Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 191


__ADS_3

Ceklek


Ruangan itu gelap, gorden tertutup rapat dan volume suhu AC sangat tinggi. Vano menyalakan lampu dan ketika ruangan sudah terang seluruh benda yang berbentuk memantul pecah.


"Vallen" Vano terkejut dengan keadaan kamar istrinya sangat berantakan.


"Keluar!!" Usir Vallen.


"Sayang,,,"


"Jangan panggil aku sayang, aku bukan istrimu lagi" ujar Vallen.


"Vallen kau sadar dengan ucapan mu? Sayang ada apa? Kenapa tiba-tiba kau berubah"


Vano mendekati Vallen namun gadis itu terus menghindar agar Vano tidak sampai melihat wajahnya.


"Aku tau wajah mu rusak dan apa masalah nya! Aku tetap mencintaimu Vallen jadi ayo pulang dan hentikan omong kosong mu!" Kata Vano sembari memegang pundak istrinya lalu memutar balik tubuh Vallen agar menghadap ke arahnya.


Vano sama sekali tidak jijik atau pun takut dengan wajah istrinya karena baginya wajah bisa dirawat dan akan sembuh seiring berjalannya waktu.


"Aku sudah mengirim surat cerai, kau sudah menerimanya? Tanda tangani sekarang agar masalah nya cepat selesai" ucap Vallen.


"Tidak akan, surat haram dan perkataan haram yang ingin kau dengar itu tidak akan pernah kau dapatkan"

__ADS_1


"Aku sudah tidak mencintai mu lagi Vano"


"Aku yang sangat mencintai mu" ucap Vano dengan sabar.


"Cih aku tidak ingin hidup dengan orang yang tidak aku cintai" bantah Vallen.


"Apa aku punya salah? Katakan apa salah ku agar aku bisa memperbaikinya dan meminta maaf padamu" Vano memegang tangan istrinya tapi Vallen semakin mundur.


"Aku baru saja bangun dari koma dan aku berharap ketika membuka mata kau adalah orang pertama yang ku lihat, umi dan Abi mengatakan aku harus cepat sembuh agar bisa bertemu dengan mu dan aku melakukan semuanya tapi hari ini aku tidak tau apakah hanya mimpi atau tidak" ujar Vano berkaca kaca.


Vallen tetap diam menyimak ucapan Vano namun sepertinya dia tidak terlalu peduli.


"Kau tau? Perkataan mu lebih sakit daripada tiga peluru yang menancap ditubuh ku kenapa aku tidak mati saja daripada harus seperti ini aku akan lebih tenang Vallen" Vano membuka perban diperut dan samping dadanya lalu satu lagi di belakang.


"Apa yang kau lakukan!" Ucap Vallen memperhatikan sekilas tindakan Vano.


"Ku dengar kau ingin pergi, kemana?" Tanya Vano mengalihkan pembicaraan.


"Kau tidak perlu tau!"


Vano memejamkan mata merasakan pedih dan perih, hatinya lebih hancur daripada bentuk kulitnya akibat tusukan peluru.


Vano mendekati Vallen lalu memeluknya dengan erat tidak peduli Vallen memberontak kuat.

__ADS_1


"Sekali saja Vallen aku janji ini terakhir kali, aku tidak tau kedepannya aku bisa hidup atau tidak tanpa dirimu"


Suara Vano tercekat oleh air matanya tapi langsung ia hapus agar Vallen tidak melihat itu.


Setelah lima belas menit memeluk Vallen tanpa sepatah kata Vano akhirnya melepas pelukan itu, mereka sama sama terdiam.


"Aku masih berharap kau tidak meninggalkan ku"


"Jangan terlalu berharap" jawab Vallen mengalihkan pandangannya.


Vano tersenyum tipis walau hatinya hancur berkeping-keping.


"Baiklah ini pilihan mu aku akan menghargai nya" ucap Vano.


"Bagus kau hanya perlu menandatangani surat cerai itu sekarang"


"Sudah ku bilang tidak akan dan kau jangan terlalu berharap, kembalilah setelah kau merasa baik baik saja"


"Penerbangan mu sebentar lagi kuharap kau sampai ditujuan dengan selamat" imbuh Vano setelah melihat jam dinding dikamar itu.


Vano tidak ingin mencium kening Vallen karena ia tau dirinya tidak bisa mengontrol diri. Vano hanya menepuk pundak Vallen lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu.


"Tidak ingin mengantar ku?" Tanya Vano.

__ADS_1


Vallen mematikan lampu yang berarti ia tidak ingin melakukan apapun, senyum pedih Vano terlihat sangat menyakitkan jika ada orang yang melihatnya.


"Aku akan selalu mendoakan mu di setiap sujud ku jangan khawatir aku tidak akan bosan melakukannya" ucap Vano lalu pergi dengan menutup pintu.


__ADS_2