Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 93


__ADS_3

Beberapa saat kemudian satu keluarga besar itu berkumpul untuk membicarakan kembali tentang Vallen, dimana dia harus tinggal. Sedangkan Vano tetap setia menemani Vallen didalam.


"Mau makan buah?" Tanya Vano.


"Kau tidak membenciku lagi?" Tanya Vallen memperhatikan pria didepannya.


"Membencimu? Atas dasar apa?" Tanya Vano balik sembari mengupas apel kesukaannya.


"Tidak tidak, bagaimana umi? Apa dia baik baik saja?"


Vano menghentikan tangannya mengupas apel, ia lebih tertarik dengan ingatan Vallen saat ini. Bukankah ia akan lupa dengan wajah seseorang jika otak nya sudah dicuci.


"Vallen kau mengingat ku?"


"Tentu saja memang nya kenapa"


"Bukankah,,,,, tidak tidak tidak jadi" Vano kembali mengupas apel namun isi otaknya terdapat sekelebat pertanyaan.


"Aku ingat satu hal saat seseorang mencoba mengalihkan perhatian ku dan mencuci otak ku entah kenapa waktu itu aku tidak pernah fokus jadi sebelum mereka memasang alat ditubuh ku aku belum bisa melupakan wajah mu oleh karena itu pengendali di otak ku tidak sinkron" tutur Vallen panjang lebar.


"Intinya kau baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup untuk ku" ucap Vano lalu menyuapkan apel kepada Vallen.


"Mm boleh aku bertanya?"

__ADS_1


"Silahkan"


"Kenapa mereka menyebut orang tua? Siapa mereka?" Tanya Vallen.


Vano meletakkan pisau ke atas nakas lalu menatap Vallen, otaknya yang masih terikat itu tampak lelah, Vano tidak mungkin menceritakan itu sekarang ini.


"Istirahatlah kau pasti lelah" jawab Vano mengalihkan pembicaraan.


"Tapi,,,,,"


"Berjanji padaku kau akan sembuh maka akan ku ceritakan segalanya" ujar Vano memotong kalimat Vallen.


Vallen terpaksa mengiyakan permintaan Vano walaupun sebenarnya Vallen sangat penasaran.


"Vano mm bisa memberikan ku waktu sendiri?" Tanya Vallen ragu.


"Aku tidak akan kemanapun aku hanya ingin sendiri sebentar saja, bisakah?"


Vano menatap dalam manik hitam milik Vallen dan disana tidak ada kebohongan hanya ada mata lelah mungkin karena ia lelah berbaring.


"Baiklah tapi sebentar saja ya, aku tunggu diluar"


Vallen mengangguk lalu Vano berdiri dan mengelus pelan kepala Vallen sebelum meninggalkan nya keluar kamar.

__ADS_1


Setelah merasa sepi Vallen mengingat ingat malam dimana ia disandera oleh Pian, tapi itu bukan inti dari ingatannya melainkan ada hal lain yang membuatnya tersenyum.


"Aku tidak mengerti kenapa kau sangat baik padaku tapi maaf aku belum bisa melakukannya, aku berjanji akan melakukannya secepat mungkin" gumam Vallen kembali tersenyum.


Sembari menghalu sendirian Vallen menatap sekelilingnya tanpa meredupkan senyum manis itu, dan ketika pandangan nya mengarah pada nakas Vallen melihat ponsel, sepertinya itu milik Vano.


"Apa ini yang dinamakan mukjizat? Kenapa aku merasa pintar" gumam Vallen ketika ia bisa membuka kunci ponsel milik Vano padahal sebenarnya Vano sengaja menggunakan wajah Vallen sebagai kunci pembuka ponselnya sedangkan jika Vallen tidak ada ponsel itu menggunakan password.


Vallen mulai mencari beberapa pelajaran yang menyusahkan untuk dia pelajari meskipun otaknya tidak selalu menerima apa ia baca.


"Sulit sekali ini maksudnya apa, orang itu hanya mengajarkan cara shalat dan bacaan inti" gumam Vallen menepuk keningnya.


Vallen berpikir kenapa tidak dicoba sekarang mumpung tidak ada orang, dia sudah bisa shalat bahkan beberapa bacaan, dia pintar karena bisa menghafal tiga surah dalam waktu satu malam.


"Belajar shalat disini bisa tidak ya" gumam Vallen.


"Tidak tidak Vano akan membunuh ku jika bergerak sedikit saja dari tempat ini tapi kata ustadz itu tidak boleh ditunda selagi masih sadar dan tidak koma" imbuh Vallen bingung.


"Lebih takut Tuhan atau lebih takut Vano? Tuhanlah sudah pasti"


"Tapi Vano bersaudara dengan iblis dia sangat mengerikan" kata Vallen lemah lesu.


Dia tidak tau harus bagaimana, berpindah dari tempat nya sekarang sama saja mencari mati dengan Vano tapi jika tidak dia cari mati dengan Tuhan.

__ADS_1


"Persetan dengan Vano dia juga takut dengan Tuhan, jika dia marah marahi balik saja!" Ucap Vallen sudah tidak perduli dengan wajah menyeramkan Vano.


Vallen akhirnya memberanikan diri untuk bangun dari tempat tidurnya padahal baru beberapa jam dia bangun dari koma, tentu saat Vallen mencoba untuk berjalan kepalanya masing pusing dan berjalan agak pelan dari biasanya.


__ADS_2