
Dua hari kemudian akhirnya alat yang ditubuh Vallen terlepas, dokter intan melakukan pembedahan dirumah Vano kemarin.
Kini Vallen sudah murni manusia biasa, tatapan menyeramkan nya hilang sirna dan berganti dengan keceriaan serta kebodohan yang hakiki.
"Bagaimana? Masih sakit?" Tanya Vano diatas meja makan.
"Tidak sakit karena sudah biasa mm bahas yang lain saja jangan selalu membahas luka aku bosan menjawab pertanyaan yang sama" jawab Vallen sembari memakan sarapannya.
"Baiklah Vallen selamat datang di rumahku, mulai hari ini kau tidak memiliki beban apapun jadi masalah apa saja yang kau miliki ceritakan padaku jangan sembunyikan sesuatu yang mengganjal di hati mu" tutur Vano agar tidak terjadi lagi sesuatu yang tak diinginkan.
"Sebenarnya aku memiliki keluhan tapi aku takut kau marah" ucap Vallen berpikir sejenak menyusun kata kata yang pas.
"Katakan!" Titah Vano menghentikan sarapannya.
"Disini (memegang dada) selalu saja memikirkan mu, mengingat mu bahkan saat bangun tidur wajahmu yang terlintas di kepala ku, apa aku sedang sakit? Atau otakku salah program mm atau otak dan hatiku tidak sinkron?" Tutur Vallen panjang lebar sembari memikirkan perkataan nya sendiri.
Uhuk,,, uhuk,,, uhuk
Siapa sangka gadis sebodoh itu bisa merasakan suatu fenomena yang bernama cinta, Vano pun tersedak dengan penuturan Vallen, ada rasa senang dihati Vano tapi ia ragu apakah itu senang karena ucapan Vallen atau senang karena omsetnya meningkat tinggi.
"Mungkin kau sakit" ucap Vano datar.
__ADS_1
"Sakit? Benarkah? Tapi aku bahagia apa ada orang sakit bahagia?" Tanya Vallen semakin bingung.
Vano selalu bingung bagaimana menjawab pertanyaan selanjutnya dari Vallen.
"Itu namanya cinta Vallen" saut Farel dari belakang lalu duduk memakan sarapannya.
"Cinta?" Vallen mulai mengingat satu kata asing yang pernah ia simpan maknanya didalam otak.
"Cinta itu makanan tapi aku sudah kenyang" ucap Vallen semakin memaksa otaknya memahami arti cinta.
"Makanan? Siapa yang mengatakan cinta itu makanan?" Tanya Farel terkekeh.
"Umi" jawab Vallen.
"Iya, aku selalu memikirkan orang ini setiap hari bahkan setiap detik sampai aku muak melihat wajahnya terngiang-ngiang di kepala ku!' jawab Vallen frustasi.
"Apa kau ingin menikah dengan Vano??" Goda Ethan semakin menjadi jadi.
"Tidak! Aku tidak mau menikah jika aku menikah maka anak manusia akan keluar itu sangat menyeramkan!!" Jawab Vallen cepat sembari menggelengkan kepala.
Braaakk!!!
__ADS_1
Vano menggebrak meja makan hingga suara piring terdengar ditelinga ketiganya.
"Makan jangan bicara!!" Ucap Vano dingin.
Vallen, Farel, dan Ethan menundukkan kepala memakan sarapan masing-masing, mereka takut dengan tatapan tidak bersahabat dari Vano Salvatrucha.
Beberapa saat setelah sarapan Vano, Farel, dan Ethan keluar rumah bersiap siap menuju kantor. Tentu saja Vallen siaga mengantar mereka keluar.
"Apa aku boleh memasak?" Tanya Vallen tiba tiba.
Ketiganya saling tatap tidak percaya dengan pertanyaan serius Vallen kali ini.
"Boleh asal jangan lukai dirimu mm kau yakin bisa?" Tanya Vano ragu.
"Cih memang nya siapa yang akan membuatkan makanan untuk ku dirumah jika tidak bisa memasak" jawab Vallen membanggakan diri.
"Jangan bahas rumah mu, lupakan itu dan hidup dengan baik disini" ucap Vano memegang kepala Vallen lalu masuk kedalam mobil.
Deg,,,deg
Vallen semakin tidak bisa mengontrol detak jantungnya saat ini walaupun ia sudah memegang nya erat.
__ADS_1
Hey hati apa aku perlu melakukan pembedahan agar kau berhenti berdetak kencang?. Batin Vallen