Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 180


__ADS_3

Sedangkan diperjalanan Vino sadar beberapa detik yang lalu bahwa mobil mereka hanya ada 7 sekarang, dia melihat depan belakang dan memastikan banyak mobil tersebut.


"Satu mobil lagi kemana?" Tanya Vino.


"Mungkin tertinggal dibelakang tuan, jalanan sempat macet tadi jadi mereka tersalip mobil lain" jawab supir.


Vino mengernyitkan dahi mendengar jawaban tidak masuk akal supir nya, jika memang ada masalah pasti akan ada berita otomatis didalam mobil itu.


"Apa kita turun dulu untuk memastikan anak-anak?" Tanya Vira khawatir.


"Baiklah pak berhenti dulu"


"Tuan beberapa meter lagi kita akan sampai dirumah Ferrero apa sebaiknya masuk dulu, maaf tuan besar tapi tuan muda Vano melarang kami menurunkan anda di sembarangan tempat"


"Baiklah cepat masuk kedalam gerbang lalu pastikan mobil siapa yang tertinggal" ujar Vino.


"Baik tuan besar"


Ketujuh mobil sudah berjejer rapi dihalaman rumah David dan Bela, Vino dan Vira segera keluar dari dalam mobil dan memeriksa siapa yang tertinggal.


Setelah semuanya keluar Vino tertegun sejenak melihat seluruh isi mobil tidak ada putri putri kecilnya.


"Vallen dimana!!" Ujar Vino membuka satu persatu pintu mobil.


"Bukankah mereka ada didepan mu tadi" saut Andre heran.


"Iya tapi mobil mereka menghilang secara tiba-tiba" kata Vino memijit pelipisnya.


"Tuan dan nyonya Salvatrucha kenapa kalian masih diluar ayo masuk" ajak David didampingi oleh Bela.


"Sebentar tuan Ferrero mobil yang ditumpangi oleh Vallen menghilang" ujar Vino.


"Hi,,, hilang? Bagaimana bisa?" Tanya David mulai panik.


"Tuan apa yang terjadi? Kenapa putri ku bisa hilang"


"Sebentar"


Vino mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Vano.


"Vano apa Vallen kembali kerumah"

__ADS_1


"Apa maksudnya abi, Vallen pergi dengan kalian" jawab Vano langsung panik.


Dorr!!!


Satu peluru menancap ditubuh salah satu pengawal rumah Ferrero.


"Vallen hilang, cari dia abi akan melindungi mereka disini,jaga dirimu baik-baik" ucap Vino langsung memutuskan sambungan.


"Cepat masuk kedalam!!" Titah Vino mengawasi sekitar rumah.


"Tapi bagaimana dengan Vallen"


"Akan ku jelaskan nanti, masuk David!!" Titah Vino sekali lagi.


"Kalian juga" Vino menunjuk Vira, Lina, Zoya, dan Rifka.


David segera membawa para wanita kedalam rumah yang sudah disiapkan pelindung darurat dirumahnya.


"Kemungkinan besar ini memang sudah direncanakan, hati hati ada penembak disebelah sana" bisik Vino dengan menggunakan lirikan menunjuk beberapa orang di luar gerbang.


"Kita serang mereka?"


"Jangan! Tujuan kita kemari hanya untuk bersembunyi sehingga tidak membawa senjata apapun, itu artinya kau akan bunuh diri jika menyerangnya" jawab Vino.


Vino menempelkan ponselnya ditelinga dengan santai seolah-olah tidak ada yang terjadi.


"Abi kau ingat pistol yang kita bawa waktu melamar Vallen?" Tanya Vano.


"Mm" suara dingin Vino terdengar cukup mengerikan dikuping Vano.


"Pistol ku, Farel, dan Ethan adalah asli, waktu itu kami melempar nya kebawah sofa ruang keluarga"


"Sangat membantu" ujar Vino, dia tidak heran jika Vano tau keadaan rumah Ferrero karena seluruh penjuru rumah itu telah ditempelkan kamera pengintai yang terhubung langsung dengan ponsel pria tersebut.


"Maaf Abi Vano belum bisa kesana"


"Cari istrimu secepat mungkin!!"


"Baik abi"


Vino menutup ponselnya dan langsung menutup gerbang rumah setelah memerintahkan pengawal lain membawa korban yang terkena peluru tadi, dia berlari lari kecil masuk kedalam bersama Faris dan Andre.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya David.


"Dirumah mu ada senjata tajam?" Tanya Vino balik.


"Tidak" jawab David cepat.


Vino berjalan ke arah ruang keluarga, dia menyusuri penjuru sofa untuk mencari pistol yang dikatakan Vano tadi.


"Ada?" Tanya Andre.


"Tiga pistol mainan dan tiga lagi pistol sungguhan" jawab Vino.


"Taktik penyerangan kita seperti ini,,,,"


Vino membisikkan taktik dadakan yang baru saja ia buat didalam pikirannya, otak jahatnya masih mampu merencanakan sesuatu yang licik juga.


Setelah memberitahu rencana mereka, Vino memanggil David untuk masuk kedalam ruang keluarga.


"Kau mengerti?" Tanya Vino.


David menganggukkan kepala lalu keluar mengambil barang barang yang dibutuhkan.


Beberapa saat kemudian ketiganya keluar dengan senjata mainan ditangan masing-masing, terlihat bunuh diri memang tapi dibalik itu pasti ada kejutan besar.


Saat pintu gerbang terbuka lebar beberapa senapan sudah mengarah ditubuh mereka, bidikan pun tepat didada mereka masing-masing.


Dor!! Dor!! Dor!!!


Saat mereka fokus dengan mangsa didepan, di roof top rumah Ferrero Vino, Andre, dan Faris kompak melesatkan peluru di organ pital mata mata itu.


Seketika para penembak tadi tumbang dan membuat banjir darah segar di atas aspal, mereka langsung pingsan akibat peluru sekaligus obat bius didalamnya.


Flashback on


"Taktik penyerangan kita seperti ini, lepaskan pakaian ini dan berikan pada pengawal. Mereka akan keluar dari gerbang untuk mengalihkan perhatian para mata mata, sekitar lima detik setelah keluar gerbang langsung tembak dari roof top rumah" tutur Vino.


"Rencana yang bagus" saut Faris.


"David bisa minta tolong berikan kami pakaian yang bisa dipakai?"


"Tentu"

__ADS_1


David pergi mengambilkan pakaian dan memberikannya pada ketiga orang itu, mereka berganti pakaian dengan para pengawal lalu menjalankan aksi masing-masing.


Flashback off


__ADS_2