
Tok,,,tok,,,tok
"Papa!!"
"Iya sayang"
"Dicari nenek keluarlah atau Excel akan dimarahi"
"Iya sebentar beritahu nenek papa sudah terlambat"
"Issh!! Bisa tidak jangan terlalu sibuk Excel kesal tau"
Ceklek
Vano tersenyum tipis melihat wajah cemberut putranya, manis sekali laki laki itu.
"Baiklah ayo turun" ajak Vano.
"Nahkan begini jadi anak yang berbakti pada orang tua"
"Hey pintar sekali kau ya, siapa yang mengajari mu?" Tanya Vano sembari menggendong Excel turun ke bawah.
Dimeja makan semua duduk dengan tenang menunggu kedatangan Vano dan Excel.
"Selamat datang tuan Vano Salvatrucha silahkan duduk" sapa Vira.
Vano tersenyum dengan sindiran halus uminya karena selama ini dia tidak pernah menyempatkan diri untuk sarapan dirumah bersama yang lain.
Pria itu selalu menyibukkan diri sampai tidak ada waktu kecuali menemani Excel pergi bermain.
"Excel turun papa ingin sarapan" ucap Sarah.
"Biarkan saja" saut Vano dengan senyum tipisnya.
Vano duduk dikursi miliknya lalu Vira menyiapkan sarapan pagi untuk Vano dan Excel.
"Makan sayang" Vano menyuapi Excel roti dengan selai cokelat.
"Excel turun papa akan terlambat karena menyuapi mu" ucap Ethan tegas.
"Ayah papa sendiri yang ingin Excel dipangkuan nya kenapa kalian repot sekali, ibu juga!" Ujar Excel kesal.
Vano pun berwajah datar menatap Sarah dan Ethan, dia tidak suka Ethan memperlakukan Excel seperti itu ya walaupun Excel hanya anak angkat Vano.
__ADS_1
Excel sebenarnya anak dari Ethan dan Sarah tapi Vano yang merawatnya sejak masih kecil, usianya sekitar 3 tahun sekarang dan Vano mengurusnya dengan sangat baik.
Ethan membiarkan Vano mengangkat Excel sebagai putranya karena senyum pria itu seketika kembali melihat Excel, Ethan bersyukur Excel hadir disaat yang tepat dan alasan kedua adalah karena Ethan masih memiliki satu putri, usianya sekitar satu tahun lebih.
Bahkan Excel lebih sering bertengkar dengan Ethan ayah kandungnya ketimbang Vano, Ethan sering kesal karena kalah dari Excel.
"Cihh bahkan kau lebih memperhatikan dia daripada aku" kata Ethan ketus sembari memakan rotinya dengan kasar.
Mungkin dia lebih cemburu Vano memberikan perhatian lebih pada Excel daripada Sarah didekati pria lain.
"Excel sebentar lagi papa akan berangkat bekerja, Excel bisa makan sendiri dulu atau disuapi ibu?"
"Excel ayo pergi bermain ditaman belakang" ajak Tristan.
Dengan polosnya Excel memasukkan seluruh roti kedalam mulutnya lalu menatap Vano untuk meminta izin.
"Jangan sampai terluka" ucap Vano tersenyum manis mengelus kepala Excel.
Excel mengangguk lalu berlari lari kecil menuju taman belakang.
Tristan adalah putra dari Farel dan Zea, umur keduanya tidak jauh beda hanya selisih beberapa bulan tetapi Excel lebih dulu lahir.
"Vano berangkat umi abi" ucap Vano setelah menyelesaikan sarapannya lalu bersalaman pada Vira dan Vino.
"Silahkan tuan" ucap Ethan tersenyum manis mempersilahkan Vano masuk kedalam mobil.
Keduanya berangkat bersama seperti biasa, tidak ada waktu istirahat atau malas malasan seperti dulu, jadwal Vano sangat padat apalagi setelah mendapat gelar pengusaha sukses di usia sangat muda.
3 tahun ini Vano meraih banyak prestasi, dia tidak memberikan celah sedikitpun pada perusahaan lain untuk menyaingi perusahaannya namun Vano tidak menjatuhkan sama sekali.
"Selamat pagi tuan"
Seperti yang sudah diduga Vano akan menjadi sangat dingin didepan banyak orang, wajah datarnya sama sekali tidak pernah tidak terlihat dikantor, ketegasannya dalam memimpin membuat Vano ditakuti oleh karyawan.
"Bacakan jadwal!" Titah Vano duduk dikursi kebesarannya.
"Selama satu jam kedepan tidak ada tapi jam sembilan nanti ada pertemuan dengan klien lalu meeting dengan perusahaan Golden Picture sampai jam 12:00 setelah itu istirahat sebentar untuk makan dan shalat, lanjut jam 14:00 pemeriksaan berkas berkas meeting untuk besok, setelahnya tanda tangan berkas berkas untuk proyek baru" Tutur Ethan.
"Jadi selama satu jam tidak ada jadwal?"
Ethan mengangguk lalu menutup iPad nya
Tring,,, tring
__ADS_1
Excel memanggil dengan panggilan video
"Halo papa" seketika wajah datar Vano berubah manis karena senyuman nya.
"Iya sayang kenapa?" Tanya Vano.
"Mm papa jangan marah ya"
"Kenapa harus marah? Tanya Vano bingung.
"Hehe tadi Excel jatuh dan tidak sengaja tergores sedikit"
Wajah Vano langsung panik sedangkan Ethan biasa biasa saja karena ia tau lukanya tidak serius.
"Panggilkan dokter cepat!!" Titah Vano pada Ethan.
"Jangan pa tadi ibu sudah menempelkan plester dan ini tidak sakit" saut Excel dengan cepat.
"Lihat sayang dimana yang luka"
Vano memperhatikan luka yang amat sangat kecil tersebut.
"Tidak sakit apanya merah begitu, papa panggilkan dokter ya" bujuk Vano.
"Sebenarnya tujuan Excel memanggil papa itu bukan ini"
"Lalu?"
"Minta uang hehe" jawab Excel cengengesan.
"Ambil di laci papa"
"Berapa?" Tanya Excel.
"Berapa pun yang kau butuhkan" jawab Vano.
"Terimakasih papa"
Vano tersenyum lalu memutuskan sambungan karena Excel langsung meninggalkan ponsel setelah diizinkan mengambil uang.
"Cihh dasar mata uang" gerutu Ethan.
"Keturunan mu" saut Vano dengan senyum mengejek.
__ADS_1