
Dan malam pun tiba, Vano masih berada dirumah Ferrero karena ia belum berhasil membujuk Vero, usahanya dari pagi sampai malam tidak ada yang berhasil, Vero tetap tidak merespon apapun.
"Vano ayo makan malam" ajak Bela.
Vano menggelengkan kepala, nafsunya untuk makan sesuatu tidak ada sama sekali.
"Ayolah Vano jangan terlalu pikirkan Vero, pelan pelan dia pasti akan menerima mu sebagai papanya" ucap Bela.
"Itu benar, Vero pasti akan luluh seiring berjalannya waktu" saut Vallen yang baru keluar dari kamarnya didampingi oleh pelayan.
"Kalian saja aku tidak lapar" ucap Vano dengan senyum tipisnya.
"Setiap malam Vero pasti akan bergabung untuk makan malam dengan kami, kau bisa mengambil perhatian nya dari sana nanti" imbuh Vallen.
"Benarkah?" Vano langsung mengangkat wajahnya menatap Vallen dan Bela bergantian.
"Iya lihat saja nanti"
Vano mengangguk antusias lalu mengambil alih posisi pelayan tadi dan mendorong Vallen menuju meja makan.
Sampai di meja makan Vano ternyata harus menunggu Vero terlebih dahulu sedangkan yang lainnya sudah berkumpul, untuk pertama kalinya kursi dimeja makan penuh malam ini dan tersisa satu kursi yang kosong dan nanti akan diisi oleh Vero.
"Kau sudah memanggil Vero untuk makan malam?" Bisik Vallen pada salah satu pelayan.
"Sudah nona mungkin sebentar lagi tuan muda akan turun, saya permisi dulu nona"
Vallen mengangguk dan kembali menunggu Vero untuk turun, tidak ada yang berani menyentuh makanan sebelum anak itu datang.
Beberapa saat kemudian ada suara kaki dari atas, Vano cukup antusias hanya mendengar suara tersebut.
Vero mulai terlihat dari tangga hingga turun kebawah dengan langkah stabil, benar benar anak ini adalah Vano versi kedua pikir Ethan.
"Selamat malam dek" sapa Vero sembari mencium kening Vera lalu duduk di ujung meja.
"Selamat malam kak"
Vero memperhatikan menu makan malam hari ini dan semuanya adalah makanan favorit Vero, dia acuh saja memakan apa yang ingin dia makan tanpa menatap orang orang disana.
"Ayo semuanya silahkan makan" ucap Bela karena melihat tidak ada yang menyentuh makanan selain Vero.
Semuanya mengangguk dan mulai menyantap makanan masing-masing. Vano terus saja menatap putranya namun Vero tidak pernah melihatnya sekalipun.
Selesai makan malam meja makan mereka belum tau harus membicarakan masalah apa karena Vero sangat berpengaruh diantara mereka.
"Sudah datang" bisik Ethan.
Vano mengambil nafas sebelum ia berbicara, takut Vero akan mengkritik nya habis habisan seperti dikamar tadi.
"Baiklah sebelumnya maaf telah mengganggu waktu kalian tapi ada sesuatu yang ingin ku berikan pada anak ku" ucap Vano.
__ADS_1
Vero langsung berniat untuk pergi setelah pembicaraan Vano dimulai.
"Kak jangan pergi" bisik Vera.
"Kakak tidak ingin disini Vera"
"Vera mohon" dia menyatukan kedua tangannya.
Haahh
Vero terpaksa mengiyakan permintaan adiknya karena ia tidak bisa melihat wajah memelas itu.
"Ini pesanan anda tuan" ucap pelayan.
"Terimakasih" Vano mengambil kotak kecil lalu memberikannya pada Vera.
"Untuk Vera?"
Vano hanya menanggapi dengan senyuman manis sebelum Vera membukanya.
"Buka sayang" ucap Vano.
Vero menyandarkan tubuhnya dan ikut melihat kotak pemberian Vano tadi, Vera membuka kotak itu dengan sangat hati-hati dan ternyata isinya satu buah kalung dan cincin.
"Waah cantik sekali pa"
Vera memakai kalung yang dibaluti dengan berlian mewah itu dan terlihat sangat cantik ketika Vallen telah mengaitkan kalung tersebut dileher putrinya.
"Kak ayo pakai, ini untuk kakak" kata Vera memberanikan dirinya.
Vero menggelengkan kepala dengan cepat lalu mengalihkan perhatiannya asal asalan.
"Ayo kak Vera mohon"
"Vera!"
Gadis kecil itu terlihat murung dan meredupkan senyum manisnya ketika Vero memanggil dengan nada sedikit tegas.
"Kakak bohong kakak bilang akan mengikuti seluruh keinginan Vera dan sekarang apa? Hanya menggunakan cincin saja ditolak, dasar pembohong!"
Vero kembali menatap adiknya, mana tega dia melihat Vera seperti itu hanya karena ia menolak permintaannya.
Vero mengambil cincin tersebut lalu memakainya dengan cepat agar Vera tidak terlihat murung lagi.
"Lihat? Sudah puas?" Tanya Vero memamerkan jarinya.
"Wooww!!"
Ketika Vero dan Vera menggunakan cincin itu sinar di dalam batu berliannya menyala seperti memberikan sinyal jika keduanya sedang berdekatan.
__ADS_1
Vero juga heran melihat sinyal sinyal itu, dia melepaskan cincinnya dan sinar itu mati.
"Excel tangan mu"
"Mm?" Excel dengan polos memberikan tangannya pada Vero.
Vero memasangkan cincin tersebut ditangan Excel namun dia tidak bersinar dan kalung yang digunakan Vera juga mati.
"Tristan kemari"
Tristan juga mengikuti perkataan Vero, dia turun dari kursinya dan mendekati Vero. Hasilnya sama saja, cincin itu mati ketika orang lain menggunakan nya.
"Pakailah tangan mu pasti muat, aku tidak bisa menggunakan mainan seperti ini" ucap Vero pada adiknya.
Mainan katamu? Harganya 980 juta Vero itupun hanya gelang adik mu belum terhitung cincin mu yang dua kali lipat lebih mahal. Batin Ethan ingin berteriak menyanggah ucapan Vero namun ia takut melakukan kesalahan.
"Vera benar benar akan marah dan tidak ingin berbicara dengan kakak lagi!" Ancam Vera kesal karena penolakan Vera.
"Baiklah atur saja keinginan mu" kata Vero akhirnya menyerah dan memakai kembali cincin tersebut lalu kembali ke kamarnya.
Walaupun Vano diam sedari tadi ia tersenyum Vero menerima hadiah darinya.
"Sudah ku katakan jangan membelikan sesuatu yang,,,,"
"Diam sayang caramu mendidik dan caraku mendidik berbeda" bisik Vano sembari memegang tangan istrinya.
"Baiklah karena sudah malam kami akan pergi ke kamar untuk beristirahat, Vallen mau di antar?" Tanya David.
"Biarkan pelayan saja nanti pa" jawab David.
"Baiklah" David dan Bela pergi ke kamarnya.
"Kami juga harus pergi beristirahat" saut Ethan langsung menggerong Excel dan Tristan.
"Hey kita tidak menginap kau istirahat dimana?" Tanya Vano bingung.
"Papa dan mama telah menyiapkan ruang tamu tadi sore" jawab Vallen.
"Baiklah kau juga pasti lelah hari ini, ayo aku antar ke kamar mu"
"Ayo ma pa kita tidur" saut Vera.
"Kita?" Keduanya mengulangi kalimat Vera.
"Iya kita malam ini Vera ingin tidur dengan mama dan papa" jawab Vera.
Sontak Vallen dan Vano saling menatap, tentu saja suasana disana sangat canggung karena perkataan putri mereka.
"Ayo pa" Vera sampai menarik Vano agar mendorong Vallen.
__ADS_1
"I,,iya sayang" Vano mendorong kursi roda milik istrinya menuju kamar.
***