Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 210


__ADS_3

Ceklek


Vero membuka pintunya tanpa sepatah kata, Vano langsung memanfaatkan kesempatan itu lalu menutup pintu.


"Vero papa bisa jelaskan,,,"


"Papa dan mama tidak pernah berpisah sebelumnya, mama hanya ingin sedikit waktu untuk sendiri dan,,,,"


"Dan kau membiarkannya, Kau tau? Aku hidup diruangan ini bertahun tahun lamanya, jika aku tidak kabur aku tidak bisa melihat dunia Karena kau aku tidak diakui, karena mu aku tidak memiliki marga apapun, aku memang disayang tapi aku seperti tidak memiliki apapun bahkan setiap kali adik ku dipublish dengan nama Vera Ferrero aku merasa sakit, kenapa? Tentu saja karena mama tidak pernah meletakkan nama ku sebelum adik ku, mereka hanya mengetahui satu nama itu sedangkan Alvaro dan Alvero dimana? Mungkin mereka berdua sudah mati"


"Aku selalu berpikir papa ku dimana, aku ingin memiliki marga seperti papa ku, aku ingin dianggap seperti adik ku. Tuan Salvatrucha kau tau betapa sakitnya aku ketika disembunyikan terus menerus didalam ruangan?"


"Sekarang kalian minta maaf? Kalian tidak pernah berpikir bahwa keegoisan kalian menyakiti ku? Aahh yaa bahkan kau tidak tau adik ku meninggal!!"


"Seandainya jika kalian tidak egois satu sama lain mungkin aku akan dianggap oleh dunia tapi apa? Kadang aku bertanya apakah aku anak haram yang tidak pantas hidup di dunia?"


Vano menangis habis habisan mendengar seluruh unek unek putranya, lagi lagi air mata itu terjun bebas melihat wajah Vero.

__ADS_1


"Kau tau usia ku? Aku masih kecil tapi dunia memaksa ku untuk menjadi dewasa, aku memikirkan sesuatu yang tidak layak dipikirkan anak seusia ku"


"Mungkin seribu maaf papa tidak sebanding dengan apa yang kau rasakan nak tapi papa benar benar menyesal"


"Kau tau taman bermain tempat ku mengajak Excel? Iya aku sering ke tempat itu secara diam-diam, untuk apa? Hanya untuk melihat seorang anak dan ayahnya bermain setiap libur bekerja, mereka sangat bahagia dan aku hanya bisa melihat kebahagiaan itu dari jauh"


"Kau pernah merasakan sakitnya ketika orang orang bertanya dimana ayah mu kenapa dia tidak pernah datang menemani mu bermain, aku hanya membalas mereka dengan senyuman lalu pergi"


"Aah ya waktu itu kau pernah menanyakan soal didikan orang tuaku, maaf tuan Salvatrucha orang tua ku tidak sesempurna papanya Excel jadi dia tidak bisa mendidik ku terlalu ketat selain terkurung ditempat sialan ini"


Vero menyembunyikan wajahnya diatas meja belajar lalu menangis tanpa suara hingga dadanya sakit.


Ceklek


Vallen masuk kedalam kamar Vero, sepertinya wanita itu mendengar percakapan mereka sedari tadi, saat Vallen masuk dia melihat Vano tidak bisa berkata apapun, ucapan pedas Vero berhasil membuatnya bungkam.


"Sayang disini mama yang salah telah meninggalkan papa"

__ADS_1


"Bukan, bukan kalian yang salah tapi Vero, harusnya Vero mati saja waktu itu bersama Varo" jawab Vero.


Vano langsung mendekat dan memeluk Vero agar tidak mengucapkan kalimat seperti itu lagi.


"Jangan katakan itu sayang papa sangat sakit mendengar nya" ucap Vano sembari mencium kepala putranya.


"Lebih sakit hatimu atau jiwa ku" kata Vero.


"Lepaskan aku apa hak mu menyentuh ku!" Imbuh Vero setelah ia sadar Vano memeluknya.


Lagi lagi perkataan Vero menusuk hatinya dan itu sangat perih, Vano melepaskan Vero kembali.


"Keluarlah!"


"Sayang mama,,,"


"Ma!"

__ADS_1


"Kalian tau pintu keluar kan? Keluarlah sebelum aku yang keluar"


Vallen menyentuh lengan Vano agar mereka keluar terlebih dahulu sebelum emosi Vero kembali meledak.


__ADS_2