Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 216


__ADS_3

Dua hari setelah Vallen dan Vano memutuskan untuk bersama-sama lagi, mereka bersiap siap mengemas barang dan pulang ke tempat semula karena persiapan pernikahan Rafi dan Rifka juga membuat mereka tidak bisa terlalu lama disana.


"Semua sudah siap?" Tanya Vira pada seluruh keluarga.


Semua mengangguk dan langsung dibantu memasukkan barang barang kedalam mobil lalu menuju bandara, sepertinya mereka kembali menggunakan pesawat pribadi karena keluarga mereka terlalu banyak dan keluarga Ferrero juga ada disana.


Sampai di bandara anak anak dipegang oleh ayahnya masing-masing karena bocah itu pasti akan berlari kesana-kemari.


Sedangkan Vero melihat sekeliling yang luas tanpa adanya pengawalan ketat, senyum tipis nya terbit ketika ia merasakan bebas sebebas-bebasnya.


"Vero" Vano mengulurkan tangannya agar Vero mendekat.


"Excel!" Panggil Vero.


Excel melepas genggaman Ethan dan mendekati Vero.


"Kau memanggilku?"


Vero mengambil tangan Excel dan mewakilinya menyambut uluran tangan Vano.


Vino yang memperhatikan itu sedari tadi juga merasa aneh dengan hubungan keduanya.


"Ehem!" Vino mendekati Vero.


Dia seperti berkaca melihat wajah Vero, hampir tidak ada yang berbeda.


"Kemari"


Vero hanya menatap datar tanpa berniat melangkah mendekati Vino dan terpaksa Vino yang mendekatinya.


"Kau tau sistem pertahanan membobol perusahaan?"


"Sedikit"


Sedikit? Uang yang kau bobol membuat perusahaan itu bangkrut, ya Tuhan menyesal besar aku memiliki sifat seperti ini jadinya turun menurunkan. Batin Vino


"Ayo buat perjanjian"


"Tidak tertarik"


"Benarkah? Hm sebenarnya ini sangat menarik, kita hanya perlu menjadi partner dalam merusak sistem pengoperasian mesin komputer diperusahaan perusahaan lain, ini akan sangat menarik karena wajah mereka pasti akan panik melihat data data hilang" ujar Vino.


"Aku belum bisa seperti itu, belum belajar" kata Vero.


"Belum ya" Vino mengeluarkan buku dari kopernya dan memberikan buku tersebut pada Vero.


"Pelajari ini" ucap Vino.


"Abi" tegur Vano karena abinya memberikan buku berbahasa Mandarin dan Jepang.


Vero memperhatikan dan membuka halaman buku tersebut satu persatu hingga Vino bingung dia sedang melihat apa sedangkan dibuku itu tidak ada gambar.


"Kau sedang apa?" Tanya Vino heran.

__ADS_1


"Grandpa buku ini hanya menjelaskan sistem pemrograman" ucap Vero dengan teliti memperhatikan bacaan bacaan dua buku yang berbeda.


Vino sampai mengernyitkan dahi mendengar penjelasan Vero, tadinya Vino hanya ingin mengajaknya berbicara basa basi tapi laki laki itu paham topik yang sedang mereka bicarakan.


"Vallen berapa bahasa yang dia bisa?" Tanya Vino dengan berbisik.


"Vallen tidak bisa menghitungnya Abi, coba saja ajak berbicara dengan bahasa apapun dia pasti akan menjawabnya" jawab Vallen.


Vino menepuk keningnya dan melihat Vero dengan serius membaca buku yang ia berikan tadi, jika Vino pintar makan Vano lebih pintar dan jika Vano lebih pintar maka Vero benar-benar puncaknya padahal Vera tidak sepintar itu, dia masih layak dikatakan anak kecil tapi Vero entahlah, mungkin dia reinkarnasi dari ayah Vino dulu.


Beberapa saat kemudian mereka mulai masuk pesawat dan mengatur posisi duduk masing masing.


"Vera kemari" kata Vero pada adiknya.


"Kenapa kak?"


"Duduk disamping kakak"


"Mm maaf kak tapi Vera harus menemani mama didepan atau Vera ganti tempat duduk"


"Tidak jangan temani mama saja" ucap Vero.


Dari belakang Vano tidak pernah lepas memandang putranya yang terus menyendiri, sekalinya ingin ditemani pasti harus Vera.


"Pa duduk disana" tunjuk Excel disebelah Vero.


"Tidak sayang Vero pasti akan marah, papa disini saja" jawab Vano.


"Kau mengusir papa?"


"Tidak pa tapi lihat ibu nya Excel lelah menggendong adik bayi"


"Dibelakang banyak tempat sayang"


"Tidak mau, Excel ingin duduk dengan ayah hari ini"


"Cih kenapa tiba-tiba lebih memilih ayah mu sekarang" ucap Vano pura pura kesal.


"Ada pelajaran penting"


"Apa?"


"Belajar merampas harta benda, itu butuh tenaga, teori, dan taktik"


"Dasar! Baiklah belajar yang giat" kata Vano lalu meninggalkan kursi tempat Excel dan beralih ke kursi lain.


"Ehem!!" Vano pura pura terlihat kesulitan mencari posisi dan Vero menyadari keberadaan Vano yang masih berdiri.


"Papa duduk disini boleh?" Tanya Vano tersenyum manis.


"Terserah" jawab Vero.


Vano tidak menyia-nyiakan waktu dia langsung duduk disebelah Vero, anak itu terlihat tegang dan sedikit pucat sehingga Vano khawatir namun dia tidak berani bertanya lebih jauh.

__ADS_1


Saat pesawat mulai berjalan Vero terkejut bukan main sehingga tangannya refleks memegang lengan Vano.


Wajar dia agak tegang karena baru kali ini dia menggunakan pesawat selama ia hidup.


"Maaf" Vero langsung melepas pegangannya.


"Ini" Vano memberikan cokelat dan permen agar perhatiannya teralihkan dari pesawat yang mulai terbang.


"Tidak suka cokelat dan permen" kata Vero.


Vano mengangkat bahu santai lalu membuka satu permen dan memakannya, Vano menutup mata setelah menghisap permen.


Vero merasa permen yang dipegang oleh Vano terlihat menggoda, kenapa permen sialan itu tidak ia beli sebelum naik pesawat tadi pikir Vero.


Dia membuka tangan Vano yang memegang permen dan cokelat lalu memasukkan dua permen sekaligus dan memasang earphone ditelinga nya menghadap jendela pesawat.


Vano tidak membuka mata namun ia tersenyum melihat Vero mengambil sesuatu ditangannya secara langsung.


"Kenapa pesawat bisa terbang" gumam Vero sembari melihat pemandangan dibawah.


Kali ini pertanyaan Vero lebih masuk akal jika melihat usianya.


"Hm mungkin karena dia punya sayap" jawab Vano.


"Bukan, jika hanya sayap tidak bisa seperti ini, dia pasti memiliki mesin yang membuatnya terbang lalu sayap ini sebagai penyeimbang ketika di udara"


"Tidak kau salah pesawat terbang karena memiliki sayap dan hanya itu jawabannya" sanggah Vano berpura-pura bodoh.


"Itu hanya ilusi tapi sebenarnya tidak seperti yang dipikirkan"


"Ayo bertaruh" ajak Vano.


"Tidak tertarik"


"Kau takut? Baiklah tidak masalah"


"Siapa yang takut, aku hanya tidak tertarik"


"Ya ya"


"Sebutkan taruhannya" kata Vero walaupun ia malas meladeni Vano.


"Jika kau salah maka papa tidak akan meletakkan komputer dikamar mu nanti tapi jika benar papa akan memberikan game keluaran terbaru dan hanya dua orang yang memiliki itu"


"Hanya itu?"


Vano mengulurkan tangannya sebagai tanda perjanjian.


"Deal?"


"Deal" jawab Vero membalas uluran tangan Vano.


Sepertinya Vano tau bagaimana mengendalikan Vero, Vano cukup mengenali dirinya sendiri terlebih dahulu baru ia bisa mengendalikan putranya, karena Vero sama saja seperti bayangan Vano.

__ADS_1


__ADS_2