
Lelah kedinginan Sarah keluar dari kamar mandi, dia melihat dokumen yang harus ia tandatangani. Dengan tangan gemetar karena kedinginan Sarah mengambil surat tersebut lalu membacanya walau terlihat samar.
Namanya sudah tertera disana, hanya sedikit goresan pulpen akan resmi membuat dirinya berpisah dengan Ethan.
"Aku bisa aku pasti bisa" gumam Sarah mengambil pulpen.
Sarah tidak bisa, perkataan nya dengan hati sangat tidak sinkron sehingga ia mengembalikan surat itu ketempat semula.
"Ayolah Sarah kau belum bercerai saja dia sudah mendapat pengganti yang seribu kali lipat lebih jauh, ayo tandatangani surat itu" ucap Sarah.
Gadis itu kembali mengambil pulpen lalu menandatangani surat dengan cepat agar semuanya selesai.
Huuhhh
Sarah memaksakan senyum nya menatap nama nya sudah setuju dengan perceraian itu, tinggal tanda tangan Ethan saja, pria itu pasti tidak akan menunggu waktu lama untuk menandatangani suratnya pikir Sarah.
Jika saja semua tau bahwa Ethan sudah membuat surat perceraian pasti mereka akan menghalangi Sarah untuk menandatangani surat itu tapi sayang Ethan masuk secara diam diam ke kamar Sarah.
"Sarah!!"
Tok,,,tok
"Sarah aku tau kau belum sarapan, ayo keluar" ucap Vallen.
__ADS_1
Sarah menghapus beberapa jejak air matanya dan berlatih tersenyum.
"A,,,aku tidak lapar kalian lanjutkan saja" ujar Sarah sembari menyembunyikan surat itu.
"Aku tidak akan makan jika kau tidak keluar" saut Zea ikut mengetuk pintu.
"Baiklah tunggu aku di meja makan saja sebentar lagi aku akan keluar" ucap Sarah.
"Baiklah cepat ya"
Vallen dan Zea kembali ke meja makan menunggu Sarah berharap semuanya baik baik saja tapi didalam Sarah sedang berada di fase terendah.
Beberapa menit kemudian Sarah keluar dengan pakaian biasa, semua sudah menunggu nya dimeja makan seperti seseorang yang sedang di adili.
"Makanlah maafkan perilaku Ethan yang tadi" ucap Zoya menyiapkan makanan untuk Sarah.
Semua membiarkan Sarah mengisi perutnya terlebih dahulu sebelum mereka mulai berbincang bincang.
Dan selesai sarapan mereka berpindah keruang keluarga, dan lagi lagi Sarah harus melihat mereka berpasang pasangan seakan mereka sangat mencintai satu sama lain.
"Sarah apapun yang dikatakan oleh Ethan jangan dimasukkan kedalam hati, dia hanya emosi" ucap Andre.
Sarah mengangguk diiringi senyum tipis diwajahnya.
__ADS_1
"Setelah menandatangani surat perceraian aku akan pergi kerumah orang tua ku yang dulu" ujar Sarah.
Semua otomatis terkejut dengan ucapan Sarah, semua masih seperti mimpi jika mereka benar benar berpisah.
"Kerumah orang tua mu? Apa kau gila? Dimana orang tua mu Sarah" saut Vino.
"Ingatan ku tidak hilang seperti Vallen, aku masih mengingat kejadian dimana aku tinggal dan kenapa aku bisa diculik, otak ku hanya di cuci agar melupakan kejadian saat bertemu dengan atasan" tutur Sarah.
"Dimana rumah orang tua mu?" Tanya Faris.
"Di desa kecil ujung kota" jawab Sarah.
"Tidak aku tidak mengizinkan mu pergi Sarah, kau harus tetap tinggal disini" saut Vallen berkaca-kaca melihat sahabatnya sedang menahan sakit di dadanya.
"Aku merindukan orang tua ku, aku ingin pergi ke makam nya"
"Aku senang bisa mengenal kalian selama ini, kalian sangat baik padaku, kalian tetap memberiku makan walau aku bukan siapa siapa" imbuh Sarah
"Tidak tidak aku tidak mau, kau harus tetap disini" Vallen dan Zea berlari ke arah Sarah lalu memeluk nya.
"Aku janji kita akan datang beberapa kali mengunjungi kalian, aku lelah disini" bisik Sarah ditelinga Vallen dan Zea.
"Jangan pergi" ucap Zea sesenggukan.
__ADS_1
"Jaga kakak mu baik baik ya, semoga kalian bahagia" ujar Sarah mengeratkan pelukannya pada kedua gadis yang selalu bersamanya beberapa bulan terakhir.
Andre dan yang lainnya bisa saja memaksa Sarah untuk tetap tinggal disana tapi melihat beban gadis itu lebih besar mereka membiarkan Sarah untuk pergi sementara waktu, toh gadis itu tidak akan bisa lari dari keluarga Salvatrucha, Wijaya, dan Alexander selama dia masih ada di bumi.