
Dan tiga hari kemudian David dan Bela akhirnya datang kerumah Salvatrucha untuk melihat putrinya, tiga hari ini mereka tidak bisa datang karena Bela masih berada dirumah sakit.
"Silahkan nyonya Ferrero" sambut Vira dengan ramah, kondisi Vira saat ini tidak seburuk tiga hari yang lalu jadi dia bisa menyambut keluarga Ferrero.
"Terimakasih, nyonya bisa aku bertemu langsung dengan putri ku?" Tanya Bela tanpa basa-basi.
Vira menatap Vino sejenak dan memberikan persetujuan.
"Baiklah ayo ikuti aku" jawab Vira menggandeng lengan Bela ke kamar atas.
"Nyonya apa dia baik baik saja?" Tanya Bela menggenggam erat tangan Vira.
"Kita bicarakan nanti, sebaiknya kau melihat putri mu terlebih dahulu" jawab Vira.
Setelah nenaiki beberapa anak tangga akhirnya Vira sampai di depan kamar tempat Vallen dirawat, keduanya masuk kedalam dan melihat banyak selang ditubuh Vallen.
"Ya Tuhan!" Bela menutup mulutnya menatap putri yang sudah belasan tahun hilang itu kini sudah beranjak dewasa dan sangat cantik.
Bela langsung mendekati Vallen dan memeluknya lalu menciumnya berulang kali, Bela tidak tau harus sedih atau bahagia dengan keadaan saat ini, disisi lain ia senang karena bisa bertemu putrinya tapi disisi lain ia sedih dengan kondisi Vallen.
"Fania sayang bangun" ucap Bela kembali mencium wajah putrinya.
"Maaf nyonya tapi Vallen sangat benci dengan nama itu" saut Vira mencairkan suasanan.
"Dia sangat cemburu dengan Fania teman masa kecil Vano" sambung Bela tersenyum tipis melihat putrinya.
"Nyonya Salvatrucha kenapa putri ku tidak bangun, ada apa dengannya?" Tanya Bela melepaskan pelukannya.
"Mm untuk itu sebaiknya kita bicara diluar" jawab Vira.
Bela menatap Vallen sejenak lalu mengangguk menyanggupi permintaan Vira.
__ADS_1
"Mama akan kembali sebentar lagi, tunggu disini ya sayang" ucap Bela kembali dan kembali mencium Vallen seakan ciuman itu adalah pengganti momen lima belas tahun terakhir.
Ceklek
"Sayang kemana?" Tanya David melihat Bela sudah bersiap-siap keluar.
"Membicarakan keadaan putri kita, kau ingin melihatnya?" Tanya Bela.
"Tentu, tunggu diluar aku akan menyusul" jawab David.
Keduanya keluar sedangkan David masuk kedalam kamar, disana putrinya sudah terbaring lemas, David mendekati Vallen dan duduk dikursi yang telah disiapkan.
"Kemana saja kau putri ku!" Gumam David menatap Vallen.
"Hey papa ingat pernah menabrak mu dulu di kantor Salvatrucha dan kau mengancam papa bukan? Dasar anak nakal kau tumbuh menjadi gadis yang galak bukan seperti mama mu yang kalem" tutur David tersenyum tipis.
"Lima belas tahun sayang, itu bukan waktu yang singkat. Itu waktu yang sangat panjang, mama mu hampir saja gila waktu itu dan sekarang papa mohon bangun ya, jangan buat mama khawatir" kata David mendekati Vallen lalu mencium keningnya.
"Papa percaya kau kuat, orang itu pasti melatih mu menjadi gadis pantang menyerah. Setidaknya 0,0,1 persen papa berterimakasih padanya karena sudah membiarkan mu masih tetap hidup, papa sangat menyayangi mu nak" ucap David berkaca-kaca lalu mencium telapak tangan Vallen dan keluar dari kamar itu karena sudah tidak sanggup menahan air matanya tidak keluar.
"Baiklah sekarang kita berbicara serius mengenai Vallen" ucap Vino menjadi pembuka.
"Memangnya apa yang terjadi dengan putri kami?" Tanya Bela.
Vino menatap semua sejenak lalu mulai bercerita tentang kondisi Vallen saat ini, mulai dari alat alat ditubuh Vallen hingga tindakan akhir adalah operasi.
Bela terus saja menyandarkan kepalanya di dada suaminya mendengarkan penjelasan Vino, rasanya sulit sekali menerima kenyataan disaat putri nya kembali namun kondisinya seperti itu.
"Jadi Putri ku harus dioperasi?" Tanya David sekali lagi.
"Benar tapi resikonya cukup tinggi seperti yang kami ucapkan tadi" jawab Vino.
__ADS_1
"Bagaimana jika operasinya gagal dan Vallen akan menjadi gila" saut Bela gusar.
"Untuk saat ini kita hanya punya dua pilihan" ucap Vira.
"Apapun yang terjadi semuanya pasti baik baik saja, berdoa semoga di aminkan dan dikabulkan" sambung Vino.
"Bagaimana?" Tanya Bela pada David.
"Ini untuk kebaikan putri kita" jawab David mengangguki istrinya.
Brraakk!!!!
Dari balik tembok terdengar suara pecahan gelas atau kaca intinya suara itu sangat keras hingga terdengar ditelinga keluarga yang sedang bermusyawarah.
Ya dia adalah Vano, pria yang sedari tadi mendengar pembicaraan itu. Kakinya hampir tidak bisa berdiri tegak ketika mengetahui kondisi Vallen lebih parah darinya.
"Tidak bisa!!" Tolak Vano mentah mentah.
Kakinya masuk kedalam ruang keluarga membawa infus ditangannya.
"Vano!!" Vira dan Vino langsung berdiri melihat putranya tersadar dari tidur nya.
"Hey kalian gila mengambil keputusan seperti itu!!" Teriak Vano dengan mata tajam sembari memegang dadanya namun itu bukan apa apa dibandingkan dengan apa yang dirasakan Vallen.
"Ini untuk kebaikan kita bersama Vano, Vallen juga pasti seperti itu" ucap Vira pelan.
"Bagaimana jika gagal? Apa kalian pernah memikirkan ini lebih jauh?" Bentak Vano pada semua.
"Dan kau!! (Menunjuk David) jika kau berani mengambil keputusan untuk mengoperasi kekasih ku aku tidak akan mengampuni mu!!" Ancam Vano bergetar karena tidak tahan terlalu lama berdiri.
"Dia putri ku, aku berhak mengambil keputusan" ucap David.
__ADS_1
"Putri mu Fania bukan Vallen, jika pun benar dia putri mu aku tidak akan membenarkan itu!! Jika kau tetap mengambil keputusan bodoh itu keluar dari rumah ini sekarang!!" Kata Vano lalu meninggalkan ruang keluarga menuju ruangan dimana Vallen dirawat.
"Dia sedang tidak berpikir jernih, jangan dimasukkan kedalam hati" ucap Vino datar menepuk pundak David.