
Vano berjalan ke kamarnya membawa bayi melewati Farel dan Zea yang sedang duduk menonton televisi, Farel sendiri bingung kenapa dia bisa basah kuyup seperti itu tapi dia tidak peduli toh percuma perduli jika Vano akan marah marah saat ditanya kenapa.
Beberapa saat kemudian Vano memutuskan untuk mengembalikan bayi itu pada baby sitter nya sebelum dia disiksa kembali.
Huuhh
Vano menghembuskan nafas melihat kepergian bayi itu dari rumah, saat akan masuk kedalam dia teringat akan ekspresi Vallen tadi saat ia meninggalkan gadis itu.
Vano berjalan menuju kolam renang dan disana Vallen terlihat sedang menendang nendang air dengan kakinya, wajah gadis itu terlihat sendu sekarang.
"Vallen" panggil Vano sambil memegang bahu gadis itu.
Vallen terus menendang air kolam tanpa memperdulikan Vano atau mendengar suaranya.
"Maaf ya" ucap Vano mengelus rambut gadisnya.
Jika sedang malas bertengkar Vallen lebih memilih menghindar dari Vano seperti saat ini.
"Sudah jangan marah, maaf atas kesalahan tadi aku yang salah telah mengabaikan bayi itu" imbuh Vano.
__ADS_1
Vallen tetap tidak merespon hingga beberapa saat, Vano sangat amat mirip dengan abinya dia tidak bisa didiamkan terlalu lama pasti dia akan frustasi.
"Aku tidak akan menggunakan nada tinggi lagi saat berbicara" ucap Vano kali ini sambil memegang lengan Vallen.
"Maaf" kata Vallen menunduk.
"Tidak aku yang minta maaf, kau tidak pernah salah jikapun kau melakukan kesalahan aku yang akan memperbaiki itu. Jangan pernah mengalahkan dirimu lagi dan maaf sebesar-besarnya atas perkataan ku tadi" ucap Vano lalu mencium punggung tangan Vallen.
Keduanya terdiam dengan tatapan dalam masing-masing, Vano mendekatkan wajahnya pada wajah Vallen tanpa menatap kearah lain.
Wajahnya maju semakin dekat dan hidungnya hampir menyentuh wajah Vallen.
Vano tersadar dan langsung menjauhkan dirinya, Vano mencoba mengumpulkan akal sehat agar tidak terpancing dengan kecantikan itu.
"Benar kata orang tidak baik berdua tanpa hubungan akibatnya akan kacau" gumam Vano.
"Hey lihat itu!" Ucap Farel menunjuk CCTV yang ada di tembok penghalang.
Vano memperhatikan maksud dari Farel, matanya membulat sempurna melihat dua CCTV sekaligus sedang merekam dirinya dan tentu kejadian tadi ikut terekam.
__ADS_1
"Bukan hanya itu tapi lihat ini, ini, ini, itu, itu, itu, dan itu" kata Farel menunjuk seluruh kamera pengintai yang ada dirumah kebesaran Vino Salvatrucha.
Vano menepuk keningnya karena merasa bodoh telah mempercayai abinya begitu saja, Vano tidak mungkin lepas dari genggaman Vino dengan mudah apalagi membiarkannya bersama seorang gadis tanpa pantauan, Vino sadar betul di usia putranya yang sekarang tidak mungkin tidak ada nafsu pada seorang gadis.
"Bersihkan seluruh kamera ini dan hapus jejaknya hingga bersih!!" Titah Vano menegang.
"Kenapa? Memang nya kau melakukan apa?" Tanya Farel dengan senyum liciknya.
"Ti,,, tidak melakukan apa apa" jawab Vano sambil berkeringat.
"Jika tidak melakukan apa-apa kenapa berkeringat seperti itu?" Tanya Farel semakin dalam.
"Tadi aku hampir membunuh bayi jadi jika umi dan Abi melihatnya maka tamat riwayat ku" saut Vallen mengangkat kepalanya menghadap Farel.
"Sial!! Kenapa tidak bilang dari tadi!! Tante dan Om pasti akan melihatnya!!" Ucap Farel langsung bergegas mencabut kamera kamera pengintai lalu berlari keruang pengendali CCTV untuk membersihkan seluruh data data yang telah terkirim otomatis ke ponsel Vino.
###
ada saatnya Vallen pinter, tunggu tanggal mainnya aja ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1