
Langkah kaki Vano terlihat lemah menuruni anak tangga, dibawah Bela sudah menunggu Vano untuk turun dan seperti nya ia tidak berhasil.
"Ma" Vano memeluk Bela dengan hati yang hancur.
"Kau pasti kuat kau akan mendapat seseorang yang lebih baik"
"Tidak ma Vallen ya Vallen tidak ada ruang untuk orang lain, biarkan saja Vallen pergi suatu saat dia pasti kembali Vano yakin itu"
Bela terkejut dengan jawaban Vano, dia mengira Vano datang untuk menyerahkan surat cerainya.
Vano melepas pelukan nya dari Bela lalu mengeluarkan satu kartu yang diberikan pada istri dari tuan David Ferrero tersebut.
"Apa ini?"
"Izinkan Vano tetap menafkahi Vallen ma, biarkan Vano yang membiayai seluruh kebutuhan Vallen, Vano berjanji tidak akan melacak keberadaan kartu ini digunakan" jawab Vano.
"Tapi mama,,,,"
"Tolong ma" Vano sampai bersimpuh didepan Bela agar dia mau menerima kartu tersebut.
Dia tidak peduli lagi dengan marganya asal kemauannya yang satu dapat dikabulkan.
"Baiklah ayo berdiri jangan seperti ini"
Bela juga tidak bisa melihat menantunya memohon mohon seperti itu.
"Jangan beritahu Vallen jika Vano yang memberikan kartu ini ya ma"
Bela mengangguki permintaan Vano, ini adalah pilihan terberat bagi dirinya tapi melihat wajah Vano rasanya Bela ingin menangis saat ini juga.
__ADS_1
"Salam pada papa ma Vano permisi tolong jaga Vallen semampu yang kalian bisa" ucap Vano lalu menyalami Bela dan keluar dari rumah kebesaran Ferrero.
Angin malam langsung menusuk tubuh pria itu ditambah dengan cuaca yang tidak mendukung, rasanya alam juga ikut merasakan kesedihan Vano yang luar biasa.
Ethan yang sudah menunggu didepan mobil langsung membukakan Vano pintu namun pria itu tidak menyentuh mobil sama sekali.
Tatapan kosongnya terus mengarah kedepan hingga ia tidak merasakan apapun.
"Va,,, Vano" Ethan selalu mengikuti Vano dari belakang.
"Vano sebentar lagi hujan ayo masuk ke mobil" ucap Ethan namun Vano tetap berjalan hingga bayang bayang rumah Ferrero hilang.
Saat hujan mulai membasahi bumi Vano menatap kearah langit dia bersyukur hujan turun tepat pada waktunya, dengan begitu tidak ada satupun yang menyadari dirinya sedang menangis deras.
"Vano ayo kembali ke mobil" ajak Ethan namun tak pernah didengarkan.
Vano tersungkur ditengah jalan, kakinya lemas dan tubuhnya sudah tidak mampu berjalan. Disitulah Vano menangis sekeras-kerasnya, puncak kehancuran Vano bisa dilihat sekarang.
"Dia tidak ingin melihat ku, dia membenciku, aku bingung dengan kesalahan fatal yang aku perbuat sampai dia tidak ingin melihat wajah ku" imbuh Vano sembari menghapus air hujan yang tercampur dengan air matanya.
Ethan menyetarakan posisinya dengan Vano, tentu ia tidak tahan melihat kerapuhan Vano karena seumur hidupnya baru kali ini Ethan melihat puncak kehancuran Vano.
"Apa aku begitu buruk untuk tetap bersamanya? Aku sudah melakukan yang terbaik Ethan. Ya Tuhan hatiku sakit sekali" ucap Vano kembali meremas dadanya yang sesak.
"Menangis lah keluarkan semuanya aku tidak akan melihat mu" ujar Ethan membelakangi Vano dan menutup mata.
Vano menekuk lutut dan menyembunyikan wajah lalu menangis sekeras-kerasnya, Ethan mendengar tangisan itu dan munafik jika dia tidak ikut meneteskan air mata.
"Ya Tuhan aku tau ini ujian tapi sesakit inikah? Kau percaya aku mampu? Tidak Tuhan aku tidak mampu" ujar Vano disela sela tangisnya.
__ADS_1
Cukup lama Ethan mendengar tangisan Vano sampai ia tidak sadar jika luka ditubuh Vano masih basah dan darahnya kembali mengalir.
Untungnya Ethan menyadari itu, dia langsung berbalik arah dan benar saja tubuh Vano mengeluarkan darah lagi.
"Vano!!" Ethan mengguncang tubuh pria itu namun dia sudah pingsan sejak beberapa detik yang lalu.
"Vano bangun hey!!" Ethan meminggirkan tubuh Vano dan mencoba membangunkan nya.
"Vano bangun kau baik-baik saja kan" Ethan mencari ponselnya namun tidak ada, dia tidak membawa ponsel.
Ethan tidak ingin berlama-lama, dia langsung menggendong Vano dari belakang dan berjalan kedepan, jika ia mengambil mobilnya kerumah Ferrero itu sudah cukup jauh lebih baik ia naik bus atau memesan taksi ditengah jalan.
Ethan juga mencoba meminta bantuan dengan pengendara namun tidak ada yang menolong, rasanya Ethan ingin menangis darah saat ini. Tidak ada yang peduli dengan mereka.
Sampai di halte bus Ethan mendudukkan Vano terlebih dahulu lalu melihat sekelilingnya untuk meminjam ponsel dan setelah beberapa lama meminta bantuan Ethan diberikan meminjam ponsel.
Ia langsung menghubungi orang orang rumah untuk mengirimkan mobil.
Ethan kembali duduk disamping Vano yang yang sedang berbaring sembari memeriksa lukanya.
"Vallen"
Satu nama itu terus ia panggil sedari tadi.
"Tuhan kau ada kan? Kau lihat orang yang ada disamping ku? Dia pria baik bahkan sangat baik pada semua orang, dia juga berbakti padamu, dia berbakti pada umi abinya lalu kesalahan apa yang ia perbuat sampai kau memberikan cobaan seberat ini padanya" gumam Ethan sembari menatap wajah pucat Vano.
Cukup lama berbincang dengan Tuhan, mobil yang menjemput mereka datang. Supir membantu Ethan memasukkan Vano kedalam mobil dan setelah itu mereka pulang.
Vano dirawat jalan dirumahnya, tentu semua itu atas perintah dari Vira agar semua orang bisa menjaganya disana dan seperti nya setelah kejadian ini Vano tidak akan tinggal dirumah kedua lagi, dia akan menetap dirumah utama.
__ADS_1
***
tenang dulu nggak nyampe sebulan kok😌😌