
Pagi ini Vano bangun cukup pagi untuk melihat kondisi Excel dan menyiapkan banyak kejutan nantinya untuk Vallen dan putrinya.
Karena umi dan abinya datang besok bisa dipastikan hari ini Vano harus berjuang keras membujuk Vallen sampai dia mau kembali.
"Pa" panggil Excel.
"Ya sayang" jawab Vano sembari menyiapkan susu hangat.
"Apa yang papa katakan pada Vero sampai sampai Excel di blokir"
"Papa hanya sedang marah, papa menyesal telah melakukannya tapi teman mu memblokir nomor ponsel kalian jadi papa tidak tau harus minta maaf dimana" jawab Vano.
"Ck pa Vero yang membawa Excel kerumah sakit dan Excel yang memaksa Vero untuk keluar bermain"
"Iya papa tau, nanti setelah urusan papa selesai kita akan mencarinya" ucap Vano.
"Janji pa?"
"Habiskan susu mu" jawab Vano sembari mengangguk.
Excel mengambil susu yang disiapkan Vano dan menghabiskan nya dengan cepat.
"Pa Excel ikut ya"
"Kemana?"
"Kemana papa pergi Excel ikut, mau Excel pergi keluyuran lagi?"
"Baiklah, ganti pakaian mu kita akan segera pergi" jawab Vano menyetujui keinginan Excel.
Toh tidak ada salahnya mengenalkan Excel dan Tristan pada Vallen, dia pasti senang melihat teman temannya sudah memiliki putra.
Beberapa menit berlalu keempatnya sudah siap, mereka langsung menuju kediaman Ferrero dan kali ini lebih gila lagi karena Vano membawa banyak hadiah untuk putrinya.
Rumah Ferrero sudah tidak ada larangan lagi bagi Vano jadi dia bisa masuk kapan saja.
"Assalamu'alaikum selamat pagi semua" sapa Vano dengan wajah cerianya.
Excel dan Tristan keheranan melihat wajah Vano berubah 360 derajat, seumur hidup mereka berada di bumi belum pernah Vano terlihat sangat bahagia.
"Papa?" Panggil Vera dari depan pintu.
"Hay sayang"
Vano mendekati Vera lalu memeluknya dengan erat tapi Vera masih heran dengan beberapa orang di luar.
"Papa?" Excel daj Tristan mengulangi perkataan Vera tadi.
"Papa punya hadiah untuk mu, mau lihat?"
Vera mengangguk antusias sedangkan Ethan mengeluarkan beberapa kotak besar dari bagasi mobil.
"Waahh terimakasih papa"
"Sama sama, mama ada sayang?"
"Itu" tunjuk Vera.
Vano menatap kedalam dan Vallen sedang menuju keluar dibantu oleh pelayan sedangkan Vera berlari antusias membuka hadiahnya.
"Seharusnya kau tidak melakukan itu dia tidak boleh dimanjakan dengan barang barang berharga, jika dia menginginkan semua biarkan dia berjuang terlebih dahulu agar dia bisa menghargai setiap apa yang ia miliki" ucap Vallen.
"Sekali sekali tidak masalah" sangkal Vano.
"Siapa?" Tanya Vallen menunjuk Excel dan Tristan dengan matanya.
"Seharusnya Excel yang bertanya, papa suka dengan janda beranak satu?" Tanya Excel dengan wajah polosnya.
__ADS_1
Ethan menyembunyikan senyuman yang tidak bisa ia tahan mendengar ucapan putranya, kadang anak itu tidak bisa mengontrol mulutnya berbicara disaat tertentu.
"Papa? Kau,,,,"
"Tidak sayang kau salah paham, dia memang putraku tapi sebenarnya dia anak Ethan dan Sarah tapi aku mengambilnya sejak kecil" kata Vano memotong kalimat Vallen sebelum terjadi kesalahpahaman.
"Anak Sarah?" Vallen menutup mulutnya tidak percaya jika pernikahan Ethan dan sahabatnya itu berjalan sampai sekarang bahkan memiliki putra.
Pantas wajah anak itu cukup familiar dimata Vallen, mulai dari sikap dingin hingga tatapan tajamnya sudah terpancar aura Sarah.
"Dan itu putra dari Zea dan Farel" menunjuk Tristan.
"Pa siapa?" Tanya Excel sekali lagi.
"Panggil mama saja, dia istri papa sayang" jawab Vano.
Vallen mendekati Excel dan Tristan lalu mengelus kepalanya dengan lembut.
"Mama? Asing" gumam Excel.
"Vallen tamunya di ajak kedalam kenapa dibiarkan diluar" ujar Bela dari dalam.
"Ahh ya aku sampai lupa silahkan masuk" ucap Vallen tersenyum tipis.
Vano menggantikan pelayan mendorong Vallen sedangkan Ethan sibuk mengurus tiga anak itu masuk kedalam, dua saja sudah merepotkan apalagi tiga pikir Ethan.
Didalam Vano langsung duduk diruang keluarga untuk berbicara banyak hal pada Vallen dan keluarganya.
"Vano"
"Iya sayang?"
Vallen tidak berhenti memainkan jarinya karena gugup sedari tadi.
"Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan dengan serius" ucap Vallen.
"Sebenarnya,,,," Vallen menghentikan kalimatnya sembari menatap Bela dan David.
"Sebenarnya apa?"
"Sebenarnya Vera memiliki saudara"
"Maksudnya?"
Vano masih belum mengerti maksud Vallen apa, pikirannya ke arah sana sama sekali tidak ada.
"Papa yang jelaskan" saut David melihat putrinya yang tidak mampu membuat Vano mengerti.
"Vano kau hanya tau putri mu kan? Salah besar kau memiliki tiga anak sekaligus tapi yang satu meninggal karena telat di proses saat persalinan"
Kali ini Vano dan Ethan terkejut mendengar penjelasan David, pikiran mereka tidak pernah sama sekali tertuju pada anak terlahir itu dan mereka tidak menyangka Vallen mengandung tiga anak sekaligus.
"Ti,,,tiga pa?"
"Iya mungkin mungkin didalam keturunan mu tidak ada yang memiliki anak kembar tapi dikeluarga kami ada adik ku namanya Syifa dan dia memiliki anak kembar jadi tidak heran jika Vallen bisa seperti itu" jawab David menjelaskan.
"Anak Vano meninggal satu?"
David dan Bela mengangguk sedangkan Vallen hanya bisa diam menunggu papanya menjelaskan apa yang terjadi.
"Dan satunya lagi mana om?" Tanya Ethan.
"Didalam, dia tidak pernah keluar dari ruang atas, area bermainnya hanya ditempat itu saja"
"Namanya siapa om?" Tanya Excel yang sepertinya mengerti jalur pembicaraan orang orang dewasa disana.
"Namanya adalah Alvero yang ke-dua Alvaro sedangkan Vera langsung masuk ke marga kami"
__ADS_1
"Bisa Vano bertemu dengannya pa?"
David menatap Vallen terlebih dahulu untuk meminta izinnya karena tanpa persetujuan wanita itu David tidak bisa berbuat apa-apa.
"Pelayan tolong panggilkan Vero!" Titah Vallen.
"Baik nona"
Pelayan langsung naik ke atas untuk memanggil Vero sedangkan Vano, Excel, Ethan dan Tristan sudah memikirkan hal yang sama tapi Vano berpikir tidak mungkin lah Vero yang sering mereka temui.
Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu terbuka dari atas, perlahan kakinya mulai terlihat dari ujung tangga paling atas.
"Kenapa ma?" Tanya Vero.
"Kemari sayang ada yang ingin bicarakan"
Vero mengangguk lalu melanjutkan langkah kakinya turun kebawah namun tidak sampai lima anak tangga Vero menatap tamu yang dimaksud pelayan tadi.
Langkah kakinya terhenti menatap Vano dan Excel secara bergantian sedangkan Vano tidak pernah menyangka bahwa Vero yang ini adalah putranya sendiri.
"Siapa ma?" Tanya Vero dari atas.
"Kemari sayang mama akan memperkenalkan dia padamu"
"Tidak perlu, katakan siapa dia sebelum aku kembali ke atas" ucap Vero dengan tatapan dinginnya.
Vallen juga merasa aneh dengan tatapan putranya kali ini, tidak biasanya dia menggunakan tatapan nanar seperti itu pada anggota keluarga.
"Dia papa mu sayang kau senang kan bertemu dengannya" kata Vallen.
Alih alih senang, Vero tersenyum sinis menatap Vano.
"You say i'm happy? No mom"
"Why?" Tanya Vallen heran.
"Nothing but i hate you, you, and all of you!!" Jawab Vero sedikit berteriak lalu berlari ke kamarnya.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia tiba-tiba marah seperti itu" kata Vallen bingung.
"Pa Vero kenapa terlihat sangat marah?" Tanya Excel yang ikut kebingungan.
"Excel jangan khawatir ya Vero pasti baik baik saja" jawab Vano.
"Vallen, papa, mama boleh Vano ke atas menemui Vero?" Tanya Vano.
"Kau yakin?" Tanya Vallen balik.
"Yakin"
"Baiklah tolong kontrol emosinya" ucap Vallen.
Vano mengangguk lalu pergi menyusul Vero ke atas, laki laki terlihat kesal bercampur aduk sehingga emosinya sama seperti Vano. Tidak bisa dikendalikan.
Tok,,,tok,,,tok
"Out!!"
"Vero ini papa nak"
"Kau siapa aku tidak mengenal mu, pergi!" Suara dingin itu menembus telinga Vano.
"Vero tolong buka pintunya" Vano tidak ingin menyerah mengetuk pintu kamar putranya.
"Hey stop!!" Teriak Vero dari dalam setelah lelah mendengar ketukan pintu itu.
"Buka dulu sayang ayo bicarakan baik-baik, papa akan menjelaskan segalanya"
__ADS_1