
"Baik apanya jika memang sayang tidak mungkin tugas anaknya membunuh" ucap Vano ketus.
Mereka berjalan mendekati rumah minimalis itu, Sarah sangat hafal jika dirumah itu memiliki banyak perangkat sehingga mereka harus berhati-hati.
"Mana penjaga rumah ini? Tidak ada? Cih tau begini aku tidak ikut!" Ujar Ethan meremehkan rumah didepannya.
"Awaas!!"
Ethan membulatkan matanya ketika sebilah pisau akan menancap tepat di kornea matanya, untung saja tangannya bergerak cepat mengambil ujung pisau.
"Oh tidak rupanya penyerangan otomatis telah di aktifkan, pantas saja tidak ada penjaga" ucap Sarah menepuk keningnya.
"Apa maksudmu?" Tanya Vano mengernyitkan dahi.
"Aku berharap salah satu di antara kalian pintar menjadi hacker" ucap Sarah frustasi.
"Aku bisa" saut Ethan dan Farel bersamaan.
"Benarkah? Syukurlah cepat menunduk sekarang!" Titah Sarah dengan cepat berjongkok.
Ketiganya mengikuti arahan Sarah, Ethan dan Farel mengeluarkan ponsel untuk tujuan selanjutnya.
"Jika kalian bisa mengambil alih pengendalian komputer di dalam rumah itu pasti serangan pisau ini akan berhenti jika tidak kita semua akan mati dalam waktu lima menit' tutur Sarah.
"Shit!! Kenapa kau tidak bilang dari tadi!!" Ucap Ethan kesal langsung memulai aksinya untuk membobol komputer yang mengendalikan pisau dirumah itu.
"Farel ambil datanya!" Ucap Ethan dengan cekatan memainkan skill mengetik nya.
"Sudah ku kirim kau hanya tinggal memasukkan password lalu,,,,"
"Berhasil!!" Saut Ethan.
__ADS_1
Keduanya melakukan tos ketika berhasil meretas pengendali komputer yang terhubung dengan serangan pisau itu.
"Sudah? Itu artinya kita bisa masuk sekarang!" Ucap Vano.
"Benar, permainan ini sudah berhasil" kata Sarah.
Vano menyunggingkan senyum tipisnya lalu bergerak ke arah pintu rumah itu.
Braakkk!!!!
Vano tidak ingin berbuat halus malam ini, apa yang ada didepannya akan ia rusak asal bisa menemukan Vallen.
"Vallen!!" Teriak Vano mencari ke seluruh sisi rumah.
"Hey Vallen keluar!!" Teriak Vano lagi.
Ketiganya berpencar mencari Vallen, seluruh sisi rumah di hiasi dengan senapan dan bom sehingga mereka harus berhati-hati di dalam sana.
"Tuan!!" Panggil Sarah.
Vano mendekati Sarah dan melihat sebuah tulisan yang ada didepan kaca dekat tangga.
"GAME OVER" Vano mengepalkan tangannya membaca sebuah tulisan itu, rahangnya mengeras ditambah dengan mata yang merah.
"Jangan jangan!!" Sarah menutup mulutnya tidak bisa mengontrol syok.
"Visi misi kami adalah membunuh pembesar dan,,,,"
"Umi Abi!!" Kata Vano terkejut bukan main ketika kedua orangtuanya adalah salah satu pembesar kota.
"Astaga"
__ADS_1
Vano langsung menghubungi Vino, Vano khawatir luar biasa jika memang benar Vallen sedang menyerang kerumahnya.
Tut,,,,Tut,,, Tut
"Abi angkat!!" Teriak Vano kesal saking khawatirnya.
"Apa!!!" Ucap Vino kesal dari balik sambungan telepon.
"Abi apa rumah baik baik saja?" Tanya Vano gusar.
"Baik memangnya ada apa?" Tanya Vino bingung.
"apa tidak ada hal yang mencurigakan?"
"Sejauh ini baik baik saja" jawab Vino heran dengan pertanyaan pertanyaan Vano.
"Memangnya ada apa?" Tanya Vino.
"Tidak ada, Abi jaga rumah baik baik" jawab Vano lalu memutuskan sambungan.
"Rumah baik baik saja" ucap Vano menatap ketiga temannya.
Mereka hening sejenak memikirkan kemana sebenarnya Vallen, jika memang targetnya adalah pembesar kota kenapa keluarga Salvatrucha baik baik saja bahkan tidak ada penyerangan.
"Astaga!!" Jantung Vano hampir tidak berdetak sama sekali ketika mengingat pilar kota bukan hanya keluarga Salvatrucha melainkan keluarga Ferrero.
"Keluarga ku baik baik saja tapi keluarga Ferrero,,,,"
"Itu artinya Vallen akan membunuh orangtuanya sendiri" sambung Farel.
Semua terkejut dengan tebakan itu, wajah Vano sangat panik kali ini pasalnya Vallen tidak mau tau itu adalah keluarganya atau bukan karena pengendali ditubuhnya pasti mengarahkan Vallen untuk membunuh tanpa pandang bulu.
__ADS_1
🙃🙃🙃