Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 104


__ADS_3

Disisi lain Zea sedang menikmati makanan yang disediakan oleh Farel tadi namun ia memakan nya sendiri karena Farel meninggalkan nya untuk bertegur sapa dengan para pembisnis lain.


"Cih makanan macam apa yang kau sediakan ini, hambar!!" Gerutu Zea menatap Farel yang tak jauh darinya sesuai dengan aturan.


Farel menatap Zea sekilas memastikan ia makan apa yang ia sediakan tadi lalu kembali fokus.


"Tuan Farel perkenalkan ini putri saya yang baru di angkat sebagai direktur muda tahun ini" ucap salah seorang pembisnis.


"Senang bertemu dengan anda nona" kata Farel menimpali secukupnya dan senyum seadanya.


Tak hanya mereka yang menawarkan putri mereka pada Farel namun itu sudah menjadi yang ke sekian kalinya.


"Perkenalkan tuan saya Alen, saya meraih banyak penghargaan di usia muda dan sekarang saya bisa memimpin perusahaan tanpa bantuan ayah saya" tutur seorang wanita dihadapan Farel.


Farel dengan wajah datar nya selalu mengiyakan apa uang dikatakan para wanita tadi hingga Zea agak jenuh mendengar perkenalan singkat yang isinya hanya prestasi.


"Mereka sudah meniti karir sejauh itu, lalu aku? Butiran kuman" gumam Zea menepuk kening sambil memasukkan sendok dimulutnya.


"Hay boleh aku duduk disini?" Tanya seorang laki-laki yang sedang membawa makanan.


"Mm? Tidak boleh" tolak Zea.


"Mm sebenarnya aku membawa kekasih ku kemari, kasihan tidak ada tempat duduk" ucap Rafi.


"Aa?? Ah ya baiklah kalian boleh duduk disini" kata Zea tersenyum tipis.


Rafi meletakkan piringnya lalu memanggil Rifka dari kejauhan.


"Terimakasih, aku melihat mu bertegur sapa dengan kak Vallen apa kalian berteman?" Tanya Rafi basa basi.


"Yaa kami berteman sangat dekat" jawab Zea.


"Kebetulan sekali aku adalah adiknya, namaku Rafi" ucap Rafi memperkenalkan diri.


"Benarkah? Oh hay senang bisa bertemu dengan mu, kau juga siapa nama mu?" Tanya Zea langsung senang mendapat teman baru.


"Rifka"

__ADS_1


"Hay Rifka semoga kita bisa berteman baik, tapii kalian masih sekolah kan?"


"Yaa kami masih sekolah sebentar lagi akan lulus" jawab Rifka.


"Tadi aku melihat tuan David Ferrero, dimana keluarga mu?" Tanya Zea lagi.


"Sebentar lagi ayah ku akan datang, dia selalu terlambat dalam acara besar seperti ini"


"Sayang itu ayah mu bukan?" Rafi menunjuk ke arah pintu masuk.


"Yaa astaga ayah ku sudah datang, aku akan memanggil nya kemari kalian tunggu sebentar" Rifka segera mendekati ayahnya lalu membawanya ke meja tempat Zea dan Rafi sedang duduk.


"Ayah perkenalkan ini kekasih Rifka dan ini teman baru Rifka"


"Hay om" sapa Rafi canggung begitu juga dengan Zea.


"Hay semua, sudah jangan merasa canggung seperti itu, kalian adalah teman putri ku bukan? Jadi kalian adalah anak anak ku" sapa tuan Ricard


"Om sangat baik,,,,"


"Ehem,,,," sapa Farel dari belakang.


"Aku tidak peduli" Farel langsung menarik lengan Zea untuk menjauhi tempat itu, ia pasti salah paham.


Farel membawa Zea ke tempat yang lebih sepi untuk memberitahu kesalahannya.


"Kak lepaskan!!"


Farel tetap membawa Zea menjauh sedikit lagi agar tidak ada yang melihat mereka karena Farel tidak suka semua masalah harus dilihat oleh banyak orang.


"Kak!!" Kali ini Zea memberontak hingga tangannya terlepas dari genggaman Farel.


"Kesalahan pertama kau,,,,"


"Seorang pria duduk didepan ku" kata Zea memotong kalimat Farel sambil menyandarkan tubuhnya di dekat tembok dengan tangan terlipat ke dada.


"Bagus! Atas dasar apa kau melakukan kesalahan itu"

__ADS_1


"Tidak ada, Rafi hanya duduk bersama kekasihnya karena tidak ada meja kosong"


"Terus kau menganggap ku percaya bergitu saja?"


"Terserah kakak mau percaya atau tidak itu bukan urusan ku" jawab Zea menatap ke arah lain.


"Bagus!! Pintar sekali kau menjawab ku sekarang"


"Kak sadar atau tidak sadar kakak juga melakukan itu, aku tidak pernah melarang kakak mau berdekatan dengan siapa saja tapi setidaknya kakak juga menghargai Zea yang duduk tidak jauh dari sana" tutur Zea memberanikan diri walau jantungnya sudah tidak terasa menempel lagi karena berani melawan.


"Itu hanya perkenalan biasa pada anak anak pembisnis,,,,"


"Lalu apa bedanya dengan Rafi kak? Dia adalah adik dari Vallen bahkan dia membawa kekasihnya, kakak apa? Zea tau mereka memberikan ini" kata Zea mengambil kartu nama beberapa wanita.


Yaa walaupun sebenarnya Farel akan membuang itu tapi tetap saja ia salah dimata Zea.


"Aku tau aku tidak akan bisa masuk kedalam hati kak Farel, itu mustahil bahkan hubungan ku dengan kakak tidak tau akan bertahan sampai kapan"


"Cukup! Pembicaraan mu terlalu jauh" Farel sudah muak mendengar perkataan Zea jika arahnya sudah tidak jelas.


Farel mengeluarkan kartu nama di saku kiri dan kanannya lalu memberikan nya pada Zea.


"Setiap acara seperti ini kakak selalu mendapat banyak kartu, oleh karena itu kakak tidak ingin kau melihat nya dan menyuruh mu duduk dari radius dua meter dengan jarak meja kakak"


"Kenapa tidak memperkenalkan Zea pada mereka? Malu?" Kata Zea tersenyum sinis.


"Tidak hey,,,,"


"Sudahlah kak Zea ingin pulang" ucap Zea.


"Kakak antar"


"Tidak perlu Zea sudah menghubungi supir untuk menjemput"


"Zea jangan seperti ini kita bicarakan baik-baik hey!!"


Zea mengembalikan kartu nama yang tadi Farel berikan padanya lalu pergi, moodnya benar benar rusak malam ini.

__ADS_1


🌱🌱🌱


minta vote lagi


__ADS_2