
Braakk!!!
Ethan duduk dikursi milik Vano sedangkan Sarah duduk dikursi milik Ethan, keduanya bersandar sembari memegang pisau tajam.
"Bangunkan!!" Titah Ethan pada pengawal.
Pengawal tersebut mengambil air dengan gelas lalu menyiramnya ke wajah Pian.
"Aaahhh!!!!" Teriakan nya menggema sampai ke langit langit markas.
Rupanya balas dendam pertama adalah penyiraman air keras ke wajah Pian sama seperti apa yang terjadi dengan Vallen.
"Kau gila!! Sshh aahh!!" Pian meringis merasakan perih di wajah nya.
"Tentu saja aku sudah gila, mau lihat kegilaan ku yang sebenarnya seperti apa? Akan ku perlihatkan" ujar Ethan.
Mendengar keributan tuan Richard terbangun, kaki tangannya sudah terikat kuat sehingga ia tidak bisa melarikan diri.
"Ooh selamat pagi tuan Richard Marx yang ingin mengubah marga menjadi Horowitz" sapa Ethan sinis.
"Cih!!" Tuan Richard membuang muka didepan Ethan, masih sempat-sempatnya sombong disaat seperti ini.
"Baiklah mari kita mulai, sayang tutup matamu" ucap Ethan menatap Sarah.
"Jangan bercanda, aku ingin membunuh orang ini terlebih dahulu" ujar Sarah menatap Pian.
"Kau yakin?"
"Seratus persen"
"Cepat bunuh aku!!" Teriak Pian, rasanya lebih baik mati daripada menahan sakit di wajahnya.
__ADS_1
"Bisa bisanya kau tidak takut melihat penjara menyeramkan itu, bahkan aku berpikir akan menyerahkan mu ke pihak berwajib tapi kau memilih untuk mati ternyata" saut Ethan dengan senyum sinis.
"Jangan banyak bicara bunuh aku!!"
"Segera" jawab Sarah dengan seringainya.
Gadis dengan tatapan tajam dan dingin itu berdiri lalu mendekati Pian.
"Kau tau bagaimana tersiksanya aku selama ini? Tidak tau pastinya tapi aku akan mencoba membuat mu mengetahui itu"
Sarah menghilangkan jauh jauh rasa kasihan nya, dia mendekatkan pisau tersebut ke wajah Pian lalu mengiris bekas air keras yang melepuh di wajahnya.
"Sshhh aahh sialan!!" Teriak Pian kesakitan.
"Apa? Ingin meminta tolong bos mu? Silahkan saja sebentar lagi dia juga akan tewas!!" Aura iblis Sarah benar benar kembali jika ia mengingat bagaimana orangtuanya tewas ditempat.
"Aku akan memperlihatkan bagaimana cara membunuh dengan baik"
Sarah mengganti pisaunya karena pisau tadi masih terdapat kulit wajah Pian.
"Siap? Pasti siap" ujar Sarah.
Dia memegang wajah Pian lalu mengikis sedikit demi sedikit kulit dikening pria itu.
"Aaahh Sarah!!!"
"Huusstt sebentar lagi selesai"
"Arrrghhh!!!" Darah bersimbah diwajah Pian namun Sarah hanya mendengarkan angin.
"Satu dua tiga!!"
__ADS_1
Sreek!!!
Sarah merobek kulit wajah Pian hingga daging daging nya terlihat, wajah pria itu sudah tidak dikenali sekarang.
"Aaahhh!!!"
Pian tidak berani membuka matanya karena rasa sakit itu menggerogoti tubuhnya.
Sarah membuang kulit wajah Pian dengan santai lalu mengambil silet.
"Apa yang kau lakukan!!"
"Kenapa bertanya lagi, kau sudah tau jawabannya"
Sarah memegang erat lengan Pian namun pria itu menepisnya.
Plaakk!!!
"Berani kau melawan ku!!" Teriak Sarah dan kembali memaksa Pian.
Sarah memotong urat nadi pria itu satu persatu hingga tubuhnya mulai lemas dengan aliran deras darah yang mengalir.
Tentu siksaan ini tidak sebanding dengan apa yang mereka lakukan, kekejaman mereka membuat Sarah semakin bernafsu untuk mencincang tubuh Pian.
"Aku tidak akan mengizinkan mu mati dengan tenang Pian, ini balas dendam sesungguhnya!!"
Sarah mengambil senapan peredam suara, senjata yang ketika ditembakkan tidak akan mengeluarkan suara namun dapat dipastikan tubuh manusia akan hancur.
Sarah berjalan mendekat dan mendekat hingga ujung senapan berada dikepala Pian, keningnya terasa panas dan perih akibat bersentuhan langsung antara ujung senapan dengan daging dikeningnya.
"Akhirnya hari ini tiba dimana aku bisa melihat mu tersiksa, selamat tinggal Pian!!"
__ADS_1
Sarah menarik pelatuk dan sekalinya keluar senapan itu menghancurkan kepala Pian, isi dalam kepalanya berserakan didepan tuan Richard yang menunggu gilirannya.