
Setelah terlihat sedikit terhibur Ethan meninggalkan kamar Vano lalu pergi ke kamarnya sebentar menemui Sarah.
"Hay istri" sapa Ethan.
"Hay"
"Kenapa dengan wajahmu tidak senang dengan semua ini?" Tanya Ethan melihat wajah sendu istrinya.
"Terimakasih" jawab Sarah lalu kembali merenung.
"Ada apa? Kau memikirkan sesuatu?"
"Vallen dimana ya sekarang dan dia sedang apa"
Haaahh
Sepertinya semua merasa kehilangan dengan sosok gadis cantik dan konyol itu, jika dia ada disini pasti akan merepotkan dan membuat kesal namun jika tidak ada pasti sangat dirindukan oleh banyak orang.
"Dia baik baik saja bersama keluarganya, soal dimana dia sekarang tidak ada yang tau jadi biarkan saja waktu yang akan menjawab segalanya" tutur Ethan sembari memegang tangan istrinya.
"Yaa aku juga berpikir seperti itu, ah ya bagaimana Vano dia baik baik saja?"
"Mm masih belum stabil kau saja yang hanya sebagai sahabat terus memikirkan Vallen apalagi Vano yang sebagai suami"
Sarah mengambil nafas panjang untuk melepaskan pikiran nya.
"Bagaimana tuan Richard?" Tanya Sarah mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Tiga hari sudah kau pasti tau apa yang terjadi, jangan ingat itu dan lupakan tentang apa yang kau lihat dari sisi lain ku" jawab Ethan datar.
"Kehilangan dua tangan dan satu kaki? Kenapa kau memotong bagian tubuhnya satu persatu setiap hari kenapa tidak sekaligus"
"Pertanyaan yang bagus dan aku tidak mau menjawabnya, hilangkan pikiran mu tentang seluruh dunia gelap. Aku dan Vano sepertinya akan berhenti mengambil kasus, kedepannya kami hanya fokus dengan urusan kantor"
"Itu bagus aku juga mendukungnya tapi kau belum menjawab pertanyaan ku, kenapa tuan Richard belum mati?"
Andai kau tau bagaimana ganasnya aku menyiksa orang itu Sarah, aku membuat tusukan tusukan diwajahnya dan mengupas kulitnya sedikit demi sedikit, biarkan dia merasakan sakitnya apa yang kita rasakan dulu baru dia boleh meninggalkan dunia secara tidak hormat. Batin Ethan
"Sudahlah pertanyaan mu tidak berguna aku harus pergi ke kantor jaga Rifka dia ada dirumah kedua"
Ethan keluar dari kamarnya setelah mencium kening Sarah, yaa memang sudah kuadrat kekuatannya seperti itu jika tidak dia pasti akan marah marah pada staf staf kantor nantinya.
***
Dikamar baru Vano
Vano duduk dikursi roda yang menghadap keluar jendela, dia tidak ingin diganggu oleh siapapun untuk sementara bahkan Vira sekalipun.
Tatapannya mengarah ke langit langit yang cukup cerah hari ini tidak seperti tadi malam, Vano ingin tersenyum melihat bayangan Vallen berada di langit namun bibirnya tetap kelu, dia seperti orang yang tidak mengenal arti senyum sekarang.
"15 jam dan sekarang aku sudah merindukan mu bagaimana aku melewati milyaran menit berikutnya" gumam Vano.
Ceklek
Vino tiba tiba masuk kedalam kamar Vano, kondisi putranya lebih miris daripada Vino dulu.
__ADS_1
"Masih ada yang sakit?" Tanya Vino basa basi.
"Vano tidak ingin diganggu Abi" jawab Vano datar.
Vino menutup pintu terlebih dahulu lalu mendekati putranya.
"Kau harus bersyukur karena Vallen ditemukan dan dia masih hidup, dulu abi tidak tau kabar umi mu selama 7 tahun, apakah dia masih hidup atau tidak apakah kami masih berada di satu alam yang sama, tugasmu hanya menunggu Vano" tutur Vino menasehati putranya.
"Kau ingin melihat istrimu kembali dengan cepat?" Tanya Vino.
Kali ini Vano cukup tertarik dengan arah pembicaraan abinya.
"Bagaimana Abi?"
"Bangkit dan gentarkan dunia tentang seluruh prestasi mu, buat semua orang tidak melihat kelemahan mu"
Vano kembali lemah, abinya hanya ingin menghibur Vano semata agar dia tidak sedih lagi.
"Tidak percaya? Dengan membuat dirimu semakin terkenal dan menaklukkan dunia, dari kejauhan sana Vallen akan melihat mu dengan bangga abi yakin itu" imbuh Vino.
"Vano akan melakukan itu abi, Vano akan memberitahu Vallen bahwa Vano pantas menjadi suaminya"
Vano sedikit tergerak dengan perkataan abinya, dia harus memperlihatkan seluruh sisi nya terhadap Vallen walau gadis itu hanya melihat dari media.
"Bekerja dengan giat harus membutuhkan apa?" Tanya Vino.
"Otak yang cerdas"
__ADS_1
"Tenaga. Jadi ayo makan sekarang agar kau cepat pulih dan menjalankan misi mu" ucap Vino.
Vano sampai tidak sadar bahwa dia tidak pernah menyentuh makanan sedikitpun. Vino mengambil piring lalu membantu putranya untuk makan karena tangannya masih cedera dan satunya lagi masih ditemani infus.