
David harus berbuat apa pada keluarga ini dia sendiri bingung, melamar dengan cara macam apa yang menggunakan senjata.
"Hey kalian semua petinggi perusahaan bukan?" Tanya David datar tanpa takut dengan senjata di masing-masing tangan mereka.
"Tentu" jawab Vino.
"Lalu jika melamar kenapa kalian mengatakan aku harus sanggup? Kalian ingin melamar ku? Hey keluarga aneh kalian masih waras?" Tanya David mengetuk meja kaca didepannya.
Semua dari mereka menggunakan ekspresi bodoh termasuk Vino yang belum berpengalaman sama sekali pergi melamar.
"Iya juga" jawab Vino, Andre, dan Faris memasukkan senjatanya kembali.
"Tapi kenapa kau mengatakan tidak?" Tanya Faris.
"Karena aku yakin kalian semua gila!" Jawab David ketus.
"Hey kami serius!" Ucap Vino kembali ingin mengeluarkan senjatanya.
"Apa kalian belum mengerti?" Tanya David sampai harus bertanya dua kali melihat kebodohan yang sebenarnya dari keluarga Salvatrucha.
Dengan polosnya keenam pria itu menggelengkan kepala karena kepala mereka belum berpikir jernih.
"Jika putri ku sudah mengatakan 'iya' apa aku bisa menolaknya?" Tanya David.
Kompak mereka menggelengkan kepala kembali, terkadang mereka seperti singa dan terkadang seperti kucing.
"Lalu kenapa masih bertanya pada ku? Kenapa tidak bertanya langsung pada putri ku?" Tanya David datar.
"Benar juga" gumam Vino dan Vano memegang dagu.
"Kenapa kau tidak mengatakan itu dari tadi, tau begitu kami tidak perlu mengeluarkan senjata bodoh ini" ucap Vino mengeluarkan pistolnya lalu memberikan Ethan.
__ADS_1
"Buanglah!" Titah Vino.
"Tidak! Aku tidak pernah terlibat dengan hukum!" Saut David menolak pistol itu menjadi hiasan bak sampahnya.
"Hanya pistol mainan" ucap Vino dengan gampangnya.
Jika saja David adalah mantan mafia seperti mereka mungkin dia sudah membuat satu granat untuk meledakkan calon besan laknatnya itu.
"Mainan? Kenapa punya Ethan asli ayah Vino?"
Doorr!!!!
Senam jantung untuk pertama kali sudah dimulai, Ethan berhasil mengagetkan David sampai matanya membulat sempurna karena peluru itu hampir menyirat lengannya.
"Hey kau gila!!" Mata David hampir keluar menatap Ethan.
"Bodoh kenapa kau menggunakan pistol asli" ucap Vino kesal.
"Ayah mengatakan membeli pistol, Ethan berpikir jika membeli menghabiskan waktu dan biaya jadi gunakan yang ada saja" ujar Ethan menunduk polos.
"Ayah Andre bukan ayah Vino dan papa tidak memberitahu Ethan juga jika membeli pistol mainan, salah kalian juga tidak membelikan kami" kata Ethan menyalahkan semua orang tua
Ceklek
"Ada apa? Suara apa itu? Kenapa besar sekali?" Tanya Bela bertubi tubi masuk ruangan.
Refleks semua menjatuhkan senjata masing-masing kebawah lalu memasukkan nya kedalam ruang sempit dibawah sofa.
Sebelum berbicara David mengelus dadanya terlebih dahulu agar tidak terlihat gemetar akibat tingkah para mantan mafia beserta pemberantas yang datang melamar itu.
"Tidak, anak buah dari Vano hanya memperlihatkan keunggulan senjata nya" ucap David berusaha tersenyum ikhlas.
__ADS_1
"Aahh ya baiklah tunggu sebentar Vallen akan datang" ucap Bela menganggap semua baik baik saja padahal suami suaminya hampir serangan jantung.
Dan beberapa menit berlalu Vira, Bela, Zoya, dan Lina sudah kembali. Kini tibalah saatnya Vallen harus hadir ditengah tengah keluarga itu untuk ditanya apakah ia menerima lamaran dari keluarga Salvatrucha atau tidak.
Dengan dress sesopan mungkin Vallen tampil elegan dan mewah, dibanding pakaian Zea dan Sarah, Vallen terlihat lebih cantik dan kita akan tau bahwa dialah yang menjadi sorotan mata dari keluarga disana.
"Astaghfirullah jangan lama lama dilihat" ucap Vano menatap ke arah lain.
Vallen duduk didekat papa dan mamanya berhadapan dengan Vano yang duduk dengan kedua orangtuanya.
"Baiklah Vallen pertama tama kami datang kemari bermaksud baik dan niat itu akan disampaikan oleh Vano putra kami" ujar Vino mempersilahkan sang pemeran utama.
Vano hampir tersentak ketika namanya disebut untuk berbicara, anggap saja Vano pengecut tapi tatapan calon mertuanya lebih mengerikan dari tatapan membunuh musuh musuhnya selama ini.
Huuuhh
"Ehem,,,, baiklah bismillahirrahmanirrahim Vallena Ferrero aku atas nama Vano Salvatrucha datang kemari dengan satu tujuan yaitu untuk melamar dan menjadikan mu sebagai istri ku, apa kau menerima ku menjadi suami mu?" Tutur Vano menatap Vallen dalam.
Vallen terdiam sejenak, bagaimana cara menjawabnya agar terkesan tidak monoton Vallen bingung, dia menatap David dan Bela bergantian seakan meminta izin pada keduanya.
"Jawab dengan hati mu sayang" bisik Bela.
Vallen menatap David sebelum benar-benar mengatakan jawaban nya. David pun tersenyum tipis mengelus kepala putrinya, Vallen ikut tersenyum karena mengetahui arti senyuman itu.
"Bismillahirrahmanirrahim aku atas nama Vallena Ferrero menerima lamaran dari Vano Salvatrucha" jawab Vallen dengan mantap sembari menebar senyum sejuta pesona.
Ketika yang lain mengucap Alhamdulillah Vano hanya melengo menatap Vallen, sadar atau tidak ia sudah mulai gila dengan wajah gadis itu.
"Boleh menikahnya sekarang umi?" Tanya Vano asal.
Vira menepuk pundak putranya agar tersadar dari lamunan tidak berguna itu, matanya tetap saja mengarah pada kecantikan calon permaisuri.
__ADS_1
π±π±π±
sebenarnya mereka ini bodoh tapi kok pinter bgt nyiksa org heranππ