
Keesokan harinya setelah semalaman berpikir mencerna satu kata demi kata yang dilontarkan oleh Vano belum juga dimengerti oleh Vallen hingga ia menulis dikertas seluruh ucapan Vano tadi malam dan hasilnya sama.
Lingkaran hitam dimata Vallen terlihat jelas karena ia tidak tidur semalaman penuh mempelajari makna kata itu.
"Aku tidak mengerti tolong!!!" Ucap Vallen frustasi membuang kertas kertas ditangannya.
"Dia mengatakan cinta tapi tidak bisa karena Tuhan, Tuhan itu siapa lagi? Kurasa aku belum berkenalan dengannya" gumam Vallen memijit pelipisnya.
"Sebentar!!" Vallen mulai mengingat beberapa kata yang ia lupakan dari ucapan Vano tadi malam.
Vallen tersenyum manis saat mendapat kesimpulan akhir dari penelitian nya, dia keluar dengan gaya acak acakan ke kamar Zea.
Tok,,,tok,,,, tok
"Vallen? Ada apa?" Tanya Zea heran.
"Zea pinjamkan mm apa ya namanya" Vallen lupa apa nama pakaian shalat wanita.
"Apa?" Tanya Zea sekali lagi.
"Begini jika laki laki shalat dia menggunakan sarung bukan? Bagaimana dengan perempuan?" Tanya Vallen balik.
"Mukena" jawab Zea.
__ADS_1
"Nah itu dia, aku meminjam mukena sebentar" ucap Vallen antusias.
Zea mengangguk lalu mengambil mukena seperti apa yang diinginkan oleh Vallen. Beberapa saat kemudian Zea kembali membawa mukena, Vallen sangat bahagia mendapat mukena.
Seperti yang diduga bahwa Vallen berjalan keluar rumah menuju rumah depan yaitu rumah utama Salvatrucha.
Tok,,,tok,,,tok
"Umi!!!" Teriak Vallen dari luar.
"Ehh? Salah salah harusnya ***,,,,assala,,,"
"Astagfirullah!!!" Ucap Vino saat membuka pintu rumah dan melihat Vallen dengan cantiknya menggunakan pakaian tertutup seperti itu.
"Vallen ada apa pagi pagi kerumah?" Tanya Vino bingung.
"Didalam ayo masuk" jawab Vino memberikan ruang untuk Vallen.
Vallen masuk kedalam rumah, ia melihat Vira sedang membantu menyiapkan sarapan untuk seisi rumah.
Vallen langsung menggelar sajadah nya didepan Vira dan melakukan apa yang ia lihat dari Vano saat shalat.
Vino dan Vira pun bingung dengan kelakuan Vallen yang seperti itu.
__ADS_1
"Ka,,,kau sedang apa Vallen?" Tanya Vira.
"Menyembah pencipta dari Vano umi, diamlah huusssttt!!" Jawab Vallen lalu kembali fokus komat kamit entah apa yang ia baca.
"Astagfirullah hal azim" ucap Vira dan Vino bersamaan.
"Vallen hentikan!!" Ujar Vira membantu Vallen menggulung sajadahnya.
"Umi Vallen belum selesai" rengek Vallen.
"Vallen memangnya apa yang Vano ucapkan padamu nak?" Tanya Vino menghampiri keduanya.
"Vano mengatakan Vallen harus mengikutinya, Vano tidak ingin mengorbankan pencipta hanya karena ciptaan jadi Vallen akan berusaha sebaik mungkin" jawab Vallen ingin kembali melipat kedua tangannya namun dihentikan oleh Vira.
Tolooonggg!!! Calon menantu ku bodoh sekali!!!. Teriak Vino dalam hati.
"Va,, Vallen bukan seperti itu maksud Vano kau salah paham, Tuhan itu bukan umi melainkan Allah SWT" ucap Vira menepuk keningnya.
"Tapi dirumah sakit manusia yang menciptakan manusia" kata Vallen bingung.
Vira dan Vino menggigit bibir dengan kebodohan Vallen, sebenarnya ini tidak murni kesalahan Vallen melainkan kesalahan Vano juga yang berbicara terlalu tinggi pada Vallen sehingga ia salah mengartikan segalanya, bisa dikatakan Vallen adalah seorang bocah yang sedang mengisi ilmu, salah sedikit saja dijelaskan maka Vallen akan salah mengartikan.
akhirnya Vira mencoba menjelaskan secara pelan-pelan maksud dari ucapan Vano, dia juga memberikan penjelasan pada Vallen bahwa perasaan nya terhadap Vano tidak berguna jika tidak bersatu.
__ADS_1
πππ
Like dan komennya mana oy, no hujatπ