Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 52


__ADS_3

Paginya Vano mulai bersiap dengan aksinya meyakinkan seorang gadis untuk mempertahankan sebuah rasa yang sudah ada.


"Vallen kau yakin mampu melupakan ku? Mustahil!" Ucap Vano didepan kaca menatap ketampanan dirinya sendiri.


"Berusahalah melupakan ku semampu mu karena mulai hari ini kau adalah milikku, tidak masalah kau setuju atau tidak"


"Vallen aku datang" imbuh Vano mulai bergerak keluar kamar menuju dapur dan membawakan sarapan untuk sang gadis tercinta.


Tok,,,,tok,,,tok


Vano mengetuk pintu kamar Vallen sangat pagi bahkan sebelum waktunya sarapan, mungkin Vano terlalu bersemangat hingga tidak memperhatikan waktu bahkan ia masih menggunakan sarung karena baru selesai shalat subuh.


"Va,,, Vano ada apa?" Tanya Vallen bingung melihat pakaian Vino seperti itu dan ia sangat jarang menggunakan sarung keluar dari kamar.


"Aku bawakan sarapan, ayo sarapan bersama" jawab Vano tersenyum hangat.


Vallen semakin bingung dengan Vano, seumur hidupnya tinggal dirumah itu Vano tidak pernah tersenyum semanis itu didepan Vallen.


"I,,,ini sangat pagi apa kau yakin?" Tanya Vallen mengernyitkan dahi.


Vano tersenyum mengiyakan ucapan Vallen, pria itu membawa Vallen duduk di kursi samping pintu kamar Vallen yang dulunya kamar Vano.


Ceklek


Ethan keluar dari kamarnya dan melihat pemandangan seperti itu hatinya seperti ingin berteriak kenapa harus dia yang melihat Vano dan Vallen bermesraan.


Ethan menyesal telah mengatakan iya untuk pindah kamar menjaga Vallen, dia harus menerima resiko seperti ini sewaktu waktu.


Namun kali ini dia tidak berani mengganggu, Ethan berjalan menunduk menuruni anak tangga.


"Anggap angin lalu" ucap Ethan sangat kecil bahkan semut pun tidak mendengar ucapan itu.


"Memangnya ini jam berapa?" Tanya Vano sembari menyuapkan Vallen roti selai cokelat dan tak lupa diiringi senyum manis.

__ADS_1


"Jam 05.50" jawab Vallen melihat jam tangannya dan menerima suapan dari Vano.


Rupanya aku terlalu bersemangat sampai melupakan waktu, Vano bodoh!! Harusnya lihat waktu terlebih dahulu. Batin Vano


"Mm sepertinya ini salah urutan tadinya aku ingin mengajakmu olahraga, kau ingin ikut? Ah tidak seharusnya aku tidak perlu menanyakan itu karena kau pasti akan ikut" ucap Vano tersenyum kikuk.


Vallen semakin bingung dengan tingkah Vano saat ini, pria itu berubah drastis menjadi pria hangat dan penuh senyum manis.


"Vallen ayo!" Ajak Vano mengulurkan tangannya.


"Heuh? Ah ya" Vallen tidak ingin membalas uluran tangan itu karena pertahanan nya tadi malam untuk melupakan Vano sepertinya akan runtuh jika Vano terus seperti itu.


Baiklah kita lihat seberapa jauh benteng pertahanan mu untuk melupakan ku. Batin Vano


"He,,,hey!!" Panggil Vallen.


"Mm??"


Vanoo!! Fokus!! Kau gila menggunakan sarung berolahraga? Iiishh kenapa tiba-tiba menjadi bodoh seperti ini!. Batin Vano kesal


"Tidak tidak aku baru saja ingin menyuruh mu menunggu, bersiaplah kita akan pergi sekarang" ucap Vano menggaruk-garuk kepalanya.


Untung saja orang yang ia ajak bicara bodoh jadi Vallen tidak mengerti kenapa Vano bisa seperti itu dan dia tidak tau Vano melakukan kesalahan fatal dalam membujuknya untuk tidak menghilangkan rasa cinta itu.


Oke aksi pertama gagal total tapi aksi kedua jangan harap akan gagal!!. Batin Vano


Setelah keduanya selesai bersiap siap Vano keluar menuju taman menemui Vallen disana, dia yang dirayu namun dia yang menunggu. Teori dari mana itu akupun sebagai author bingung dengan dua manusia ini.


"Taman biasa dekat dari sini, kita bisa kesana sebelum aku berangkat bekerja" ucap Vano.


Vallen mengiyakan ucapan Vano lalu keduanya berlari pelan menuju arah taman, Vano mulai menyiapkan kata kata untuk Vallen ditengah jalan.


Apa yang harus ku lakukan selanjutnya, aku bingung aku bingung ahh pura pura terjatuh saja tidak tidak itu akan merusak citra Vano Salvatrucha. Batin Vano

__ADS_1


"Aaww!!!" Karena sibuk melamun Vano tidak sadar kemana arah ia berlari sehingga menabrak tiang listrik sampai terjatuh karena terlalu keras.


"Kau baik baik saja?" Tanya Vallen memegang kening Vano.


"Ba,,, baik" jawab Vano pura pura tidak kesakitan padahal keningnya sangat perih.


"Ini tidak baik lagipula kenapa tidak melihat jalan" kata Vallen sembari meniup kening Vano.


Cup


Vallen tiba tiba mencium kening Vano karena kekhawatiran nya melihat kening itu memerah, Vano membulatkan mata seperti telah dianiaya seseorang.


"Va,,, Vallen apa yang kau lakukan!" Ucap Vano terbata bata.


"Kemari aku lihat kening mu" ujar Vallen namun Vano tetap menjauh walau Vallen sudah mendekatinya.


"Vallen lain kali tidak boleh seperti itu, jangan mencium orang sembarangan!!" Kata Vano.


"Rafi juga melakukanya pada kekasihnya" gumam Vallen.


"Ingat jangan sebut nama pria didepan ku dan untuk kali ini tidak masalah karena satu hal yang perlu kau ketahui, kau tidak perlu mengikuti hal hal seperti itu dari orang lain" kata Vano memberikan pengertian singkat secara jelas agar Vallen dapat mencerna ucapan Vano.


"Vallen kali ini aku serius, aku tidak ingin berlarut larut dengan masalah ini. Kau ingin menjadi istri ku?" Tanya Vano tanpa perlu basa basi.


"Mm? Kenapa tiba-tiba mengarah kesana?" Tanya Vallen bingung.


"Kau ingin melihat keseriusan ku bukan? Lihat sekarang aku sedang serius. Aku tidak ingin kau berpikir terlalu jauh bahwa keluarga ku akan celaka jika kau masuk kedalam nya, aku benar-benar serius kali ini jangan anggap pertanyaan ku tidak penting Vallen" Tutur Vano menatap Vallen dengan serius seperti biasanya.


"Tapi,,,"


"Tidak perlu tapi untuk mengiyakan karena tapi adalah awal dari penolakan, aku tidak ingin itu terjadi. Kau perlu bukti untuk meyakinkan diri? Baiklah ikuti aku" ucap Vano.


Dia berdiri terlebih dahulu sebelum membantu Vallen berdiri sejajar dengannya, Vano membawa Vallen kembali dan tidak jadi berolahraga karena sebenarnya itu bukan tujuan awal.

__ADS_1


__ADS_2