
Malam hari Vano dan Ethan pergi ke kantor Farel karena ponselnya tidak bisa dihubungi dan resepsionis juga tidak tau harus menjawab apa pasalnya seluruh ruangan Farel tertutup rapat.
Tok,,,, tok,,,,tok
"Farel buka pintunya, kau baik-baik saja? Hey!!" Teriak Ethan dari luar.
Keduanya khawatir karena teror yang mereka dapatkan beberapa hari belakangan ini.
Didalam telinga Farel hanya mendengar sayup teriakan Ethan, baru ingin beristirahat setelah melakukan sunnah ada saja yang mengganggu.
Farel melihat Zea yang tertidur pulas, perlahan Farel melepaskan dirinya dari tubuh Zea padahal ini adalah malam pertamanya tidur tanpa sehelai kain dengan Zea.
Setelah berhasil lepas Farel mengenakan pakaiannya yang berserakan dibawah, pria itu terlihat berantakan sekarang.
Ceklek
"Apa?" Tanya Farel datar.
Tanpa sopan santun keduanya langsung masuk kedalam ruangan Farel, mereka melihat sekeliling namun tidak ada yang aneh.
"Hey kalian sedang apa?" Tanya Farel bingung disela sela ketidaksadaran nya.
"Apa ada orang yang mengawasi mu sehingga kau tidak berani keluar sampai larut malam? Apa mereka mengancam mu? Apa mereka,,,,"
"Unfaedah sekali kedatangan kalian, keluar sana" usir Farel.
"Zea dimana? Apa dia baik baik saja?" Tanya Ethan panik kesana kemari.
"Dimana dia?" Tanya Vano juga.
"Hey ada apa dengan kalian, Zea ada dimana juga bukan urusan kalian kan" jawab Farel ketus.
"Tidak, kami harus memastikan semua berkumpul disini, tidak ada yang hilang, Ethan ayo periksa kamar pribadi" ucap Vano langsung berjalan ke kamar Farel.
Yang tadinya Farel ngantuk bukan main sekarang seperti tersambar petir melihat pergerakan dua manusia biadab itu membuka kamarnya.
"Hey hey tunggu ja,,,,jangan" Farel menarik lengan Vano dan Ethan namun sayang tangan Ethan sudah berhasil memegang gagang pintu.
Ceklek
Satu arah pertama yang dilihat oleh Ethan adalah pakaian adiknya yang berserakan dibawah lalu tubuh Zea tertutup rapat hingga ujung leher.
Ceklek!!!
Dengan kasar Ethan menutup kembali pintu agar Vano tidak melihatnya, kini rasa bersalah telah menjadi pengganggu timbul dibenak Ethan.
"Hey ada Zea didalam?" Tanya Vano.
Ethan mengangguk dengan tatapan polos. Kini wajah Farel hanya datar, tidak ada tarik menarik lagi setelah Ethan melihat kondisi adiknya didalam.
"Apa?" Tanya Farel menyembunyikan rasa malunya.
"Hehe kita bicarakan besok ya, pulanglah lebih awal" jawab Ethan cengengesan sembari menarik paksa Vano keluar.
"Hey aku masih belum ingin pulang, lepaskan!!" Kata Vano.
"Ayolah urusan perang besok saja" ucap Ethan sembari memeluk perut Vano lalu mengangkatnya keluar ruangan Farel.
__ADS_1
"Ethan lepaskan aku!!" Teriak Vano kesal.
"Kudengar malam ini Vallen sengaja berdandan cantik untuk menyambut mu dirumah, apa kau tidak ingin melihatnya?" Tanya Ethan.
"Benarkah" seketika urusan Farel hilang mendadak dipikirkan Vano setelah Ethan mengatakan itu.
"Iya jika kau tidak percaya ayo pulang dan lihat" ajak Ethan.
Tanpa berpikir lama Vano masuk kedalam mobil dengan hati berbunga-bunga, Ethan menghela nafas setelah berhasil membujuk bos-nya menjauh dari kantor Farel malam ini saja.
Sampai dirumah senyum Vano mengembang hanya dengan melihat pintu rumahnya, Vano langsung masuk dan menaiki anak tangga.
Tok,,,tok,,,tok
"Sayang" panggil Vano.
Ceklek
Vallen keluar dengan menggunakan masker lalu membawa selimut tebal.
"Ini tidur diluar" kata Vallen memberikan selimut.
"What?" Senyum Vano seketika hilang mendengar perkataan istrinya.
"Ta,,,tapi kenapa?" Tanya Vano bingung.
"Pulang tidak tau waktu, lihat jam berapa ini. Kerja apa saja dikantor? Sibuk sekali bapak ini rupanya" sindir Vallen seperti ibu ibu komplek.
Vano heran sendiri mendengar ocehan Vallen, biasanya Vano pulang jam berapapun tidak masalah asal dia pergi bekerja.
"Sayang tadi mampir sebentar di kantor Farel, ada urusan"
"Astaghfirullah sayang kenapa marah marah seperti itu, baiklah maafkan aku ya aku janji,,,,"
"Aaahh aku tidak perlu janji mu intinya malam ini tidur diluar!!"
Brakk!!
Vano menutup matanya mendengar lengkingan pintu, pria itu memutar tubuhnya ke arah kamar tamu namun terkunci, Vano menuju kamar selanjutnya dan sama semua terkunci, rupanya Vallen mengunci seluruh kamar agar Vano tidak bisa masuk. Terpaksa pria itu menuruni anak tangga dan tidur di ruang keluarga.
"Lalala"
Suara Ethan yang ada dibawah tentu terdengar jelas ditelinga Vano, ciihh enak sekali tidur dengan istrinya sedangkan aku tidur sendiri pikir Vano.
Vano langsung keluar dan menatap datar kearah Ethan yang hendak masuk ke kamarnya.
"Ingin kemana paduka?" Tanya Vano sinis.
"Tidur lah kemana lagi" jawab Ethan santai membuka pintu.
"Hay" sapa Ethan pada Sarah yang sudah menunggu didepan pintu.
"Kemana saja? Kenapa pulang larut sekali?" Tanya Sarah.
"Ahh ya aku lupa memberitahu mu jika,,,,"
"Tadi dia bertemu dengan seorang gadis dan gadis itu sangat cantik sampai sampai Ethan menawarkan untuk mengantarnya pulang" ucap Vano memotong kalimat Ethan.
__ADS_1
Ethan mengernyitkan dahi mendengar fitnah dari bos-nya disambung tatapan mengerikan dari Sarah.
"Ti,,, tidak dia berbohong aku baru pulang bekerja" Ethan berusaha menjelaskan.
Sarah masuk kedalam kamarnya dan kembali membawa bantal guling lalu melemparkannya pada Ethan.
"Hey apa maksud nya ini?" Tanya Ethan semakin bingung.
"Tidur diluar bila perlu pergi ke rumah gadis itu dan tidur bersamanya pasti akan terasa hangat!!"
Brakk!!!
"Sarah aku tidak pernah mengganggu seorang gadis hey buka pintunya kau tidak mencintaiku lagi!!" Teriak Ethan sembari menggedor pintu.
Braakk!!
Sarah melemparkan sesuatu dari dalam hingga membuat pintu bergetar.
"Iya iya maafkan aku, aku akan tidur diluar walaupun aku kedinginan!!" Teriak Ethan lagi mencari perhatian namun tidak ditanggapi sama sekali.
"HA HA HA HA!!!" Vano sangat puas tidak tidur sendirian diruangan dingin tanpa pelukan hangat seorang istri.
"Hey sialan!! Kapan aku merayu seorang gadis!!" Ucap Ethan kesal, marga Salvatrucha sudah tidak berwibawa dimata Ethan jika ia sudah marah.
"Selamat tidur tanpa selimut adik ku sayang" ujar Vano santai sembari menidurkan dirinya di sofa.
Ethan berlari mengambil bantal sofa yang ada dikepala Vano.
"Selamat tidur tanpa bantal kakak ku sayang" kata Ethan sembari mengeluarkan lidahnya untuk mengejek Vano.
"Etthaann!!"
Ethan tau jika Vano tidak bisa tidur tanpa bantal dan Ethan sendiri kesulitan tertidur tanpa selimut.
"Bagaimana jika kita berbagi, aku berbagi bantal kau berbagi selimut" ajak Ethan bernegosiasi.
"Tidak" tolak Vano ketus.
Ethan terpaksa harus tidur tanpa selimut dan dikelilingi banyak bantal, Vano melirik sekilas dan melihat pria didepannya sedang berusaha menutup mata.
"Ck kemari bawa bantal" kata Vano.
Tanpa banyak bicara Ethan langsung masuk kedalam selimut setelah memberikan Vano bantal.
Hanya dalam waktu lima menit Ethan langsung terbang ke alam mimpi walau sofa yang ditempatinya dengan Vano cukup sempit untuk ukuran dua orang.
"Hey bocah saat kau masih kecil kau tidak bisa tidur jika tidak ada aku disamping mu, aku ingin tertawa sekeras mungkin jika istrimu tau bahwa kau baru berpisah kamar dengan ku sejak satu tahun yang lalu dan itupun percuma dibuatkan kamar karena kau akan berpindah ke kamar ku atau ke kamar Farel. Sudah besar kau sekarang adik ku" gumam Vano mengelus kepala Ethan dengan lembut.
Vano memperbaiki posisi selimut Ethan lalu memeluknya dari belakang sedangkan Ethan yang terbangun akibat belaian lembut Vano ingin sekali berputar arah dan membalas pelukan pria itu. Ia ingin mengucapkan seribu terimakasih pada Vano karena telah membawanya kedalam keluarga penuh kehangatan.
"Tidurlah aku tau kau terbangun" ucap Vano menutup matanya.
"Terimakasih"
"Sama sama"
"Atas hartanya selama ini" imbuh Ethan.
__ADS_1
Vano memberikan pukulan didada Ethan yang membuat keduanya terkekeh satu sama lain, beberapa menit kemudian mereka terlelap dengan tenang.