Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 71


__ADS_3

Pagi sekali Vano keluar dari kamarnya, malam tadi ia terpaksa menginap di rumah itu karena ulah Vino, kesal sebenarnya tapi apa boleh buat.


Tok,,,tok,,,tok


"Abi buka pintu!!" Teriak Vano dari luar.


Brak!! Brak!! Brak!!


"Abii buka pintu!!" Teriak Vano seperti anak macan tutul kelaparan.


Ceklek


Vira membuka pintu dan melihat wajah asam putranya, jelas kondisi itu sangat tidak baik bahkan Vira saja tidak berani mengganggunya.


"Umi baik baik saja?" Tanya Vano.


"Baik sayang ayo masuk" jawab Vira mempersilahkan putranya.


Vano masuk kedalam kamar orang tuanya, ingin sekali Vano membanting abinya ketika ia melihat Vino sedang asik tertidur lelap.


Dor!!!


Vano menembak kan satu pelurunya ke atas hingga telinga Vira dan Vino ingin meledak mendengar suara pistol yang sangat keras.

__ADS_1


"Aw Vira sayang suara apa itu" ucap Vino memegang telinganya.


"Vira sayang Vira sayang cepat bangun kenapa abi masih tidur!!" Ujar Vano kesal sembari memasukkan pistolnya kedalam saku jas.


"Eh?? Va,,,Vano hehe ada apa?" Tanya Vino pura pura lupa dengan janjinya.


"Apa IQ 200 tidak cukup untuk membuat orang pintar? Jangan pura pura lupa cepat bangun!!" Jawab Vano mengacak-acak tempat tidur Vino.


Disisi lain Vira berjalan pelan masuk kedalam kamar mandi sebelum terjadi peperangan selanjutnya.


Satu, dua, tiiga. Batin Vira


"Vanoo!!!" Vino melilit leher putranya lalu melempar Vano ke atas ranjang, keduanya bertengkar hebat walau tidak saling menyakiti tapi mereka saling mencekik satu sama lain.


Vino sangat kesal pada putranya karena tidak sabaran sebab matahari belum berniat keluar sama sekali bahkan bintang bintang masih bersinar cerah.


Beberapa saat kemudian Vira keluar dan melihat putranya sedang terikat, tampaknya ikatan itu sudah disimpul mati oleh Vino karena Vano tidak bisa bergerak sama sekali.


"Astaghfirullah dua manusia ini" gumam Vira mengelus dadanya.


"Sayang ayo shalat jamaah" ajak Vino.


"Kenapa kau,,,,"

__ADS_1


"Jangan hiraukan brekele tidak sabaran ini, ayo shalat" ucap Vino ketus lalu menggelar sajadah nya dan memulai ibadah.


Vano terus berusaha membuka ikatan seprei itu walaupun hasilnya nihil, dia melihat ketentraman keluarga kecilnya, ternyata walau galak dan ketus Vino sangat pintar sebagai imam yang baik hingga membuat Vano berkhayal jauh.


Apa aku mampu seperti abi? Membimbing makmum bukan lah hal yang mudah, apa aku bisa seperti abi mengajak Vallen seperti itu, beribadah bersama dihadapan Tuhan. Batin Vano


selasai shalat dan berdoa untuk kelancaran hidup dunia dan akhiratnya, Vino melepas apel yang ada di mulut Vano.


"ayo Abi cepat lah" kata Vano memelas.


"mau ku masukkan apel lagi?"


Vano menggeleng cepat dan bungkam agar dirinya cepat bebas, tindakan Vino memang tidak wajar tapi yang lebih gila lagi Vano yang ingin bertamu ke rumah orang sembarangan waktu.


"Umi tolong Vano"


"umi ingin mundur menjadi istri dan ibu, umi tidak ikut campur hehe" kata Vira cengengesan lalu memasang kain penutup wajahnya dan keluar kamar membiarkan dua pria itu merusak kamarnya untuk sementara waktu.


"mau mencari pembelaan dari siapa lagi? kekasih mu? cih sayang sekali dia sudah pergi. mungkin dia tidak betah dengan sikap dingin mu" ejek Vino dengan seutas senyum liciknya.


"Abi tutup mulutmu!!" bentak Vano kesal.


"baik mulut ku diam dan tangan ku juga diam, bye sayang. membusuk lah disini hingga jam benar benar menunjukkan layak bertamu" ucap Vino ketus.

__ADS_1


cup


Vino mencium kening putranya dengan seringai lalu meninggalkan Vano untuk menyusul Vira di dapur, biasanya Vino membiarkan Vira sendiri namun karena luka di bahunya tidak akan Vino biarkan istrinya menyentuh debu sekalipun.


__ADS_2