
"baiklah meeting hari ini akan kita akhiri, ada yang masih belum faham?" Tanya Ethan sebagai pemateri meeting.
"Jika tidak ada kalian boleh keluar"
Semua mengemas alat alat meeting mereka lalu keluar satu persatu dan seperti biasa Vano yang merevisi hasil meeting agar semua jelas.
"Proyek mu kurang dalam tenaga kerja, sebaiknya cari yang memiliki IQ sedikit tinggi dan kedua kau masih kalah di modal nya, cari pegawai yang pintar bermain kata untuk membodohi klien"
"Akan ku coba"
"Baiklah semoga berhasil" Vano menutup laptop lalu keluar dari ruang meeting.
"Ayo makan siang" ajak Ethan.
"Tidak ada waktu, aku perlu mencari data data lain"
"Ayolah tidak jauh dari kantor"
"Aku yang traktir" imbuh Ethan.
"Jalan"
Vano langsung berbelok arah mendengar kata traktir pasalnya baru seumur hidup Ethan ingin mentraktir manusia.
"Hey aku hanya bercanda" ucap Ethan mengejar Vano.
"Aku akan makan banyak" kata Vano.
Ethan menepuk keningnya mendengar jawaban Vano, bukan apa apa tapi harga makanan di dekat kantor melebihi harga makanan sultan, Alhamdulillah jika Vano ingin makan di restoran biasa tapi itu mustahil.
Sampai didepan restoran Ethan semakin frustasi melihat tempatnya, restoran milik Riki dan Syifa yang dikenal sebagai restoran termahal hanya untuk pejabat pejabat tinggi.
"Di,,,disini?" Tanya Ethan.
Vano mengangkat bahu lalu masuk kedalam restoran, tempat yang seimbang dengan harganya, Vano sengaja ingin menghabiskan uang Ethan sekali kali tidak ada masalah.
"Silahkan tuan"
"Anda mau pesan apa?"
"Siapkan seluruh menu makanan dan minuman termahal kalian tapi tidak dengan wine, ganti dengan jus jeruk"
Ethan menepuk keningnya mendengar pesanan gila dari Vano, pulang dari restoran ini dijamin akan membuatnya meminum obat penenang.
"Baik tuan mohon menunggu sebentar"
__ADS_1
Keduanya menunggu pesanan mereka datang, Vano sibuk bermain ponsel sedangkan Ethan sibuk menotalkan biaya makan siang mereka.
"Permisi tuan, kalian yang memesan menu makanan termahal?" Tanya seseorang.
"Iya" jawab Ethan tanpa menatap orang tersebut.
Merasa mengenali suara itu Vano mengangkat kepalanya dan menatap orang tersebut.
"Rafi"
Vano langsung berdiri saking terkejutnya melihat salah satu anggota keluarga Ferrero muncul didepan matanya.
"Vallen dimana? Apa dia baik baik saja?" Tanya Vano tanpa basa-basi.
"Mana ku tau" jawab Rafi mengangkat bahunya.
"Rafi jawab yang benar Vallen baik baik saja?"
"Tidak tau kak, kak Vallen tidak pernah ada kabar walaupun aku sangat dekat dengannya tetap saja aku tidak diberitahu dimana kak Vallen tinggal"
"Bukankah dirumah kakek dan nenek mu?" Saut Ethan.
"Mana ada disana, mungkin mereka tau dimana kak Vallen tapi Rafi tidak tau karena Rafi menetap disini dan pulang kesana beberapa kali" jawab Rafi.
"Kau tidak ikut pulang kerumah nenek mu selama 3 tahun ini?" Tanya Vano lagi.
"Kau tau siapa presiden baru Ferrero Group?" Tanya Vano.
"Tidak" jawab Rafi dengan pasti.
"Ethan bayar makanannya"
Vano langsung berdiri dan meninggalkan restoran dengan langkah yang cepat.
"Hey bagaimana dengan makanannya!!" Teriak Ethan kesal harus membayar tanpa dimakan.
"Antar ke alamat ini saja" ucap Ethan memberikan Rafi alamat rumah lalu pergi menyusul Vano.
Rafi tidak perlu memperhatikan alamat rumah mereka toh sama saja seperti yang dulu. Tapi tunggu alamat ini berbeda dari kediaman Salvatrucha.
"Apa mereka pindah rumah? Kurasa tidak mungkin" gumam Rafi.
Wajar Rafi bingung karena selama tiga tahun ini dia tidak pernah mengetahui informasi terbaru keluarga dari kakak iparnya itu.
"Pelayan bungkus makanan yang tadi lalu antar ke alamat ini,,,, ahh tidak bungkus saja biar aku yang mengantarnya" ucap Rafi.
__ADS_1
15 menit perjalanan Rafi sampai didepan rumah yang cukup mewah tapi Rafi heran kenapa rumah keluarga Salvatrucha minimalis modern, dia tau betul selera keluarga kaya raya itu bukan rumah seperti ini.
Rafi menekan tombol tersebut lalu menunggu seseorang datang menyambutnya.
"Siapa?"
"Pengantar makanan" jawab Rafi.
"Telinga ku masih sehat kan?" Gumam Rafi.
Rifka membuka gerbang rumahnya dengan pakaian biasa karena hari ini hari liburnya.
"Maaf aku tidak pernah,,,,"
Rifka terdiam sejenak melihat orang didepannya, semalam mimpi apa dirinya sampai sampai orang ini kembali muncul setelah sekian lama.
"Ka,,,, kau" Rifka belum percaya dengan matanya sendiri.
Rafi memberikan makanan pesanan Ethan tadi lalu bergegas ingin pergi.
"Orang yang mengancam mu sudah hilang" ucap Rifka dengan cepat.
Sontak Rafi langsung menghentikan langkahnya dan berputar arah lalu memeluk Rifka dengan erat, tidak ada yang memberitahu nya bahwa orang itu sudah hilang, tidak ada yang memberitahu nya jika menemui Rifka bukanlah kesalahan lagi.
"Kenapa tidak memberitahu ku dari dulu, aku menyiapkan nyawa ku untuk bertahan disini walau seluruh keluarga ku sudah pergi"
"Aku sudah mencari kerumah mu dan rumah keluarga Ferrero tapi kau tidak ada jadi aku,,,,"
"Aku tinggal di hotel, aku kira ayah mu akan mencari ku sehingga aku memutuskan tinggal ditempat ramai namun keamanannya dijaga ketat"
"Kau merindukanku?"
"Sangat"
"Baiklah lepaskan pelukan mu terlebih dahulu sebelum kakak ku membunuh mu" ucap Rifka.
"Kau memiliki kakak? Apa dia jahat?"
"Dia baik tenang saja, ayo masuk"
"Bo,,,boleh? Kakak mu tidak marah?"
"Aku tinggal sendiri disini tapi penuh dengan kamera pengawas jadi jaga jarak mu satu meter atau peluru akan menancap ditubuh mu"
Rafi menelan ludahnya mendengar ucapan Rifka, kakak nya pasti bukan orang biasa pikir Rafi.
__ADS_1
Tentu saja Rafi masih belum tau karena semua tiba tiba saja seperti itu dan mereka menghilang begitu saja.