
Keesokan harinya, keadaan rumah masih sepi seperti tidak ada kehidupan karena masing masing pasutri masih tertidur lelap di kamar setelah Andre dan Faris pingsan beberapa kali tadi malam.
Perlahan tapi pasti ketika matahari mulai muncul, Vino and the geng keluar dari kamar masing-masing. Niat mereka berbeda beda, pertama untuk melihat Zea terlebih dahulu baru beraktivitas seperti biasanya.
Baru saja selangkah menuruni anak tangga mereka bingung dengan beberapa desain rumah yang berbeda dari biasanya.
"Vira kau mendekor rumah?" Tanya Vino menghentikan langkahnya menuruni tangga.
"Tidak, apa kau yang melakukannya?" Tanya Vira pada Lina dan Zoya.
"Tidak" jawab Lina dan Zoya serempak.
Ceklek
Vano keluar dari kamar sembari memperbaiki lengan kemeja nya, diikuti Ethan dari samping kamarnya.
"Bagaimana persiapan nya?" Tanya Vano pada Ethan.
"Persiapan yang mana? Menyerang hutan atau,,,,"
"Rencana tadi malam" potong Vano.
"Aahh Persiapan pernikahan Farel? Sudah siap 99% sisanya tamu undangan dan urusan negara tentang buku nikah dan semacamnya" jawab Ethan menjelaskan Vano sembari berjalan melewati tim Vino and the geng.
Seluruh mata kembali harus berolahraga mendengar penjelasan Ethan, tekad Farel untuk menikahi Zea ternyata tidak main main, buktinya tadi malam Ethan harus mengurus segala persiapan dalam beberapa jam.
"Jadi pernikahan itu benar terjadi?" Tanya Vira bingung.
"Aduh jantungku sakit mendengar nya, aku harus kembali kedalam!" Saut Andre langsung memutar tubuhnya kembali masuk kedalam kamar.
"Aku ikut!" Kata Faris ikut frustasi dengan putranya.
Sedangkan yang lain mengikuti Vano kebawah, setidaknya mereka harus membantu apapun bentuknya. Zoya tidak terlalu keberatan dengan pernikahan itu apalagi Lina yang sudah menganggap Zea sebagai putrinya.
Disisi lain Andre terduduk lemas di sofa kamarnya, tidak masalah putrinya menikah di usia muda karena Zoya juga seperti itu tapi kenapa harus Farel pikir Andre.
Huuhhh
Faris ikut melempar tubuhnya di dekat Andre, dia tidak sadar sama sekali kamar siapa yang ia masuki hingga keduanya terdiam lemah.
"Untuk apa kau datang kemari!!" Ucap Andre ketus.
__ADS_1
"Cihh" Faris menanggapi nya dengan cuek bebek.
"Ini buruk untuk ku Faris" ujar Andre lesu.
"Kau pikir ini mimpi indah untukku?" Tanya Faris kesal.
Keduanya kembali menghela nafas kasar menatap jendela jendela panjang di kamar itu, berpikir jernih saat ini cukup perlu untuk keduanya.
"Aku tau caranya!!" Kata Andre mulai mendapat ide bagus.
"Bagaimana bagaimana!!' ucap Faris antusias.
"Jika walinya tidak ada otomatis pernikahan tidak akan terjadi bukan?"
"Dan saksi juga" sambung Faris.
"Aaaa!!!" Merasa keduanya mendapat ide bagus, mereka berpelukan riang gembira tanpa sadar pemikiran orang luar.
"Najis" ucap Andre dan Farel bersamaan melepas pelukan mereka.
"Bagaimana cara kita kabur dari tempat ini?" Tanya Faris.
Andre kembali fokus memikirkan rencana selanjutnya untuk melarikan diri dari pernikahan putrinya, jika dalam sinetron biasanya sang pengantin yang kabur dari pernikahan berbeda dengan keluarga ini, Malah wali dan saksinya yang kabur.
"Bagaimana?"
"Bagaimana jika kita pura pura menerima pernikahan ini lalu keluar dari rumah untuk membeli maskawin" jawab Faris.
"Kau cerdas ayo jalankan rencana ini" kata Andre.
Keduanya melakukan tos sebelum keluar dari kamar, rencana matang yang mereka persiapkan sedari awal pasti akan berjalan lancar.
"Kalian ingin kemana?" Tanya Vira dari sofa.
"Membeli maskawin" jawab Faris datar.
"Bukankah,,,,,"
"Sudahlah sudah untung kami mau merestui pernikahan ini" saut Andre lalu keduanya berjalan keluar sembari memberi isyarat dengan jempol.
Yakin ingin membeli maskawin?. Batin Vino
__ADS_1
Andre dan Faris berjalan keluar rumah lalu masuk kedalam mobil namun belum sempat membuka pintu mobil keduanya di datangi oleh dua pengawal andalan rumah itu.
"Maaf tuan anda ingin kemana?" Tanya salah satu pengawal.
"Kami akan membeli maskawin" jawab Andre datar.
"Maskawin sudah datang dan dipegang oleh tuan Farel" saut pengawal A.
Andre dan Faris hampir tersedak mendengar nya, mereka harus mengganti rencana kali ini.
"Ah ya seharusnya kami membeli seserahan bukan hanya maskawin" saut Faris.
"Jam 03.00 seserahan sudah di antar kemari tuan" kata pengawal B.
"Kami juga ingin membeli bunga"
Prok,,,,prok,,,prok
Satu mobil penuh bunga asli sudah tertata rapi dan siap di pandang di depan rumah.
"Aku sakit perut jadi harus ke toilet" kata Andre.
"Toilet ada didalam tuan" ujar pengawal A
Bodoh!! Itu sangat tidak masuk akal. Batin Faris
"Mm baju pengantin pasti belum disiapkan" ucap Faris.
"Sayang sekali tuan, tuan Ethan sudah memberikan pakaian pengantin pada tuan Farel dan nona Zea"
"Bangsat!!" Gerutu Andre kesal untuk pertama kalinya pada Ethan karena pria itu menyiapkan segalanya secara rapi tanpa cacat sedikitpun.
"Ehem!!" Sapa Vino dari arah pintu utama.
Keduanya menoleh serempak dan melihat Vino sedang tersenyum puas.
"Kabur kabur" ucap Faris segera masuk kedalam mobil namun sayang kunci mobil sudah ada ditangan Vino dari tangan pengawal tadi.
"Untuk hari ini kalian tidak perlu berbuat baik, cukup menjadi wali nikah yang baik dan saksi yang pintar saja itu sudah sangat membantu" ujar Vino tersenyum manis.
"Apa kita bisa kabur?" Bisik Andre.
__ADS_1
"Percuma" jawab Faris
Keduanya berjalan lesu masuk kedalam rumah, mau tidak mau bisa tidak bisa mereka harus merestui hubungan itu, Zea akan semakin menjadi jadi jika dibiarkan terlalu lama, mencari yang lain juga tidak bisa karena semasa hidup nya Zea selalu kelilingi oleh tiga pria itu dan tidak ada yang boleh mendekatinya dari radius 10 meter.