Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 177


__ADS_3

Hari itu juga ketiganya menyiapkan rencana untuk menyandra tuan Richard, Rifka mengatakan bahwa ayahnya tidak pernah keluar negeri melainkan bersembunyi di suatu tempat.


Hutan adalah tempat favoritnya untuk bermain petak umpet dan sekarang kemungkinan pria itu sedang menyiapkan rencana besarnya disana.


"Kau yakin ayah mu ada disana?" Tanya Vano sekali lagi.


"Iya kak Rifka yakin ayah ada disana" jawab Rifka yang temani oleh Rafi disampingnya.


"Baiklah ayo" Vano langsung meninggalkan kamar yang ditempati Rifka.


"Bisa tinggalkan aku dan Rifka sebentar" ucap Ethan dengan tatapan serius.


"Cepatlah" saut Farel lalu keluar bersama dengan yang lain.


Setelah semuanya keluar Ethan menatap dalam keponakan yang ia tunggu tunggu sejak usia tiga bulan dalam kandungan.


Senyum tipisnya mengembang menatap wajah Rifka yang sangat mirip dengan kakaknya Leona.


"17 tahun kemana saja sayang" ucap Ethan tersenyum manis pada Rifka.


"Hey kak kau sudah punya istri kenapa merayu ku seperti itu" ujar Rifka ketus.


"Dasar bodoh istriku lebih cantik dari mu" kata Ethan terkekeh.


"Cih!!" Rifka malas meladeni manusia macam ini.


"Rifka kau mau menjadi adik ku?" Tanya Ethan serius.


"Boleh memangnya mau mengangkat Rifka menjadi adik? Rifka menghabiskan banyak uang setiap bulan. Sanggup?" Ujar Rifka tertawa kecil.


"Seratus juta cukup?"


"Wow!!" Rifka terkejut dengan digit angka yang disebutkan Ethan.


"Penawaran ku hanya sekali Rifka, mau menjadi adik ku atau tidak" ucap Ethan sekali lagi.


"Hmm menarik, baiklah kakak akan menjadi kakak ku mulai detik ini"


"Tapi ada syaratnya"


"Kakak yang ingin mengadopsi ku kenapa aku yang diberikan syarat" ucap Rifka kesal.


"Mau tidak"


"Ya apa"


"Lupakan ayahmu mulai detik ini, jangan pernah mengingatnya lagi seumur hidup" kata Ethan menusuk Rifka dengan tatapannya.


Rifka langsung mengernyitkan dahi mendengar persyaratan yang disebut oleh Ethan tadi.


"Kenapa kak?" Tanya Rifka.

__ADS_1


"Iya atau tidak" Ethan hanya ingin mendengar jawaban yang pasti.


"Tapi kenapa kak, kenapa tiba tiba mengatakan itu"


"Kau tidak perlu tau intinya adalah iya atau tidak"


Rifka bingung harus menjawab apa pasalnya tuan Richard adalah orang yang telah membesarkan nya tapi cara nya dibesarkan bukanlah sesuatu yang layak dikatakan kemanusiaan. Dia sendiri tidak tau harus berterimakasih atau tidak pada tuan Richard atas penyiksaan nya selama ini.


"I,,,iya Rifka akan melupakan ayah" ucap Rifka.


"Tidak jangan panggil dia ayah, dia bukan ayah mu lagi" ujar Ethan.


"Ba,,,baik" Rifka menggenggam selimutnya karena gugup dengan tatapan membunuh Ethan.


Haahh!!!


Ethan menghela nafas panjang sebelum menghilangkan emosi dalam dirinya mengenai tuan Richard.


"Kemari peluk aku" Ethan membuka tangannya dengan senyum tipis.


Rifka langsung masuk kedalam pelukan Ethan, walau ia tidak tau Ethan adalah pamannya tetap saja rasa nyaman itu ada ditubuh Ethan.


Dan Ethan sendiri tidak ingin memberitahu Rifka bahwa alasannya melakukan ini untuk membalaskan dendam mereka.


Bertahanlah Rifka orang itu akan membayar seluruh penderitaan kita selama ini. Batin Ethan


***


"Aku sudah tidak sabar ingin melihat urat nadinya terpotong" ucap Ethan mengeraskan rahangnya.


"Tahan Ethan jangan sampai gegabah, rencana yang sudah kita susun tidak boleh berantakan hanya karena emosi" ujar Vano.


"Sayang!!" Panggil Vallen dari atas tangga.


"Disini" jawab Vano dari bawah.


Vallen berlari lari kecil menuruni anak tangga, senyuman cantiknya terlihat berbeda dari sebelumnya.


"Butuh sesuatu?" Tanya Vano berubah total menjadi pria lembut dan penyayang.


"Aku merindukan mu, peluk aku" jawab Vallen tertawa kecil.


"Kemari" Vano membuka tangannya dan Vallen langsung memeluk pria itu.


"Tumben katanya tidak suka aroma tubuh ku" sindir Vano.


"Hehe ayo lanjutkan pembicaraan kalian" ucap Vallen dengan wajah imutnya.


"Kami akan berbicara nanti" kata Vano sembari mengelus rambut istrinya.


"Bicaralah tidak masalah" ujar Vallen.

__ADS_1


"Tidak, kita bisa,,,"


Takk!!!


"Bicara!!" Vallen menghilangkan aura feminim nya dan seketika berganti menjadi buas.


"Va,,, Vallen" Vano pun bingung kenapa ekspresi istrinya tiba tiba berubah.


"Masih ingin diam? Katakan padaku apa rencana kalian" ujar Vallen sembari mengeluarkan seringainya.


"Pertama kami akan ke tempat persembunyian tuan Richard lalu kita kepung dari berbagai arah setelah itu tangkap hidup hidup" tutur Ethan sudah tidak tahan melihat mata tajam gadis itu.


"Oh" Vallen mengembalikan ekspresi tidak peduli nya akan sesuatu.


"Hanya oh?" Tanya Farel bingung.


Vallen mengambil apel mereka yang asa diatas meja lalu memakannya.


"Aku merasa rencana itu tidak akan sukses tapi semoga saja kalian bisa melewati nya. Ingat satu goresan tidak boleh ada di kulit suami ku" ucap Vallen.


"Jika dia tertembak aku akan membiarkan nya dihutan" goda Ethan tersenyum jail.


"Tidak akan, istrinya terlalu hebat dan pintar. Kalian jaga jaga saja nyawa sendiri" sindir Vallen balik.


"Siapa bilang kau akan ikut? Diam disini" saut Vano langsung.


"Tidak mau sayang aku harus ikut"


"Tidak!!"


"Aku marah!!"


"Marah saja lagipula ini untuk kebaikan mu"


Vallen memanyunkan bibirnya karena Vano tidak berefek apapun. Dia memang tegas dalam segala hal termasuk mendisiplinkan istrinya.


"Sayang dengar aku baik baik, dua malam ini kau, Sarah, Zea, dan Rifka beserta seluruh keluarga kita akan berpindah tempat kerumah keluarga Ferrero, untuk apa? Untuk melindungi kalian semua jadi bersenang-senanglah dirumah mu nanti" tutur Vano menjelaskan istrinya baik baik.


"Tapi kau,,,"


"Jangan pikirkan aku, aku akan baik-baik saja selama kau menjadi penurut"


Vallen tetap saja khawatir dengan Vano, lawannya bukan orang biasa melainkan orang yang sudah hafal seluk beluk keluarga ini.


"Baiklah tapi kau tidak boleh terluka, janji?"


"Janji"


Aku hidup atau mati aku tidak peduli asal penderitaan kita terhenti sampai disini. Batin Vano


***

__ADS_1


satu dulu


__ADS_2