan hanya satu kali bukan? Dan Kau belum menggunakan kesempatan itu? Atau kau pernah menikah diam-diam tanpa sepengetahuan ku" ucap Vira menatap nanar putranya.
"Astagfirullah umi Vano tidak pernah melakukan itu,,,,"
"Bagus!! Lalu apa yang kau tunggu"
Vano bungkam kalah berdebat dengan uminya, dia tidak tau harus menjawab apa kecuali,,,
"Baik umi, jika umi memerintahkan Vano untuk menikah maka Vano akan menikah" ucap Vano dengan suara gemetar.
__ADS_1
Aku menikahi musuh ku sendiri tapi umi ku lebih penting daripada hidup ku, cukup kali ini saja umi ku kecewa dengan perbuatan ku tidak akan lagi. Batin Vano