Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 72


__ADS_3

Di meja makan semua berkumpul termasuk Vano yang masih terikat oleh seprei, Vino masih belum mengizinkan Vira membuka lilitan ditubuhnya karena pria itu pasti akan mengamuk.


"Abi Vano tidak akan membuat ulah lepaskan dulu" pinta Vano.


"Janji?"


"Sumpah demi rumah ku!" Jawab Vano tegas.


"Baiklah" kata Vino lalu memberikan isyarat untuk membuka lilitan ditubuh anaknya.


"Ayah bagaimana selanjutnya?" Tanya Ethan sembari memakan sarapannya.


"Belum ayah pikirkan" jawab Vino datar.


Braakk!!


Vano menggebrak meja lalu pergi keruang kerja, nafsu makannya tidak ada sama sekali ketika belum menemui sang pujaan hati sehari saja.


"Ethan, Farel selesai sarapan susul dia sebentar!" Titah Vino.


"Baik ayah"


"Baik om" jawab keduanya serempak.


Selesai sarapan keduanya menyusul Vano kedalam ruang kerja membawa roti dan susu sebelum berangkat menemui dua keluarga.


"Makanlah!" Ucap Farel memberikan roti.


"Dimana Vino Salvatrucha kenapa lama sekali!!" Ujar Vano frustasi.


"Hey bukankah kita mencurigai dua keluarga? Kenapa kita tidak mencari salah satunya terlebih dahulu" saut Ethan.


"Apa maksudmu!"

__ADS_1


"Kenapa kita tidak mengorek beberapa informasi dari keluarga Ferrero terlebih dahulu?" Ujar Farel.


"Kau pikir gampang? Butuh beberapa jam jika mencari informasi belum mengerahkan pengawal belum mengerahkan detektif" saut Farel ketus.


"Tunggu!!" Vano memegang kepalanya untuk mengingat ingat masa lalu.


"Aku pernah meretas ponsel tuan David mungkin itu akan berguna" imbuh Vano.


"Bagus, kita bisa menggali informasi dari ponsel itu. Mana ponsel mu sekarang?" Tanya Farel.


"Aku sudah tidak memakainya sejak usia 8 tahun" jawab Vano datar.


Farel dan Ethan memukul lengannya sendiri akibat jawaban Vano.


"Tapi,,,,"


"Mungkin umi masih menyimpannya, aku akan menanyakan nya sebentar" imbuh Vano meninggalkan keduanya keluar ruang kerja.


Vano berlari kearah meja makan tidak peduli dengan Vino yang akan menangkap nya lagi jika membuat ulah.


"Kenapa menanyakan itu sayang?" Tanya Vira melepas sarapannya.


"Ayolah umi Vano tidak punya waktu banyak" desak Vano.


"Hey hey!!"


Vano menyembunyikan dirinya dibelakang Vira agar tidak dililit kain seprei lagi oleh abinya.


"Umi carikan sebentar ya sayang" kata Vira.


Vano mengangguk cepat, sembari menunggu Vira datang Vano mengambil roti dan memakan semampu nya.


"Aku pikir kau ingin mati" ejek Vino.

__ADS_1


"Apapun kondisinya kita harus tetap makan, jika tidak maka Vano tidak memiliki tenaga untuk mencari Vallen" kata Vano melahap semua roti ditangannya.


Vino tersenyum sinis lalu melanjutkan sarapannya disisi lain Vino merasa lega karena putranya tidak putus asa untuk hidupnya dan hidup orang lain, tidak seperti dirinya dulu.


"Sayang maksud mu ini?" Tanya Vira mengangkat kotak ponsel yang ia temukan digudang properti.


"Tepat sekali umi, terimakasih banyak" jawab Vano menghentikan sarapannya lalu berlari keruang kerja menemui Ethan dan Farel.


Sampai disana Vano langsung membuka ponselnya.


"Mati!!" Ucap Vano tegang.


"Ponsel ini tidak aktif 18 tahun Vano bagaimana bisa hidup, isi daya terlebih dahulu!" Saut Ethan ingin sekali meninju bosnya.


"Aku lupa" Vano langsung mengambil charger dan mengisi daya ponsel masa kecilnya.


Lima menit kemudian ponsel itu sudah terisi beberapa persen, Vano yang dikenal sebagai orang tidak sabaran langsung mengaktifkan ponsel itu dan mencari data data milik Ferrero yang dulu pernah ia retas.


"Sebentar lagi" ucap Vano menatap ponselnya bertuliskan data sedang di proses.


"Selesai!!" Vano memperhatikan seluruh data bekas sambungan telepon, bekas pesan, bahkan seluruh foto foto David dan Bela sedang bermesraan ada di dalam ponselnya.


"Bukan ini bukan ini" kata Ethan menutup layar ponsel karena tidak tahan dengan ke uwuwan banyak orang.


"Tunggu kenapa satu nomor ini tidak memiliki nama?" Tanya Vano memperhatikan bekas panggilan.


"Simpan nomor ini, kita selesaikan hari ini juga" jawab Farel.


"Maaf aku tidak bisa ikut karena Zea,,,,"


"Aku mengerti, kita bagi tugas" saut Vano menepuk pundak Ethan.


"Tunggu bagaimana dengan keluarga Horowitz?" Tanya Farel.

__ADS_1


"Mungkin abi akan menuju kerumah keluar Horowitz terlebih dahulu, kita hanya mengikuti alur permainan Abi" jawab Vano datar.


Ketiganya berpencar untuk menyiapkan diri masing-masing selain itu Vino juga telah memanggil untuk menghadap. Ini artinya mereka akan segera bertindak


__ADS_2