
Di gudang gelap, sepi, dan dingin Vallen menyipitkan mata. Tubuhnya tidak bisa bergerak akibat ikatan tali di badannya.
"Sudah sadar nona?" Tanya Sarah.
"Mm" Vallen menganggukkan kepala namun ia bingung kenapa Sarah memanggilnya nona lagi.
"Kenapa kau memanggilku nona Sarah, panggilan biasa"
"Jangan terlalu mempermasalahkan panggilan nona, mereka akan menghukum ku jika melakukan itu"
"Terserah kau saja" Vallen mengamati sekelilingnya.
"Zea bangun hey!!" Vallen menggeliatkan tubuhnya akan gadis dibelakangnya terbangun.
Ketiganya terikat dalam satu tiang, Vallen belum bisa membuat rencana untuk kabur jika tim-nya belum lengkap.
"Zea!!"
"Diam!!" Suara teriakan dari luar membuat Vallen dan Sarah bungkam.
Keduanya hening hingga beberapa menit lalu kembali menggerakkan tubuh agar Zea terbangun.
"Ssshh"
"Kau sudah bangun" bisik Vallen.
Zea langsung sadar dengan apa yang terjadi, mereka diculik dan disekap ditempat ini.
"Di,,,dimana ini?" Tanya Zea menatap sekeliling ruangan gelap.
"Huusstt!! Jangan berisik" bisik Sarah.
Zea mengangguk dengan sejuta ketakutan dalam benaknya.
"Kita akan kabur tapi sebelum itu kita bertiga harus melakukan tugas kekompakan"
"Apa?"
"Gerakkan tubuh kalian di ujung sisi tumpu tiang ini secara bersamaan dan kuat!" Titah Vallen.
"Cepat waktu kita tidak lama!!"
Zea dan Sarah mengangguk lalu mulai bergerak gerak, hampir sepuluh menit mereka melakukan hal yang sama hingga perlahan tali itu teriris sedikit demi sedikit.
Ceklek!!
Tuan Richard masuk kedalam gudang dan duduk tepat didepan Vallen, Sarah langsung menyembunyikan bekas tali yang sudah teriris tadi.
"Apa kabar anak ayah?" Tanya tuan Richard dengan senyum tipis.
"Cih!!" Vallen mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Dia tidak kaget sama sekali bahwa orang yang sering mencuci otaknya ternyata ayah dari Rifka.
"Sudah selesai bersenang senang nya?" Tanya tuan Richard lagi.
"Aah ya ayah,,,,"
"Dengar!!! Kau bukan ayah ku!!" Balas Vallen menatap tajam tuan Richard.
"Pandai melawan sekarang, baiklah karena suami mu akan segera datang kita akan bermain petak umpet"
"Kenapa kau tidak membunuh ku saja hah!!! Kau menginginkan harta kedua orang tua ku kan!!" Teriak Vallen emosi.
"Sabar sebentar lagi kalian semua akan mati hanya menunggu waktu yang tepat saja"
Mendengar suara dingin dan menakutkan itu Zea berkeringat dan tubuhnya semakin bergetar.
"Karena aku baik maka aku akan mengabulkan permintaan kalian. Pengawal!!"
Dua pengawal mendekat saat dipanggil.
"Iya tuan"
"Bawa gadis di ujung sana menuju telaga kering!!"
Vallen dan Sarah terbelalak mendengar perintah tuan Richard, telaga yang sering digunakan untuk membunuh musuh mereka dengan cara disetrum setelah air terisi.
"Jangan macam-macam Richard!! Kau ingin mati!!" Teriak Vallen.
Tuan Richard mengeluarkan seringai liciknya lalu pergi dengan membawa Zea.
Vallen belum berpikir jernih karena ia panik bahkan ketika Sarah sudah berhasil melepaskan ikatannya Vallen tetap tidak bergerak.
"Vallen cepat kita harus melakukan sesuatu!!" Ujar Sarah sembari membantu Vallen melepaskan ikatan nya.
Vallen langsung tersadar, dia melihat sekeliling dan tidak ada orang tapi jangan harap diluar sepi.
"Beberapa dari mereka pasti sedang terpecah, pengawal akan lebih banyak berada di depan hutan menyambut kedatangan Vano, satunya lagi menjaga Richard dan sisanya ada disini"
"Artinya kita bisa menyerang mereka?" Tanya Sarah.
Vallen mengangguk lalu mengambil kayu sedangkan Sarah mengambil besi.
"Didepan pintu ada dua penjaga, setelah aku melempar batu ini mereka pasti akan masuk"
Keduanya bersembunyi dibelakang pintu lalu melempar batu dan rencana berhasil. Beberapa pengawal masuk kedalam.
Bughh!!!
Vallen dan Sarah memukul keras titik kelemahan dua pengawal tersebut hingga mereka tersungkur pingsan.
"Cepat waktu kita tidak banyak, air itu akan terisi penuh sebentar lagi" kata Vallen.
__ADS_1
Keduanya bergerak keluar dan melihat matahari hampir tenggelam, bahaya jika mereka tidak sampai tepat waktu di kolam itu.
"Ada mobil, kita akan menggunakan itu agar tepat waktu"
"Baiklah aku akan menyetir!! Saut Sarah.
Keduanya mengambil dua senapan dari pengawal yang mereka lumpuhkan tadi, tidak mungkin jalanan mereka akan mulus nantinya.
Sarah mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju kedalam hutan yang lebih sepi lagi, mungkin hanya para mafia yang menghuni tempat itu.
Dorr!!
Mobil mereka terguncang ketika peluru menancap dari atas, Vallen mengintip dari jendela dan ternyata tuan Richard juga menggunakan helikopter untuk menyerang.
"Aaahh!!!" Vallen berteriak karena emosi dengan persiapan matang tuan Richard.
"Didepan ada jurang yang cukup curam Vallen" ujar Sarah sedikit panik walau wajahnya terlihat tenang.
"Baiklah aku akan mengalihkan perhatian mereka, kau harus melakukan pekerjaan mu dengan baik! Kau membawa pisau?"
"Iya aku membawanya"
"Bagus!! Sekarang lakukan pekerjaan mu ingat jangan sampai melewati lima menit!"
"Baik, hati hati diluar Vallen"
Vallen mengangguk lalu keluar membawa senapan, dia menuju jurang menarik perhatian helikopter diatas kepalanya.
Sedangkan Sarah keluar dari mobil lalu merangkak kebawah untuk memodifikasi isi dari mobil mobil tersebut, dia memotong banyak selang dibawah dengan sangat cepat.
Tangannya habis berwarna hitam karena cairan mobil bahkan wajahnya juga terkena, Sarah keluar lalu menyobek pakaiannya cukup besar, dia tidak peduli jika perutnya terlihat karena tehnik menyelamatkan diri memang seperti ini.
Setelah menyobek pakaiannya Sarah membuka penutup bensin dan meletakkan potongan pakaian tadi.
Sarah mengambil batu lalu membuat percikan api hingga beberapa detik. Kerja kerasnya tidak sia sia api tersebut berhasil menyala di ujung sobekan kain tadi.
"Siap!!!" Teriak Sarah agar Vallen mendengar nya.
Sarah mendorong mobil kedepan hingga mobil tersebut berjalan dengan sendirinya, remnya dibuat blong.
Sedangkan Vallen yang berpura pura menyerah melarikan diri dari helikopter yang hampir turun menjemputnya
Dduuuaaarrrr!!!!!
Mobil dan helikopter tersebut meledak bersamaan akibat mobil yang ditaruhkan api dan diiringi helikopter yang berjarak sangat dekat dengan mobil.
Vallen menyandarkan tubuhnya dibelakang pohon besar, ia kelelahan berlari dan terus berlari agar tidak terkena ledakan besar tersebut.
Dari kejauhan Vano dan yang lain menyaksikan ledakan besar tersebut, kobaran api serta asap mengepul ke atas sehingga mereka sudah dapat memastikan bahwa Vallen dan Sarah melakukan perlawanan.
Mereka segera mendekat walau ratusan pengawal menyerang mereka, jika tuan Richard mampu menyewa ratusan pengawal maka Vano mampu menyewa ribuan pengawal.
__ADS_1