
Sampai dikantor Zea keluar terlebih dahulu dibanding Farel dan Farel adalah tipe orang yang tidak bisa didiamkan terlalu lama apalagi oleh Zea.
"Zea hey!!"
Para karyawan termasuk teman teman Zea bingung kenapa Farel mengejar gadis itu seperti berlian.
"Masih kecil sudah berani menggoda CEO, dasar gadis murahan" gerutu salah satu karyawan.
Farel langsung menghentikan langkah kakinya mendengar ucapan karyawan nya, kini Farel mengerti apa yang membuat Zea tertekan dan tidak semangat pergi kekantor.
"Siapa yang kau katakan murahan?" Tanya Farel mendekati karyawan.
"Ma,,,maaf tuan saya hanya mengatakan yang sebenarnya, gadis itu selalu mencuri curi perhatian pada anda"
Farel menatap Zea sekilas lalu berpindah pada karyawan lain termasuk teman teman Zea yang sepertinya salah paham.
"Dengar semuanya. Dia (menunjuk Zea) gadis yang kalian katakan murahan adalah istri ku, dia ingin melakukan apapun dikantor ini bukan urusan kalian" tutur Farel dengan sejelas jelasnya.
Tentu semua terkejut dengan penuturan pria itu, ternyata gosip yang mereka dengar itu benar dan putri tersembunyi ini adalah Zea.
"Kenapa? Terkejut? Sebenarnya aku tidak peduli kalian ingin percaya atau tidak tapi demi kebaikan istri ku, aku akan membuktikan nya" imbuh Farel mendekati Zea dan mengangkat tangannya.
"Lihat ini, ini adalah cincin pernikahan kami dan pernikahan kami sudah berjalan hampir 6 bulan" ujar Farel.
Zea hanya menunduk melihat tatapan tak percaya didepannya terutama teman kampusnya sendiri.
"Maaf tuan saya lancang tapi kalian menikah siri sehingga kami tidak mendengar rumor itu?" Tanya karyawan lainnya.
"Pernikahan ku sah, dia istri sah ku tapi dia tidak ingin kalian tau karena dia tidak mau disegani oleh kalian, dia ingin menjadi orang biasa yang bisa berteman dengan siapa saja, sekarang puas? Masih mau mencaci maki istri ku" jawab Farel datar.
"Maaf tuan, maaf nona"
Farel langsung membawa Zea kedalam ruangannya, tidak mungkin gadis itu berada diluar saat ini, pasti akan ada banyak pertanyaan dari teman temannya.
Ceklek
"Kakak"
"Zea diam, kali ini dengarkan keputusan ku, memangnya kenapa jika mereka tau kau adalah istriku? Malu punya suami seperti ku? Malu punya suami dengan jarak usia yang cukup jauh?" Tanya Farel seolah mendesak Zea untuk menjawab.
"Kurangnya aku apa Zea sehingga kau tidak mau mengakui ku didepan umum, aku tidak meminta banyak aku hanya meminta mu mengakui ku sebagai seorang suami bukan diam diam seperti ini" imbuh Farel.
"Stop kak, kakak itu terlalu sempurna sampai sampai Zea tidak sanggup mengakui kakak sebagai suami, Zea hanya orang biasa dan kakak berlian,,,,"
"Berhenti, sekarang aku akan menanyakan satu hal. Kau mencintaiku?" Tanya Farel memotong kalimat Zea.
"Zea? Kau mencintaiku atau tidak jawab aku"
Zea memalingkan wajahnya tidak ingin menatap Farel lagi.
__ADS_1
"Kakak sebaiknya,,,,"
"Berhenti memanggilku kakak! Kau selalu menganggap ku kakak mu. Aku bukan kakak mu Zea!'
Karena tidak biasa mendengar Farel berbicara dengan nada tinggi Zea terlihat takut walaupun Farel hanya meninggikan sedikit volume suaranya.
Haahh!!!
Farel hanya bisa meremas tangannya sendiri melihat Zea ketakutan, Farel memeluk Zea sekilas.
"Keluarlah lanjutkan pekerjaan mu" ucap Farel menahan emosinya agar tidak kasar pada Zea.
Pria itu tidak tahan ingin melakukan sesuatu yang memuaskan dirinya, Farel akhirnya meninggalkan Zea kedalam kamar tidur diruangan itu.
"Arrrghhh bodoh!!!" Teriak Farel memukul lengan dan wajahnya hingga lebam.
Lengannya kembali meneteskan darah karena belum kering sepenuhnya.
Zea yang belum keluar tentu mendengar teriakan suaminya didalam, walaupun takut Zea mencoba menjadi seorang pemberani dan melihat Farel.
"Bodoh!! Kau menakutinya, kau menyakitinya. Sekarang bagaimana? Dia pasti membenci mu!!" Ucap Farel masih tetap memukul dirinya sendiri.
"Kakak!!!"
Zea berlari sambil menangis melihat wajah Farel lebam ditambah lengannya yang terus mengeluarkan darah akibat luka tembak beberapa hari yang lalu.
"Tolong pergi Zea, aku tidak ingin menyakiti mu" ucap Farel berusaha melepas pelukan istrinya.
"Aku sudah biasa menyakiti diriku sendiri agar orang lain tidak terluka oleh tangan ku, dan sekarang kau sedang menyakiti ku Zea tapi kau tenang saja setelah aku memukul diriku semuanya akan membaik" kata Farel dengan senyum tipis namun matanya benar-benar menunjukkan bahwa ia sedang sakit.
"Tidak Farel jangan lakukan itu lagi"
Farel tetap memukul dirinya untuk mengendalikan emosi dan tidak menyakiti Zea.
"Farel tolong!!" Teriak Zea sampai menjatuhkan dirinya dan bersimpuh agar Farel berhenti melakukan itu.
"Aku mencintaimu Farel, berhenti menyakiti dirimu sendiri!!"
Farel menghentikan tangannya dan menatap Zea, lagi lagi batinnya ingin berteriak melihat gadis itu banjir air mata, Farel ikut duduk menyetarakan tingginya dengan Zea.
"Aku juga" jawab Farel tersenyum manis namun senyuman itu terlihat menyedihkan.
Dengan tangan gemetar Zea memegang wajah suaminya, Farel ikut memegang tangan Zea.
"Kenapa kau melakukan ini, kenapa tidak memukul ku saja" ucap Zea kembali terisak.
"Ayah mu saja tidak pernah memukul mu kenapa aku harus melakukan itu" jawab Farel dengan sisa sisa senyuman manisnya.
"Tolong jangan seperti ini lagi" kata Zea terisak.
__ADS_1
"Setelah pengakuan mu tadi aku pastikan tidak terjadi lagi" ucap Farel.
"Zea katakan padaku semua hal yang tidak membuat mu senang ditempat ini, masalah Mona? Sudah ku pindah tugaskan keluar negeri dengan pemberangkatan hari ini juga. Apalagi yang membuat mu tidak senang ayo katakan"
Zea menggelengkan kepala karena satu satunya yang membuat ia tenang adalah kepergian Mona dari perusahaan ini.
"Keluarlah, tunggu diluar aku akan menemui mu" ucap Farel tersenyum manis.
"Hanya itu? Tidak ingin melakukan sesuatu?" Tanya Zea menghapus jejak air matanya.
"Sesuatu?" Jawab Farel mengulangi satu kata terakhir Zea.
"Sesuatu yang sudah ditunda tunda" ucap Zea.
Tumben kali ini otak Farel lama mencerna satu kalimat, rasanya otak itu tidak bisa berpikir terlalu jauh.
"Ma,,, maksud mu?"
"Aku siap, lakukan saja" jawab Zea tersenyum manis.
Farel menempelkan punggung tangan nya dikening Zea mungkin saja gadis itu demam dan mengigau setelah menangis.
"Aku tidak demam, sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan ini karena ibu dan mama mengatakan jangan ditunda-tunda lagi" ucap Zea menurunkan tangan Farel.
"Jangan Zea, jika kau melakukannya karena desakan orangtua sebaiknya,,,,"
"Aku siap dan aku akan baik-baik saja" kata Zea memotong kalimat Farel.
Tentu Farel senang tapi ia ragu apakah mental seorang gadis kecil seperti ini tidak rusak.
"Tapi sebelum itu kau harus berjanji tidak akan meninggalkan ku, tidak akan menduakan ku"
"Pernah aku melakukan itu? Setelah ijab kabul saja aku sudah berjanji pada semua keluarga kita untuk terus bersama mu seumur hidup ku"
"Silahkan" ucap Zea menyerahkan dirinya.
"Silahkan? Silahkan apa?" Tanya Farel melongo.
"Aku tidak tau caranya melakukan apa yang kau inginkan, aku hanya tau teori dari sekolah tapi tidak pernah praktik jadi mohon bimbingannya" jawab Zea.
"Sebentar!! Sebaiknya luka mu di obati dulu sebelum melakukan,,,"
"Aku sudah sembuh" kata Farel dengan cepat lalu mengangkat tubuh istrinya berpindah ke kasur.
Agar tidak ada yang mengganggunya melakukan hubungan ekstrim Farel mengunci ruangan dan kamar pribadinya lalu mengaktifkan kedap suara.
Daann ulalaa terjadilah sesuatu yang seharusnya sudah terjadi dari awal.
###
__ADS_1
Dahlah jangan banyak-banyak 😒😒
Part selanjutnya serius!!! Siap siap