Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 214


__ADS_3

09:00 Vano bangun dari tidurnya, pagi tadi cukup membuatnya sedikit pusing karena tidak tidur dan sekalinya tidur dia harus bangun lagi untuk shalat subuh.


Vano tidak bicara apapun dan tidur lagi setelah membantu Vallen pergi ke kamar mandi mengambil air wudhu.


Dan sepertinya diluar cukup ribut, entah apa yang terjadi Vano belum tau apa apa, dia pergi ke kamar mandi sebentar untuk membasuh wajahnya.


Ceklek


Saat membuka pintu Vano melihat ruang keluarga dengan mata terang, dia kembali menggosok matanya yang mungkin salah lihat.


"Umi Abi?"


Vano masih bingung kenapa banyak orang berkumpul disana bahkan keluarga dari Vallen seluruhnya bergabung.


Vira, Vino, Lina, Faris, Andre, Zoya, Faris, Zea, Sarah beserta putrinya yang masih kecil, Ethan, Rifka, Excel, Tristan, David, Bela, Vallen, Syifa, Riki dan dua anak kembar mereka beserta Rafi, ibu tita dengan suaminya, serta kedua orang tua David.


Ramai dan ribut seperti suasana lebaran membuat Vano bingung dengan keadaan itu, ia kira mimpi tapi ternyata tidak.


"Selamat pagi sayang" sapa Vira.


Vano mendekati semuanya dan mulai bersalaman kepada semua yang ada disana.


"Umi abi kenapa,,,," Vano pun tidak tau harus menanyakan apa.


"Iya sayang kami sengaja berkumpul disini untuk bersilaturahmi, kita belum pernah mengadakan acara seperti ini bukan"


"Ta,,, tapi kenapa Vano tidak tau apapun?" Tanya Vano bingung.


Vano ikut berkumpul dan berbincang bincang dengan seluruh keluarga mereka ya walaupun agak mendadak Vano tetap saja berusaha mencari topik pembicaraan.


Dari atas Vero juga ingin tau apa yang sedang terjadi kenapa dibawah sangat ramai tapi dia tidak bisa keluar, sudah hal yang biasa jika Vero mati penasaran ketika ada orang yang bertamu dan dia tidak tau apa apa, dia hanya bisa bertanya pada pelayan karena tidak diberi izin turun kebawah.


"Tuan muda nona memanggil anda turun kebawah"


"Aku?"


"Iya tuan muda"


"Bibi turun saja terlebih dahulu Vero menyusul nanti"


Pelayan tersebut mengangguk dan turun, rasanya sangat bahagia dan seolah terlepas dari rantai rantai yang mengikatnya, ini kedua kalinya Vero diizinkan turun kebawah bertemu dengan seseorang dan itu adalah kebahagiaan tersendiri untuknya.

__ADS_1


Vero bersiap siap turun menemui orang orang dibawah, yaah meskipun harus bertemu dengan orang yang masih malas ia lihat.


"Mama"


Panggilan Vero berhasil membuat seluruhnya menatap kearah tangga dan melihat seorang anak kecil sedang memanggil seseorang.


"Sayang kemari" ucap Vallen.


Vero tersenyum mengangguki permintaan mamanya dan turun kebawah lalu duduk bersamaan.


"Baiklah semuanya karena kita sudah berkumpul disini kalian berhak tau ini siapa, dia adalah Vero Kakak dari Vera" ucap Vallen.


Vero hanya menikmati jalannya cerita orang orang dewasa walaupun dia merasa asing dengan seluruh orang orang disana.


"Hay Vero" sapa mereka.


Vero hanya membalas dengan senyum tipis tanpa sepatah kata, bohong jika dia tidak merasakan kehangatan didalam keluarga itu.


Dari ujung sana Rafi cukup terkejut melihat Rifka juga ikut berkumpul dalam keluarga mereka, dia benar benar bingung kenapa gadis ini bisa ada ditempat itu.


"Ehem!!" Rafi memberikan sinyal pada Rifka seolah-olah dia bertanya kenapa ada disana.


Rifka cuek bebek karena kakaknya ada disana, dia tidak ingin Ethan melihat mereka memberikan kode kode.


"Ada apa?" Tanya Syifa balik.


"Ada calon menantu mama"


"Benarkah?"


"Iya ma tapi Rafi bingung kenapa dia juga ada disini"


"Ya sudah mumpung semua keluarga kita berkumpul disini kamar saja"


"Tidak tidak Rafi tidak berani"


"Cih pengecut!" Saut Riki.


"Papa juga berkacalah, siapa yang tidak berani mengungkapkan perasaannya selama 8 tahun?" Tantang Rafi kesal.


"Nak siapa namamu?" Tanya Riki pada gadis disamping Ethan.

__ADS_1


"Rifka om"


"Mau menjadi menantu om?"


Rifka mengerutkan keningnya, dia siapa anaknya siapa Rifka tidak tau karena setaunya Rafi itu anak dari David dan Bela.


"Menantu om, om siapa dan anaknya mana?" Tanya Rifka.


"Ni disamping om, katanya tidak berani melamar mu disini karena banyak orang"


"Maaf tuan adik saya belum bisa menikah dia masih kecil" saut Ethan.


Rafi terkejut bukan main mendengar kata adik, jadi selama ini yang diceritakan Rifka adalah Ethan, alih alih semakin berani Rafi malah merinding melihat tatapan Ethan.


"Usianya berapa?"


"20 tahun"


"Baiklah pasangkan cincinnya" ucap Riki memberikan cincin pernikahan nya dengan Syifa.


"Tuan anda,,,,"


"Jangan salahkan kami karena kalian juga datang melamar Vallen dengan cara yang luar biasa di usia 18 tahun"


"Mau?" Tanya Ethan pada Rifka.


"Terserah kakak"


"Kemari" Ethan memanggil Rafi untuk mendekat.


Dengan pelan Rafi berjalan mendekati Ethan dan Rifka membawa cincin kedua orangtuanya.


"Tunggu apalagi? Cepatlah sebelum aku berubah pikiran"


"Boleh?" Tanya Rafi terkejut.


"Mmm"


Rafi tersenyum dan langsung memasangkan cincin dijari manis Rifka dengan banyaknya mata dari keluarga mereka, siapa yang tidak gugup ditatap seperti itu.


"Pernikahan satu minggu lagi" ucap Riki.

__ADS_1


"Tapi,,,," Vano terdiam dan tidak jadi berkomentar karena ia merasa tidak asing dengan perkataan itu.


Dan dia baru ingat perkataan itu juga pernah ia lontarkan ketika melamar Vallen, Riki berhasil membalaskan dendam lama sahabatnya pada keluarga Salvatrucha walaupun hanya satu titik terkecil.


__ADS_2