Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 119


__ADS_3

"Maaf tuan nyonya kami tidak sadar sama sekali bahwa kalian sudah datang" sapa Bela dengan sopan nya.


"Tidak masalah nyonya Ferrero kami juga datang tidak memberitahu jamnya" ucap Vira.


Disela sela pembicaraan itu masih saja Vano terlihat tegang ditambah tatapan David yang tampak tidak bersahabat padanya.


"Vallen dimana tante?" Tanya Vano tanpa sadar.


"Di atas sedang bersiap siap" jawab Bela.


"Tante Zea boleh melihat Vallen di atas?" Saut Zea, dia bosan mendengar pembicaraan formal seperti itu.


"Boleh sayang, setelah naik tangga kamar nya ada disebelah kiri"


"Terimakasih tante" Zea menarik lengan Sarah agar mengikutinya namun sebelum itu Farel seakan tidak mengizinkan dengan menggelengkan kepala sambil memegang erat lengan istrinya.


Zea ingin sekali kesal melihat sikap kekanakan bocah itu harus keluar disaat seperti ini.


"Lepas!!" Bisik Zea.


Farel kembali menggelengkan kepala sambil mendengar perbincangan keluarga. Zea harus berbuat nekat didepan keluarganya dengan mencium kening pria itu.

__ADS_1


Farel berusaha menahan senyumnya sambil melepas tangan Zea, sedangkan Vano dan Ethan ingin sekali meninju wajah pria gila itu saat ini, bisa bisanya bermesraan didepan keluarga sendiri dan acara penting.


"Baiklah sebelum kita berbicara lebih jauh, kami kemari dengan niat baik yaitu,,,,,"


"Tunggu!! Pelayan ambilkan beberapa cemilan dan minuman, kenapa kalian diam saja!" Titah David memotong kalimat Vino.


"Baik tuan" ucap pelayan, mereka bingung padahal cemilan disana sudah cukup banyak.


"Baiklah kami kemari,,,,,"


"Tunggu cemilannya datang tuan agar suasana tidak terlalu sepi" ucap David tersenyum tipis.


Vino berusaha tersenyum manis didepan semuanya, padahal ia tau jika David sedang mengulur waktu, beberapa menit kemudian pelayan datang membawa cemilan hingga meja penuh.


"Tidak, pelayan minumannya kalian tidak siapkan?" Tanya David mengalihkan pembicaraan.


Vano dan Vino sampai menggigit bibir menahan sesuatu yang membuatnya kesal, jika saja David adalah seorang karyawan mungkin mereka sudah menendang nya sebelum dua detik bekerja di perusahaan.


"Sayang mungkin Vallen membutuhkan bantuan mu, pergilah susul Zea dan Sarah" ucap Vino tersenyum manis pada istrinya.


"Benarkah?" Vira yang biasanya pintar sekarang dengan polosnya berpikir bahwa Vallen sedang tidak siap mental karena ia belum pernah merasakan bagaimana rasanya dilamar.

__ADS_1


"Tentu, Zoya, Lina, nyonya Bela kalian bisa memenangkan peri kecil itu untuk sementara" ucap Vino sangat lembut mengelus kepala istrinya.


Keempatnya mengangguk patuh lalu keluar menuju kamar Vallen yang sebenarnya baik baik saja, dia hanya sedang menunggu untuk dipanggil.


Kini ruangan itu hanya tertinggal mantan mafia, pemberantas mafia, dan pembisnis polos yang tidak mengerti dunia hitam namun dingin bukan main.


Tatapan Vino, Vano, Faris, Farel, Andre, dan Ethan terlihat berubah ketika para wanita keluar, David pun sedikit tersentak melihat seringai mengerikan ke-enam pria itu, David seperti mangsa Dimata mereka.


"Berapa jenis cemilan lagi yang akan kau berikan pada kami?" Tanya Vino menyimpangkan kedua kakinya.


"Kalian ingin berapa? 100 macam?" Tanya David balik.


Vino tersenyum sinis menatap David sekilas, aura ruang keluarga Ferrero yang biasanya hangat kini seperti aura vampir yang haus darah.


"Kami datang untuk melamar putri mu, kau terima?" Tanya Vino tanpa basa-basi.


"Tidak!!" Jawab David tanpa berpikir panjang.


"Aku yang mempersatukan mu berarti aku yang membantu mu membuatkan jodoh ku sekarang setelah jodoh ku sudah jadi kenapa kau sangat pelit memberikan restu" saut Vano kesal.


"Cih" semua mengeluarkan senjata masing-masing dari saku jas kecuali Vano yang tidak tahu menahu soal rencana sistem 3M, abinya benar benar tidak bercanda soal sistem pemaksaan.

__ADS_1


"Berpikir ulang!!" Titah Vino meniup ujung pistol nya.


__ADS_2