
Keduanya bergegas menuju tempat pendaftaran pernikahan, tidak banyak yang mereka lakukan mungkin hanya menyerahkan data diri beserta foto pernikahan.
Keluar dari mobil keduanya langsung masuk kedalam, dikarenakan masih sangat pagi mereka mendapat nomor antrian pertama sehingga identitas mereka bisa langsung di catat petugas.
"Apa hanya itu?" Tanya Vallen bingung.
"Iya hanya itu dan besok kita akan menandatangani nya setelah menikah secara agama" jawab Vano.
"Kenapa tidak sekarang?"
"Tidak bisa Vallen itu sudah peraturan negara kita"
Vallen mengangguk anggukan kepala mencerna jawaban Vano, ada pemikiran yang diluar dugaan sebenarnya namun Vallen simpan untuk diri sendiri.
"Baiklah tuan kami akan datang mengantar buku pernikahan kalian nanti" ucap salah satu petugas.
"Terimakasih" Vano langsung mengajak Vallen keluar kantor.
"Aku ingin mengajak mu ke suatu tempat" kata Vano.
"Kemana?"
"Ada satu tempat yang sangat aku sukai untuk menenangkan diri, hanya kau yang tau, Ini tempat rahasia ku dengan umi" tutur Vano
"Baiklah hari ini bawa aku kemanapun kau mau sebelum papa dan mama mencari ku"
Vano menjalankan mobil nya menuju suatu tempat, tempat yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Vira, Vino dan Vano pun tidak tau dimana.
"Ayo turun" ajak Vano.
__ADS_1
"Supermarket adalah tempat rahasia mu?" Tanya Vallen bingung.
"Bukan, ikut saja"
Keduanya masuk kedalam supermarket, Vallen agak terkejut melihat Vano seperti memborong seluruh isi supermarket.
"Apa kita bisa menghabiskan semua ini?" Tanya Vallen.
"Ambil apapun yang kau inginkan jangan lihat apa yang aku ambil" jawab Vano tersenyum manis melanjutkan borongan nya.
Vallen hanya mengambil air putih dingin, heran saja melihat kekasihnya seperti akan membuat stok makanan selama satu bulan.
Selesai berbelanja banyak Vano membawa Vallen ke sebuah rumah, rumah yang cukup besar dan mewah.
"Ini rumah siapa?" Tanya Vallen bingung.
"Akan ku jelaskan nanti, ayo masuk" jawab Vano.
"Papa!!" Teriak anak anak itu kompak memeluk Vano.
"Apa kabar?" Tanya Vano memeluk mereka secara random.
"Baik papa, papa kenapa jarang kemari apa sudah tidak merindukan kami?"
"Siapa bilang? Papa sangat merindukan kalian tapi papa harus mencari uang dulu untuk memberi kalian makan" jawab Vano dengan nada anak kecil.
Jujur Vallen syok mendengar panggilan papa dari anak anak kecil yang jumlahnya tidak bisa ia hitung itu.
"Ka,,, kau sudah memiliki anak? Kapan kau menikah?" Tanya Vallen berkaca kaca.
__ADS_1
Vano mengangkat kepalanya menatap Vallen, senyum nya merekah melihat ekspresi sedih gadis itu.
"Siapa yang ingin makan ice cream?"
Kompak semua mengangkat tangan.
"Ambil ini dan ambil sendiri dibagasi, suruh tukang kebun membantu kalian"
"Yeeyyy terimakasih papa!!" Teriak bocah-bocah itu memeluk Vano sekali lagi lalu berlari ke arah mobil ditemani tukang kebun.
Haaahhh!!
Seperti biasa Vano merasa tenang jika sudah bertemu anak anak itu.
"Mereka adalah anak panti asuhan yang dibuang atau telantarkan orang tuanya, banyak dari mereka yang kehilangan orang tua" tutur Vano tersenyum tipis melihat anak anak itu memakan es krim dengan lahap.
"Tapi kenapa mereka memanggil mu papa? Berapa kali kau menikah?" Tanya Vallen masih belum percaya.
"Aku yang menyuruh mereka memanggil ku papa karena ada salah satu anak yang mengingatkan ku betapa sakitnya kehilangan orang tua"
"Siapa dia?"
"Anak cerdas dan tampan yang sekarang sudah tumbuh dewasa, dia adalah Ethan. Masih sangat jelas di ingatan ku ketika melihatnya kesakitan dan menangis memegang kepalanya didepan mobil yang meledak akibat kecelakaan, orangtuanya tewas ditempat, aku sempat menyalahkan diri ku ketika tidak datang tepat waktu malam itu bersama om Andre. Bocah itu yang membuat ku merasakan tangis untuk pertama kali setelah keluarga ku berkumpul utuh, aku seperti merasakan apa yang dia rasakan" tutur Vano menghela nafas menceritakan tentang Ethan.
"Ethan sempat seperti orang mati tanpa nafsu untuk hidup, senyum nya tidak ada, tawanya tidak ada hanya rasa sakit yang ada dikepala sampai akhirnya anak itu dirawat berbulan bulan dan sembuh. Aku seperti orang yang ikut membesarkan nya, aku melihat proses pertumbuhan nya. Oleh karena itu apapun yang dia inginkan aku tidak pernah bisa menolak nya, aku sudah menganggap nya seperti adik ku sendiri, berapa pun ia minta uang selama aku bisa memberikannya pasti akan ku berikan" imbuh Vano hampir saja menumpahkan air mata.
"walaupun dia diangkat oleh om Andre aku tetap tidak mengizinkan nya memiliki rumah pribadi, dia harus tinggal bersama ku agar aku bisa menjaganya dengan baik."
"Dan kenapa aku menyuruh mereka memanggil ku papa karena aku tau apa yang dirasakan Ethan saat itu pasti mereka rasakan juga, jika orang tua mereka sudah tidak ada setidaknya masih ada aku yang mereka miliki di dunia ini" tutur Vano.
__ADS_1
Vallen sampai meneteskan air mata melihat sisi lain dari Vano, dia sangat bersyukur bisa dipertemukan oleh orang sebaik Vano, pria itu memang laki laki yang keras tapi hatinya tidak bisa berbohong.