
Keesokan harinya Vano sudah melihat dirinya berbaring dikamar, suhu tubuhnya masih cukup panas karena hujan tadi malam namun bukan itu intinya melainkan bayangan Vallen dikamar itu terus menghantui dirinya.
Vano menutup matanya kembali agar bayangan itu menghilang tapi percuma karena bayangan itu akan ada didalam ilusinya.
Vano menghela nafas lalu menekan tombol disamping, sepertinya tombol itu sengaja diletakkan untuk memenuhi kebutuhan Vano.
Beberapa saat kemudian Vira datang menemui putranya karena panggilan yang ia dapat.
"Iya sayang kenapa, kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Vira duduk disamping Vano.
"Vano ingin pindah kamar umi" jawab Vano.
Vira mengernyitkan dahi tapi ia tidak ingin bertanya lebih banyak, dari cerita Ethan tadi malam sudah cukup membuat mereka bungkam.
"Baiklah kau ingin kamar yang mana agar umi bisa menyiapkan nya"
"Yang mana saja asal jauh dari kamar ini" jawab Vano sembari memijit pelipisnya.
"Baiklah tunggu sebentar sayang umi siapkan kamar nya terlebih dahulu"
Vira mencium kening putranya lalu berjalan keluar untuk menyiapkan seluruh keperluan Vano.
"Umi minta tolong panggilkan Ethan"
Vira mengangguk lalu menutup pintu kembali sedangkan Vano masih saja melihat bayangan Vallen sedang tersenyum atau melakukan hal hal konyol disana.
Ingin sekali Vano melempar sesuatu agar bayangan itu hilang namun gerakan tubuhnya terhalangi dengan banyaknya perban yang mengikat tubuhnya.
Ceklek
"Kau memanggilku?" Tanya Ethan mendekati Vano.
"Dia sudah pergi?" Tanya Vano balik.
Ethan mengerti arah pembicaraan Vano, hari ini dan seterusnya Ethan benci melewatinya karena dari sekarang saja aura dingin Vano mulai kembali seperti dulu.
"Sudah" jawab Ethan.
__ADS_1
Vano memejamkan matanya dan bersandar di ujung kasur.
Tanpa berpikir panjang Ethan bersimpuh disamping kasur Vano, pria itu membuka matanya karena mendengar suara dan Ethan sedang menunduk disana.
"Maaf"
"Untuk?" Vano sampai bingung dengan kesalahan apa yang ia perbuat.
"Untuk banyak hal, maaf karena keluarga ku mengganggu hidup mu, maaf karena aku tidak bisa melindungi Vallen, seandainya aku tidak menghindar dari tembakan Richard malam itu mungkin Vallen bisa diselamatkan tanpa terjatuh kedalam jurang, maaf karena aku mengingkari banyak janji" tutur Ethan dengan nada lemah.
"Bangun!!"
Ethan mengangkat kepalanya dan melihat tatapan dingin Vano, dia pasti akan mendapat hukuman pikir Ethan.
"Kemari" Vano membuka lebar tangannya.
Ethan heran kenapa Vano melakukan itu, apa dia ingin memeluk Ethan? Ah mustahil dia melakukan nya.
"Kau,,,,"
"Aku sedang sakit jangan terlalu banyak bicara omong kosong intinya semarah dan sedingin apapun aku kedepan aku tetap tidak bisa marah padamu apapun alasannya, tuan Richard bukan keluarga mu kenapa kau menyalahkan diri seperti itu"
"Tapi,,,,"
"Jangan berpikir untuk pergi karena merasa bersalah, sudah cukup satu orang membuat ku mati rasa Ethan, jangan lakukan itu padaku"
"Kenapa kau sangat menyayangimu ku Vano kita tidak ada ikatan darah sedikitpun" ucap Ethan.
"Apa butuh alasan untuk menyayangi seseorang? Kau dan aku tidak lahir di rahim yang sama tapi aku percaya kehadiran mu memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan" jawab Vano masih tetap memeluk Ethan.
"Aku tau kau berasal dari keluarga berada dan kau boleh kembali kerumah mu asal jangan lupakan rumah ini, datanglah kapanpun kau memiliki waktu luang" imbuh Vano.
Dia sadar bahwa Ethan bukan orang biasa, dia juga memiliki kewajiban yang harus dilakukan dalam keluarga dan aset yang harus ia kelola.
Ethan melepas pelukan nya lalu berdiri, setidaknya ia bisa menghibur Vano dengan menghilangkan pikiran nya dari bayang-bayang Vallen yaa walaupun beberapa detik kemudian ia akan mengingatnya lagi.
"Sudah lah aku harus mengurus perusahaan, tidak ada yang pergi kekantor" ucap Ethan santai.
__ADS_1
"Horowitz sudah berpindah ke tangan mu? Selamat" kata Vano dengan wajah sendu, pasalnya dua orang yang selalu mengisi hari harinya akan pergi.
"Salvatrucha Group terbengkalai beberapa hari kau ingin bangkrut?" Tanya Ethan ketus.
"Kau,,,,"
"Apa? Horowitz Group sudah ku sumbangkan kepanti asuhan milik keluarga Savero, mereka yang mengolahnya sekarang lalu untuk aset sudah ku pindah alihkan atas nama Sarah jadi aku tidak memiliki apapun, kau ingin aku miskin tidak bekerja terus menerus" ujar Ethan memotong kalimat Ethan.
"Ethan perusahaan itu sangat besar bahkan bersanding ketat dengan perusahaan ku, kau yakin?" Tanya Vano heran.
"Kau bodoh atau apa, bagaimana aku mengurus dua perusahaan sekaligus jadi lebih baik sumbangkan saja satu" jawab Ethan seolah-olah sedang memberikan permen.
"Tapi di Horowitz Group kau menjadi CEO nya sedangkan di Salvatrucha Group hanya menjadi sekretaris, kau masih sehat kan?"
"Untuk apa harta jika aku merasa kesepian, dirumah ku belum tentu seramai dirumah ini aku tidak betah" jawab Ethan.
"Lalu kenapa kau terus meminta uang padaku!!" Ucap Vano kesal sembari melempar bantal.
"Karena prinsip ku adalah lebih baik meminta daripada memberi dan prinsip itu hanya berlaku pada mu, Farel, ayah, papa"
"Cihh!!"
"Aset Horowitz sangat menjanjikan jadi jangan pernah meminta apapun lagi padaku" ujar Vano ketus.
"Ets salah itu milik Sarah bukan milikku"
"Ya sama saja"
"Salah, milikku miliknya sedangkan miliknya ya punya dia bukan milikku"
Vano tidak salah menganggap Ethan sebagai adik, awalnya Vano berpikir Ethan akan senang harta titipan keluarganya dulu namun ternyata tidak, dia lebih memilih tetap tinggal dirumah Vano dan bekerja seperti biasanya.
Dia lebih mementingkan kasih sayang dari orang orang sekitar, yaa meminta uang terus menerus Ethan lakukan semata-mata hanya untuk mengumpulkan seberapa banyak kasih sayang yang ia terima.
Dan Ethan membuktikan semuanya, baik dari keluarga Salvatrucha, Wijaya, ataupun Alexander mereka tidak pernah membedakan Ethan dengan anak kandung mereka, Ethan ya Ethan anak mereka juga.
Bahkan seringkali Vano, Farel, dan Zea iri melihat Ethan memiliki kasih sayang tiga orangtua sekaligus dan Ethan tidak mungkin meninggalkan semua itu.
__ADS_1