Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 83


__ADS_3

"Gawat mereka tau kita disini" ucap Sarah memperhatikan bentuk pisau itu.


"Seraang!!!!" Teriak sang pemimpin kelompok.


"Sudah kuduga!" Kata Vano melihat ratusan pengawal sedang berlari ke arah mereka dengan senjata masing-masing.


Ketika para pengawal sudah dekat Vano, Ethan, dan Farel mulai menyerang dengan tangan kosong, bagi mereka pengawal seperti ini hanyalah biji kedelai.


"Aku tidak punya waktu untuk ini cepat suruh pengawal untuk menyerang!!" Titah Vano sembari melawan tiga pengawal sekaligus.


Ethan mengangguk lalu menjauh dan menghubungkan ketua pengawal nya untuk datang, tak lama kemudian beberapa pengawal datang menggantikan Vano, Farel, dan Ethan.


Ethan sengaja memanggil seperempat dari pengawal karena lawannya tidak terlalu kuat.


"Ayo jalan, kita kemana?" Tanya Vano pada Sarah.


"Disini, jalan ini akan menghubungkan kita kearah rumah Pian" tunjuk Sarah pada terowongan gelap didepannya.


Mereka memasuki terowongan gelap dan hitam itu, Vano terus menyusuri terowongan, semakin dalam mereka masuk semakin dingin pula suhu disana.

__ADS_1


"Aaaa!!!" Teriak Ethan dari belakang ketika melihat ular kobra sedang mengangkat kepalanya.


"Tolong tolong aku tidak berani ular!!" Teriak Ethan memeluk Farel.


"A,,,aku juga takut" ujar Farel sudah pucat sedari tadi.


Sarah sedikit kesal dengan Ethan, laki laki itu bisa tegas tapi sangat penakut pada hewan hewan. Agar tidak terjadi banyak drama lagi Vano dan Sarah membekap mulut ular itu lalu berniat untuk membuangnya jauh jauh.


"Tunggu!!" Vano memperhatikan puncak kepala ular kobra ditangannya.


"Sudah ku duga akan seperti ini!" Saut Sarah setelah melihat kamera pengintai di atas kepala ular.


"Tuan kita harus kembali, ada jalan lain selain tempat ini mungkin saja di dalam akan lebih banyak ular berbisa" ujar Sarah menatap Vano.


Sarah menginjak pelan kaki Vano lalu mengedipkan sebelah matanya ditengah sinar senter dari Ethan.


"Baiklah kita lewat jalan yang mana?" Tanya Vano mengikuti drama kedua dari Sarah.


"Diluar terowongan ini ada jalan tapi jaraknya cukup jauh, kita harus mengelilingi hutan" jawab Sarah.

__ADS_1


"Tidak masalah tunjukkan jalannya!" Titah Vano.


"Baik tuan"


"Farel apa senter mu baik baik saja? Kenapa sinarnya sangat redup sedari tadi?" Tanya Vano mendapat ide bagus.


"Redup apanya ini,,,,,," Farel melihat tatapan aneh dari Vano dan Sarah seakan itu mengisyaratkan bahwa senternya tidak boleh baik baik saja, senternya harus bermasalah walau tidak ada masalah.


"Astaga aku lupa membawa senter baru ini sudah cukup lama lihat? Sinarnya mulai redup bahkan sebentar lagi akan mati, lihat? Aahh mati" kata Farel mendramatisir sebuah senter.


"Sudahlah ayo keluar dari terowongan ini kita lewat jalan yang lain!" Ajak Vano.


Vano memegang tangan Sarah agar gadis itu melepas ular nya, kini ular itu hanya dipegang oleh Vano, dia berjalan sedikit menjauh lalu melepas ular itu setelah mulutnya dibekap dengan lakban yang dibawa oleh Ethan.


Vano kembali berjalan dengan sangat hati hati mendekati ketiga temannya lalu melanjutkan perjalanan memasuki terowongan.


30 menit berjalan kaki akhirnya Vano keluar dari terowongan dan benar saja terowongan itu memang terhubung dengan rumah Pian, kini ke empatnya melihat cahaya lampu yang berasal dari rumah itu.


"Benar!" Jawab Sarah.

__ADS_1


"Rumah ini tidak sebagus rumah Vallen" saut Vano.


"Benar tuan, bos kami yang merupakan ayah dari nona cukup baik dan menyayangi nona oleh karena itu dia dibuatkan rumah mewah lengkap dengan fasilitas kecuali televisi dan handphone" Tutur Sarah kembali menjelaskan.


__ADS_2