
Ternyata perkiraan dokter intan salah, dua Minggu sudah Vallen terbaring tanpa ada perkembangan. Matanya tetap tertutup sempurna bahkan Vano sudah berusaha menuruti perkataan dokter untuk mengaja Vallen berbicara setiap hari.
"Sayang kau tidak lelah seperti ini terus? Ayo bangun kita lihat matahari bersama sama" ucap Vano menggenggam erat telapak tangan Vallen.
"Kau tau? Sudah berapa ratus jam yang kau lewati untuk melihat matahari? Kau tidak merindukan nya? Ayolah Vallen buka matamu aku sangat merindukanmu" kata Vano lagi.
Vallen tidak pernah memberikan respon apapun itu bentuknya tapi Vano terus saja berbicara sendiri seperti berbicara didepan patung.
"Vallen jika suatu saat nanti kau sadar kita menikah ya, apa kau tau didalam agama ku menikah itu untuk menyempurnakan ibadah. Setelah kau sadar kau harus siap menjadi penyempurna ibadah ku"
Wajah Vallen yang tadinya tenang terlihat seperti sedang meneteskan air mata, dan tangan Vallen sedikit membuat reaksi.
"Hey kau benar benar ingin menikah dengan ku? Kau siap memiliki anak manusia?" Tanya Vano berkaca kaca mencium tangan gadisnya.
Ini aneh Vallen semakin mengencangkan gerakan tangannya, apa dia,,,,
Vano langsung melepas genggamannya lalu berlari keluar ruangan dan mencari dokter intan, Vano gusar takut terjadi sesuatu dengan Vallen, keluarganya kembali berkumpul termasuk Bela dan David yang sudah menginap dirumah itu beberapa Minggu ini.
"Sayang putri kita"
"Tenanglah semuanya pasti baik baik saja" ucap David membawa Bela kedalam pelukannya.
Ceklek
Dokter intan keluar, wajahnya tidak terlihat tenang sama sekali dan kaki tangannya bergetar hebat ditambah bibirnya yang tidak mampu mengucapkan satu kalimat.
"No,,, nona"
"Vallen kenapa!!" Vano panik setengah mati melihat ekspresi wajah dokter intan.
"No,,,nona Vallen sa,,,sadar" ucap dokter intan.
__ADS_1
Tanpa satu dua tiga Vano langsung masuk kedalam kamar dan setelah masuk benar perkataan dokter intan, mata indah itu terbuka lebar dan memancarkan sinar walau masih pucat.
"Sayang" Vano memegang tangan Vallen lalu menciumnya berulang kali.
Perlahan Vino, David dan yang lainnya masuk melihat keadaan Vallen, gadis itu masih terlihat ling lung apalagi dengan tatapan nya menatap Vano, Vino dan David.
"Nona bisa kau mendengar ku?" Tanya dokter intan berusaha menenangkan diri.
Vallen mengangguk tapi tatapan nya tidak lepas dari Vano, Vino dan David.
"Siapa nama mu?"
"Vallen"
"Usia mu?"
"18"
"Pekerjaan mu?"
Bela dan David kembali berpelukan melihat putri mereka kebingungan seperti itu.
"Baiklah Vallen apa kau mengenal orang ini? Siapa dia?" Tanya dokter intan.
"Aku bingung" jawab Vallen.
"Mereka bertiga adalah target tapi aku bingung kenapa tidak ada perintah untuk membunuhnya" imbuh Vallen menatap targetnya terutama Vano.
Ketiganya saling menatap mendengar ucapan Vallen, jelas masih ada yang tidak beres disini.
"Maaf nona aku lancang" ucap dokter intan lalu membuka mata Vallen dengan tangannya.
__ADS_1
Dokter intan mengambil lensa dimata Vallen, ia sudah menduga lensa dimata gadis itu sudah cukup lama bersarang disana dan pasti itu berpengaruh dalam dunia gelap seperti Vallen.
Vallen mengerjapkan matanya dan kembali menatap Vano, tidak ada tulisan komputer dimatanya hanya ada tatapan tulus seorang pria disana.
"Bagaimana dengan sekarang nona?" Tanya dokter intan.
"Aku benci orang ini pergi sana!!" Ucap Vallen ketus.
"Hey jangan seperti itu, maaf jika aku banyak salah" kata Vano menggenggam erat tangan kekasihnya.
"Pergi tidak!!"
Vano melihat sekeliling nya, rasa sedihnya semakin bertambah berkali kali lipat melihat sifat Vallen namun anehnya kenapa orang orang disana tersenyum melihat Vano seperti itu.
"Vallen izinkan aku tetap disini ya" pinta Vano.
"Tidak! Pergi sana" ucap Vallen kekeh bahkan ia pun ikut tersenyum geli melihat ekspresi Vano.
"Dasar bodoh!! Itu artinya kekasih mu berhasil menjalani operasinya dan tidak gila" saut Vino ketus.
Vano mencoba mencerna kalimat abinya, pantas saja saat Vallen mengajaknya berbicara selalu nyambung dan tidak membuat gejala gejala orang kelainan jiwa seperti umumnya.
Vano refleks berdiri memeluk Vallen namun itu bertahan setengah detik karena rayuan setan yang terlalu menggugah nafsunya.
"Maaf aku terlalu senang" ucap Vano kembali membuat posisi duduk senyaman mungkin memegang lengan kekasihnya.
"Apa tidak ada jalan untuk orang tua nya" saut David datar.
"Nanti saja" ucap Vano menatap Vallen dengan senyum manisnya.
Semua menggelengkan kepala melihat tingkah bodoh Vano, semua menghela nafas lega karena Vallen ternyata baik baik saja dan operasi dikepalanya berjalan lancar.
__ADS_1
🌱🌱