Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 122


__ADS_3

Selesai acara lamaran keluarga Salvatrucha kembali ke kerumah masing-masing, mulai hari ini Vano, Ethan, dan Farel sudah disibukkan dengan persiapan karena waktunya benar benar mepet.


"Aku akan membuat susunan undangan, Zea temani" ucap Farel langsung menarik istrinya kedalam ruang kerja.


"Aku akan menulis nama nama tamu yang akan di undang, Sarah temani aku" saut Ethan menarik lengan Sarah padahal gadis itu tidak tahu menahu sama sekali tentang petinggi petinggi perusahaan.


"Lalu aku mengerjakan apa?" Tanya Vano dengan polosnya.


"Selesaikan pekerjaan kantor selama satu bulan kedepan!!" Teriak Ethan langsung menutup ruang kerjanya.


"Hey sialan!!!" Teriak Vano kesal, pantas saja semua berpura-pura menyibukkan diri karena mereka menghindar dari pekerjaan kantor.


Tapi Vano memiliki banyak ide untuk bertemu dengan kekasihnya, tidak masalah pekerjaan kantor menumpuk asal ditemani oleh Vallen. Vano mengeluarkan ponselnya menghubungi Vallen.


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikumussalam sayang aku akan menjemputmu hari ini temani aku bekerja ya" ucap Vano.


"Mm aku bukannya tidak ingin tapi peraturan dirumah ini kita tidak boleh bertemu sampai dihari pernikahan, yaa besok saat pendaftaran pernikahan adalah yang terakhir" tutur Vallen agak ragu menjelaskan nya pada Vano.


Vano langsung menjatuhkan ponselnya dengan tatapan kosong, jangankan satu minggu satu hari saja Vano tidak mengunjungi rumah kekasihnya pasti ada yang kurang di hari itu.


"Halo?"


"Adat macam itu Vallen?" Tanya Vano memungut ponselnya.


"Tidak tau tapi mama mengatakan itu dan sudah disepakati oleh umi abi" jawab Vallen.


"Aku ingin marah, aku ingin melempar sesuatu, aku ingin membunuh manusia" ucap Vano melonggarkan dasinya.


"Hey ini hanya beberapa hari"


"Beberapa hari kata mu? Kau tidak melihat ku menderita karena tidak melihat wajah mu?" Tanya Vano mulai menaikkan nada suaranya.


Ya Allah kenapa calon suami ku seperti ini. Batin Vallen


"Kita bisa menggunakan panggilan video"


"Panggilan video apa! Ponsel bodoh ini hanya memberitahu ku wajah dan suara mu bukan dirimu, aku memerlukan mu bukan gambar sialan yang mengaku mirip dengan mu" ucap Vano kesal.


Vallen sampai menjauhkan ponselnya dari telinga karena perkataan tajam Vano.

__ADS_1


Bukankah sama saja bedanya hanya aku tidak ada didekat mu. Batin Vallen


"Begini saja besok saat kita pergi mendaftar pernikahan kita akan menghabiskan waktu satu hari penuh sebagai gantinya" bujuk Vallen.


"Tidak! Aku ingin setiap hari kau mau apa!"


"Ayolah Vano jangan seperti anak kecil, hargai keluarga ku juga"


"Siapa yang menyuruhmu lahir di keluarga Ferrero, kenapa tidak lahir di keluarga lain setidaknya kau lahir di keluarga dengan ekonomi standar agar aku bisa membuat keluarga mu memiliki banyak hutang lalu kau menjadi gantinya"


"Kau sedang membuat novel?"


"Tidak!" Jawab Vano datar.


"Baiklah sudah ya kita akan bertemu besok"


"Sudah ku katakan temani aku bekerja"


"Tidak bisa Vano aku,,,,"


"Melalui panggilan video juga tidak masalah asal temani aku"


Vallen harus extra sabar ketika raja datar sudah mulai jatuh cinta, kelakuannya sama seperti bocah 6 tahun.


"Baiklah terserah kau saja" ucap Vallen akhirnya mengalah untuk kesejahteraan bersama, seandainya Vallen tidak setuju maka seluruh pekerjaan Vano akan terbengkalai hanya untuk menghubungi kekasihnya sepanjang waktu.


"Terimakasih" kata Vano tersenyum manis masuk kedalam ruangannya, pria itu memang tidak diizinkan juga oleh Vira dan Vano keluar walau hanya ke kantor.


Ditempat lain Ethan sedang mencatat nama nama yang resmi akan menjadi tamu undangan.


"Mr Richard? Siapa dia?" Tanya Ethan pada dirinya sendiri.


"Ayah dari Rifka kekasih dari adiknya Vallen yaitu Rafi" jawab Sarah yang sudah duduk didepan Ethan sedari tadi.


"Ahh ya ya aku ingat, Rifka si gadis mungil dan cantik itu" ucap Ethan tersenyum menyebut nama gadis yang berhasil menyita perhatiannya diacara pesta tahunan.


Melihat ekspresi Ethan seperti itu Sarah merasa ada sedikit yang berbeda namun ia tidak tau apa intinya senyum yang sedari tadi hilang begitu saja.


"Akan ku siapkan minuman" ucap Sarah berdiri dari kursi.


"Aku tidak memintanya" kata Ethan menatap Sarah.

__ADS_1


"Duduk!!" Titah Ethan.


"Aku yang haus!" Bantah Sarah.


"Pelayan bawakan minum ke ruang kerjaku!" Titah Ethan menekan tombol disampingnya yang terhubung langsung dengan dapur.


Sarah kembali duduk walau matanya malas menatap Ethan entah karena apa ia pun bingung.


"Bantu aku membaca nama nama itu!" Titah Ethan.


"Aku tidak bisa membaca jika tidak menggunakan kacamata baca" ucap Sarah datar.


Ethan membuka kacamatanya lalu memasangkan pada Sarah.


"Butuh berapa alasan lagi?" Tanya Ethan mendekatkan wajahnya pada Sarah.


"Tidak, akan ku bantu" jawab Sarah dengan cepat mengambil kertas.


"Sebelumya aku ingin mengatakan sesuatu"


"Katakan!!" Titah Ethan mengabaikan wajah Sarah karena tangannya sedang berkutik dengan komputer.


"Mungkin setelah pernikahan Vallen dan tuan Vano aku akan pergi dari rumah ini"


Ethan mengehentikan jari lentiknya bermain diatas keyboard.


"Alasannya?"


"Karena aku merasa ini bukan tempat ku, aku ingin dimana aku bisa menghabiskan waktu sendiri dan tenang, rumah ini terlalu besar sedangkan aku hanya ingin tempat yang sederhana" tutur Sarah tersenyum tipis menjelaskan keinginan nya.


"Bukan urusan ku!!" Ucap Ethan kembali sibuk.


Sarah mengangkat bahu dengan reaksi Ethan padahal pria itu yang bertanya setelah dijawab malah balasan nya tidak jelas.


"Kau punya uang? Bagaimana dengan kehidupan mu sehari hari? Apa kau pernah berpikir tentang itu?" Tanya Ethan bertubi-tubi.


"Punya, nona yang memberikannya dan untuk kehidupan sehari-hari aku akan bekerja paruh waktu"


"Terserah!!"


Keduanya sama sama terdiam dengan pikiran masing-masing, Ethan berpikir kenapa harus pergi apa kau tidak tau cara menikmati kekayaan sedangkan Sarah berpikir bagaimana nikmatnya memiliki kehidupan sendiri dengan tenang.

__ADS_1


__ADS_2