
Kini tibalah saatnya Vino mulai repot mengurus bayi yang dititipkan padanya, memang bayi itu untuk uji coba tapi disini hanya Vano yang bekerja karena Vallen tidak berguna sama sekali.
Vano sempat menitipkan bayi itu pada sang calon istri namun saat kembali membawa botol susu Vano melihat bayi itu sedang ditutupi oleh bantal dan parahnya lagi Vallen hanya diam sembari menutup telinga karena tangisan bayi itu.
"Vallen ambilkan pampers, sepertinya dia buang air besar" ucap Vano sembari menggendong bayi.
"Pampers itu apa?" Tanya Vallen bingung.
"Mm bagaimana ya menjelaskan nya mm intinya pampers itu ada di kamar umi, ambil sana cepat!!" Jawab Vano mendorong dorong tubuh Vallen agar segera bertindak.
Vallen berjalan menuju kamar Vira dan Vino sambil mengingat-ingat perintah Vano, gadis itu memang bodoh hanya saja mata dan ingatan nya sangat tajam tapi entahlah apakah dia mengerti atau tidak.
"Umii Vallen disuruh mengambil pampers, masuk boleh ya!!" Teriak Vallen dari luar lalu langsung masuk kedalam walaupun tidak ada orang yang membukakan pintu.
"Pampers pampers pampers dikamar umi tapi dimana?" Gumam Vallen mengelilingi kamar sultan itu.
Cukup lama Vallen mencari dan bukan pampers yang ia temukan melainkan sebuah foto, foto dimana ada beberapa gambar manusia didalamnya termasuk Vano yang sedang merangkul seorang gadis kecil.
"Cih apa apaan ini, dia yang bernama Fania? Rupanya kau sangat menyukai gadis ini sampai harus dirangkul" gerutu Vallen mencakar cakar gambar Fania saat kecil.
__ADS_1
"Ya Tuhan tolong aku panas!!!" Ucap Vallen mengipas dirinya.
"Tuhan?" Vallen tersenyum dengan ucapannya sendiri, kenapa dia harus menyebut Tuhan.
Wajah Vallen kembali datar lalu meletakkan foto ditangannya dan kembali dengan membawa satu kresek hitam ke kamar Vano.
Wajahnya masih tidak bisa di ajak bersahabat, wajah gadis itu selalu menghantuinya saat ini.
"Ini!!" Ucap Vallen melempar kresek hitam.
Vano mengernyitkan dahi melihat wajah kusut Vallen diiringi sikapnya yang sedikit kasar ketika bersama Vano.
"Kenapa?" Tanya Vano sangat lembut.
"Sudah bisa berbohong?" Kata Vano sembari menidurkan bayi diatas ranjang.
"Fania itu sangat menyebalkan, apa aku boleh membunuhnya saja? Hanya dia selain itu tidak lagi!" Ucap Vallen seakan meminta izin untuk melenyapkan seseorang.
Vano tersenyum dengan wajah posesif Vallen, mengerikan sekali ketika ketua mafia jatuh cinta salah sedikit senggol bacok.
__ADS_1
"Foto dikamar umi" ujar Vano mendekati Vallen.
"Apalagi selain itu!" Kata Vallen ketus lalu menjauhkan dirinya dari Vano.
"Vallen tidak boleh seperti itu, semua orang memiliki masa lalu masing-masing lagipula aku tidak menyukainya"
"Lalu menyukai siapa?"
"Kau" jawab Vano.
Entah darimana Vallen mendapat ekspresi menjijikkan seperti itu yang jelas saat ini dia menutup wajahnya karena malu.
"Baiklah tidak usah bahas hal yang tidak penting sekarang bantu aku mengganti pakaian dan popok bayi ini" ucap Vano sembari membuka plastik yang dilempar Vallen tadi.
"Siap!"
Vano berwajah asam melihat isi dari kantong plastik ditangannya, memang Vano harus berpikir dua kali untuk memilih calon pasangan orang bodoh.
"Vallen ini softek" ucap Vano datar mengangkat bungkusan pembalut.
__ADS_1
"Sama sama untuk membalut kan? Pakai itu saja aku sudah lelah apa apa yang aku kerjakan selalu salah!!" Kata Vallen kesal lalu menidurkan dirinya disamping bayi titipan itu.
"Jika saja kau memiliki kepintaran sedikit saja pasti aku tidak akan menyalahkan mu!!" Gerutu Vano lalu keluar menukar barang ditangannya.