
Vano mengangkat bahu lalu kembali namun lagi lagi langkahnya terhenti melihat lemari disamping ruangan tersebut.
"Si bodoh itu kenapa lemari ada disini, apa dia mengganti pakaian juga ditempat ini?" Kata Vano tersenyum sinis.
Vano membuka lemari yang tidak terkunci sama sekali itu seakan-akan pemilik dari lemari itu tidak menyimpan sesuatu yang berbahaya.
"Hanya pakaian jelek" Vano mengobrak abrik lemari hingga berantakan.
"Si jelek sialan bodoh ini juga dimana, kenapa suka sekali main petak umpet!!" Gumam Vano kesal.
Ketika Vano menjatuhkan satu pakaian dari lemari itu matanya tertuju pada sebuah gagang pintu tambahan dibelakangnya.
"Apa ini?"
Vano memegang gagang pintu tersebut lalu membuka nya secara perlahan hingga menunjukkan sebuah lorong kedalam.
"Ruang rahasia?" Tanya Vano pada dirinya sendiri seolah ada arwah temannya berbicara sedari tadi.
Vano menyusuri lorong lorong menuju ruangan itu, tidak ada yang mencurigakan namun saat sampai diruangan inti Vano melihat banyak darah kering berceceran di lantai.
"Hallo? Ada orang?" Tanya Vano tanpa takut jika sewaktu-waktu serangan datang.
"Mmmhh!!!"
Saat mendengar suara Vano langsung bersembunyi dibelakang tembok tapi dia berpikir ulang jika orang itu berniat jahat tidak mungkin serangannya selambat ini dan suaranya juga lemah.
__ADS_1
"Mmhh!!!"
Vano kembali mendengar suara yang lebih keras, perlahan kakinya keluar dari balik tembok untuk melihat suara siapa didalam.
"Ka,,,kau!!" Vano terbelalak melihat Rifka sedang diikat dengan mulut tertutup dan luka di sekujur tubuhnya.
Saat melihat Vano air mata Rifka keluar seakan-akan meminta pertolongan padanya untuk dilepaskan.
"Untuk apa kau disini?" Tanya Vano menatap Rifka.
Rifka hanya menggelengkan kepala karena ia tidak bisa berbicara.
"Aku akan melepaskan mu tapi kau harus berjanji tidak menyerang ku, setuju?"
Vano mengambil pisau kecil diatas sepatunya lalu membuka ikatan ditubuh Rifka, saat seluruh ikatan terlepas Rifka langsung tersungkur ke pelukan Vano.
"Astaghfirullah eeyy!!" Teriak Vano melempar Rifka keatas lantai.
Vano kembali melihat kondisi Rifka dan ternyata gadis itu tidak berbohong, dengan luka di sekujur tubuhnya wajar saja jika dia pingsan.
"Ini darurat, maafkan aku istriku hanya sekali saja" ucap Vano mengangkat tubuh Rifka keluar dari ruang rahasia tersebut.
Baru saja berdiri mengangkat tubuh Rifka, Vano baru memperhatikan sekitar ruangan yang penuh dengan gambar pertumbuhan Vallen sejak kecil hingga tumbuh menjadi seorang gadis.
Vano mengambil satu foto saat tiga tahun, tentu ia tahu jika itu adalah Vallen karena saat kecil keduanya sering bersama.
__ADS_1
Tapi yang ia bingung kan adalah kenapa foto Ethan saat berusia enam tahun juga berada disana. Setaunya Ethan tidak pernah ketempat yang ada difoto tersebut.
"Ethan"
Vano mengambil dan memperhatikan foto itu sebentar dan dia ingat betul Ethan tidak memiliki pakaian seperti ini sepanjang sejarah hidupnya bersama pria itu.
Vano kembali memperhatikan Rifka, semua ini pasti ada hubungannya dengan Rifka dan ayahnya jika tidak kenapa Rifka sampai terluka seperti ini dan tidak berada diluar negeri.
Sampai akhirnya Vano mengambil dua sampel foto sebagai bukti tambahan, setelah kembali nanti Rifka harus dijaga ketat dan ketiganya harus mengadakan meeting intensif.
Saat Vano ingin keluar ia kembali penasaran dengan bentuk pintu disamping, ia mendekat sembari menggendong Rifka.
Susah payah Vano meraih gagang pintu namun ujung tangan nya tepat dijari tengah terkena sayatan pisau diujung gagang pintu.
Tangannya berdarah namun darah itu tidak mengalir sewajarnya luka biasa.
Vano memperhatikan lukanya, dia tau pisau itu beracun tapi kenapa sistem pertahanan tubuhnya tidak berkurang sama sekali.
Perlahan ia ingat dan ia mengerti ternyata tujuan Vallen menggigit nya untuk ini, dengan luka gigitan ditengah tengah jarinya akan menghambat proses masuknya racun racun itu kedalam tubuhnya.
Braakk!!!
Dan Vano memutuskan untuk menendang pintu dengan kakinya, sekali tendangan mata Vano langsung tertampar sinar matahari dari luar, rupanya ruang rahasia itu adalah jalan dimana mereka masuk sedangkan gedung tadi hanyalah untuk mengelabui seseorang yang datang.
Vano tidak ingin orang lain melihat Rifka, ia langsung masuk kedalam mobil menunggu Farel kembali sembari mengeluarkan racun dijarinya.
__ADS_1