Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 129


__ADS_3

Beberapa saat kemudian Vano, Farel, dan Ethan keluar dari kamar, ketiganya menjadi pusat perhatian banyak orang ketika tiga pria dengan level ketampanan di atas rata rata berjalan sejajar.


"Aku gugup aku gugup" bisik Vano melihat mata mata tamu undangan.


"Tetaplah berjalan walau kaki mu lemas" ucap Farel dengan senyum manis menatap tamu.


Ketiganya berjalan cepat namun tetap elegan ke tempat acara sakral itu akan dimulai. Farel membukakan kursi untuk Vano.


"Pa Vallen mana?" Tanya Vano pada David yang sudah duduk didepannya.


"Itu apa" jawab David menunjuk Vallen dengan wajahnya.


Vano mengikuti arahan David ke pintu utama, dadanya kembali berdegup kencang melihat bidadari yang sedang tersenyum padanya itu.


Vallen dengan pakaian putih senada dengan pakaian Vano berhasil menyita perhatian tamu setelah Vano tadi, gadis manis yang kembali mengenakan hijab di acara ijab qobul nya itu terlihat anggun dan mewah saat pertama kali menginjak kaki didepan pintu bersama keluarga lainnya dibelakang.


"Ya Allah tenangkan hamba" ucap Vano meminum air didepannya menghadap ke arah lain menunggu Vallen duduk didekatnya.


Semakin dekat calon istrinya semakin berkeringat Vano dan dia tidak ingin melihat Vallen sebelum ijab qobul, matanya benar-benar terfokus pada David tidak mengarah pada Vallen sekalipun walau calon istrinya sudah berada disamping.


"Hey kau orang yang berbeda bukan? Dimana penghulu yang biasanya Abi?" Tanya Vano memperhatikan penghulu disamping.


"Saat Farel datang menjemputnya tiba tiba pak penghulu itu masuk rumah sakit, stroke ringan katanya" jawab Vino datar.


"Lalu dia?"


"Anaknya"


Vano mengangkat bahunya melihat penghulu muda itu, sudahlah itu bukan masalah besar pikir Vano.


"Baiklah bisa kita mulai sekarang?"


Vano menghirup nafas dalam dalam terlebih dahulu sebelum berjabat tangan dengan David, benar kata abinya ini sebagian dari latihan jantung.


"Vano?" Panggil Vira karena putranya melamun.


"Ah? Ya abi" jawab Vano.


"Umi yang memanggil, ayo" kata Vira menunjuk tangan Vano agar berjabatan dengan David.


"Iya baiklah" Vano mencoba menggunakan ekspresi bersahabat pada David.

__ADS_1


"Bisa kita mulai?" Tanya David.


Vano mengangguk sembari menjabat tangan David, matanya masih enggan menatap Vallen yang sedari tadi meliriknya.


"Bismillahirrahmanirrahim, aku nikahkan kau Vano Salvatrucha dengan ananda Vallena Ferrero binti David Ferrero dengan maskawin seperangkat alat shalat dibayar tunai"


"Saya terima nikah dan kawinnya Vallena Ferrero binti David Ferrero dengan maskawin tersebut dibayar tunai"


"Sahh!!"


Vano tidak mengucapkan apapun selain berusaha mengambil oksigen sebanyak mungkin karena dia tidak bisa bernafas lega sepanjang pengucapan kalimat sakral.


"Alhamdulillah" semua mengangkat tangan sejenak berdoa kepada sang kuasa dipimpin oleh penghulu muda tadi.


Vano tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya hari ini dimana ia mempersunting seorang gadis cantik yang ia temukan digudang gelap beberapa bulan yang lalu.


Setelah semua selesai Vallen disuruh mencium tangan suaminya untuk pertama kali, tentu itu membuat Vano panas dingin.


"Berikan tangan mu" bisik Vallen.


"Heuh?" Vano memberikan tangannya pada Vallen.


"Ya Tuhan ini jodoh ku" ucap Vano menatap Vallen yang sedang mencium tangannya.


"Aku ingin menangis tapi aku malu banyak orang" bisik Vano.


"Mm jangan disini itu memalukan"


Selang beberapa saat semua masih duduk ditempat, Vano masih enggan menatap ke arah lain selain wajah istrinya.


"Tuan ini buku pernikahan kalian" ucap salah satu petugas yang datang menyaksikan pernikahan.


Vano dan Vallen mengambil buku pernikahan masing-masing, secara agama sudah sah secara negara pun sudah di anggap. Aahh senangnya Vano bisa mengikuti Vallen kemanapun sekarang.


"Dan ini untuk tuan Ethan" memberikan satu pada Ethan.


"Heuh??" Ethan bingung kenapa buku pernikahan juga dia dapatkan.


"Bu,,,buku pernikahan, hey bocah kau menikahi siapa?" Tanya Andre heran sekaligus bingung.


"Mungkin salah orang pak aku tidak pernah mendaftar pernikahan" ucap Ethan mengembalikan buku ditangannya.

__ADS_1


"Tidak tuan, disana nama anda sudah tertera beserta fotonya" kata petugas.


Semua ikut bingung dengan apa yang sedang terjadi termasuk Vano. Ethan kembali memperhatikan dengan detail nama orang yang ada dibuku itu.


"Lalu aku menikah dengan siapa?" Tanya Ethan.


"Anda ini aneh tuan, anda kan menikah dengan nona yang bernama Sarah"


Ethan refleks menjatuhkan buku pernikahan ditangannya mendengar nama Sarah, matanya terbelalak kaget dengan apa yang sedang terjadi.


"Si,,,siapa?" Tanya Ethan sekali lagi.


"Nona Sarah Wijaya" jawab petugas.


Ethan mendudukkan diri karena kakinya lemas, pria itu hampir pingsan dan koma saat ini.


"Hey kau pergi mendaftar pernikahan tanpa seizin ku?" Tanya Andre bersiap memukul putranya.


"Sumpah samber gledek ayah Ethan tidak pernah menyentuh tanah KUA" jawab Ethan lemah.


"Hey jangan main-main!!" Kata Andre belum percaya.


Bahayanya adalah Ethan dan Sarah ini sama sama tidak memiliki agama jadi secara negara saja mereka sudah sah menjadi suami istri.


"Sarah mana? Mungkin dia yang melakukan ini" ucap Andre bertindak tegas pada gadis itu jika benar dia yang melakukannya.


Andre menelusuri seluruh tamu undangan untuk mencari satu sosok gadis.


"Sarah dimana!!" Teriak Andre akhirnya emosi tidak menemukan gadis itu.


"Om Sarah sudah pingsan sejak lima menit yang lalu" kata Farel menunjuk tempat Sarah ditidurkan oleh Zea.


Andre bingung harus berbuat apa, jika Sarah saja sudah pingsan mendengar pernikahan bodoh itu berarti bukan dia.


"Mm mungkin kita harus kabur sebentar sebelum aku dibunuh" bisik Vallen pada Vano.


"Kau yang melakukannya?" Tanya Vino menatap Vallen.


"Hehe" Vallen hanya menjawab dengan cengengesan.


Vano langsung membawa Vallen kabur sebentar kedalam sebelum orang orang melabraknya atas perbuatan konyolnya yang menikahkan dua insan tak berdosa.

__ADS_1


🌱🌱


klo komennya banyak aku lanjut hari ini tapi klo nggak tunggu minggu depan ya😹😹


__ADS_2