Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 170


__ADS_3

Vano melangkah keruang kerjanya lagi, walau sudah larut mereka tidak akan tidur sebelum menemukan kebenaran.


"Aku,,,,"


"Jangan katakan apapun!!" Ucap Vano menatap Ethan datar.


"Farel cari data data,,,,"


"Mencari data tentang tuan Richard tidak semudah yang kau kira Vano, aku akan melakukannya" saut Ethan tegas.


"Sudah ku katakan diam!!" Bentak Vano emosi.


"Kau ingin mencari data data nya berapa kali juga tidak akan ada informasi yang valid kecuali aku mengingat segalanya. Setelah Rifka mengatakan itu aku sadar ternyata otak ku juga pernah dicuci oleh tuan Richard sehingga aku tidak mengingat apapun!!" Tutur Ethan.


"Kau ingin ku hajar? Tutup mulutmu dan dengarkan!!" Titah Vano.


"Aku tidak perduli aku akan tetap melakukan nya" ucap Ethan lalu pergi.


Vano langsung berdiri dan mengejar Ethan dari belakang, kerah jaket hitam pria itu diseret oleh Vano dan menghantam nya ke tembok.


"Jangan lewati batasan mu Ethan!!"


Ethan pasrah dengan apa yang akan dilakukan Vano, dia mau membunuhnya juga tidak masalah.


"Tolong izinkan aku Vano, aku juga ingin tau siapa keluarga ku,,,"


"Apa aku tidak cukup!! Kau anggap siapa aku Ethan!!" Mata Vano membara menatap pria itu.


"Vallen bertemu dengan keluarga nya, Sarah tau dimana makam orangtuanya. Aku siapa Vano? Aku juga ingin tau sebenarnya aku ini siapa keluarga yang melahirkan ku dimana biarkan aku memilih kali ini saja" ucap Ethan memegang tangan Vano yang menggenggam erat kerah jaket nya.


"Aku juga kunci dari semua misteri ini, aku pasti bisa" imbuh Ethan.


Vano menatap Farel agar dia juga tidak menyetujui perkataan Ethan.


"Biarkan Ethan memilih jalan hidupnya, dia sudah besar" kata Farel.


Vano melemah, tidak ada yang bisa mengerti ketakutannya kehilangan seseorang, traumanya dari kecil saat berpisah dengan Vino akan tetap menempel sampai akhir hayat.


"Kapan" ucap Vano tanpa menatap Ethan.


"Malam ini juga" jawab Ethan.

__ADS_1


Vano mengangguk pelan sembari melepas cengkraman nya di kerah jaket Ethan.


Ceklek


Tiba tiba Vallen datang dan masuk tanpa permisi lalu mendekati Ethan.


"Jika otak mu sudah tidak mampu katakan pada mereka, jangan sampai kau memaksakan diri hingga akhirnya kau tidak bisa mengendalikan diri" Vallen menepuk pundak Ethan untuk menguatkan nya.


"Kau,,, bagaimana kau"


"Aku diam bukan berarti aku tidak bertindak, cepat atau lambat mereka akan datang menyerang dan aku tau kalian tidak bisa menyerang sebelum mengetahui kebenarannya" ujar Vallen dengan sangat serius.


Wajah konyol dan murah senyumnya sudah tidak menempel lagi bahkan jika ada orang baru mungkin mereka tidak tau Vallen bisa bertindak konyol.


"Ethan ingat ucapan ku, ketika kau mengingat sesuatu jangan pernah menyakiti dirimu sendiri" Vallen menempelkan alat penyadap suara di pakaian Ethan.


"Jangan takut kami semua mendengar mu dari alat ini" imbuh Vallen.


"Kami? Tidak tidak kembali ke kamar mu!!" Saut Vano.


"Kalian semua tau cara berperang, pintar merakit dan menjinakkan bom jenis apapun tapi kalian tidak bisa mengontrol yang satu ini. Kau ingin menghubungi Sarah? Dia tidak bisa karena hanya aku yang diajarkan oleh ayah angkat ku" kata Vallen.


"Tapi Vallen"


"karena ayah tau aku tidak memiliki kelemahan yang bisa diandalkan dalam dunia gelap"


"Setau ku kelemahan mu adalah kegelapan dan api, benar?"


Ethan mengangguk datar.


"Ayah angkat ku mengatakan seseorang bisa saja kembali jika dia sedang melawan rasa takut atau trauma jadi kau bisa melakukan itu sebagai percobaan"


"Tidak!! Ethan tidak bisa melakukan itu" tolak Vano tegas.


"Baiklah silahkan pergi ke rumah tuan Richard yang kau curigai itu lalu tanyakan langsung padanya dan aku akan menjamin hanya nama mu yang kembali" ucap Vallen datar.


Ethan meneguk saliva nya, bukan karena takut dengan tuan Richard tapi mengenai pilihan pertama yaitu tenggelam dalam gelap diselingi kobaran api.


"Aku pilih yang pertama"


"Bagus" Vallen membuka sedikit jaket Ethan hingga dadanya terlihat.

__ADS_1


"Hey apa yang kau lakukan!!"


"Ini untuk melihat pergerakan emosi mu jika sewaktu-waktu emosi mu naik drastis kami akan datang dan menyelesaikan segalanya dengan kata lain kau gagal"


Ceklek!!


Sarah berlari dan melepas alat alat yang ditempelkan Vallen tadi.


"Kau ingin membunuh suami ku Vallen?" Tanya Sarah.


Vallen mengangkat bahu lalu menyandarkan tubuhnya didekat meja kerja Vano, dia tidak ingin terlalu banyak bicara.


"Sarah kembali ke kamar" ucap Ethan berusaha melembutkan suaranya.


"Tidak!!"


"Sarah jangan sampai aku mengulang perkataan ku dua kali, pergilah!!"


"Tidak, sudah kukatakan tidak!!"


"Sarah!!"


"Apa? Kau ingin tetap melakukan nya? Hey kau tau resikonya apa? Jika kau melakukan itu kemungkinan hidup mu hanya 10 persen dari seratus persen. Masih ingin melakukannya?"


"Yaa!! Aku akan melakukan nya walau kemungkinan hidup hanya 2 persen, aku tidak tenang Sarah semua ini menghantui ku, aku bisa gila berusaha mengingat sesuatu yang mustahil untuk diingat!!" Jawab Ethan dengan nada sedikit tinggi.


Ethan kembali memasang dua alat yang ditempelkan Vallen tadi, tangan Sarah pun tidak menghalangi Ethan lagi.


Selesai memasang alatnya Ethan langsung memeluk Sarah dengan erat.


"Kembali ke kamar, tunggu aku kembali" ucap Ethan lembut.


"Aku ikut" Sarah membalas pelukan suaminya lebih erat.


"Tidur lebih awal ini sudah larut" Ethan mencium kening istrinya, dan artinya Sarah tidak boleh ikut.


Ethan keluar terlebih dahulu agar tidak melihat istrinya menangis didalam dan disusul oleh Vano dan Farel dari belakang.


"Aku tau mana yang terbaik, Ethan akan baik baik saja" ucap Vallen memeluk Sarah.


"Dia pasti baik baik saja aku yakin itu" kata Sarah.

__ADS_1


"Bagus sekarang kembali ke kamar mu atau temani Rifka"


Vallen menyusul ketiga pria itu keluar, lima belas menit yang lalu Vallen sudah menyiapkan tempat untuk Ethan mengembalikan ingatan nya.


__ADS_2